Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Waspada Osteoporosis, Cegah Patah Tulang Berulang Sejak Dini
Dok. Siloam Hospital
  • Osteoporosis sering tanpa gejala; satu dari tiga perempuan di atas 50 tahun berisiko patah tulang. Riwayat patah tulang akibat kerapuhan meningkatkan risiko kejadian berulang, terutama dalam satu-dua tahun.

  • Siloam Hospitals Mampang mengembangkan Fracture Liaison Service untuk mengidentifikasi pasien berisiko, mengevaluasi osteoporosis, memberi edukasi, serta mengarahkan penanganan dan tindak lanjut pascapatah tulang.

  • Rumah sakit juga menyediakan tujuh program skrining tulang dan sendi, serta edukasi publik dengan pemeriksaan kepadatan tulang gratis bagi lebih dari 200 pengunjung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Siloam Hospitals Mampang mengembangkan Fracture Liaison Service dan tujuh program skrining untuk mengidentifikasi risiko osteoporosis, mencegah patah tulang berulang, serta mendeteksi gangguan tulang, sendi, dan fungsi gerak.
  • Who?
    Siloam Hospitals Mampang, dr. Wahyuni Dian Purwati, dr. Dohar A.L. Tobing, International Osteoporosis Foundation, serta masyarakat yang berisiko atau memiliki riwayat patah tulang akibat kerapuhan terlibat dalam inisiatif ini.
  • Where?
    Layanan Fracture Liaison Service dan program skrining dikembangkan di Siloam Hospitals Mampang. Kegiatan edukasi publik berlangsung di Fountain Atrium, Grand Indonesia.
  • When?
    Kegiatan “Timeless Music, Timeless Movement” dijadwalkan pada Jumat, 30 Oktober 2026, dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Sedunia. Pengembangan layanan FLS sedang berada pada tahap awal dengan status NEW FLS.
  • Why?
    Osteoporosis kerap tidak menimbulkan gejala hingga terjadi patah tulang. Orang yang pernah mengalami patah tulang akibat kerapuhan memiliki risiko lebih tinggi mengalami patah berikutnya, terutama satu hingga dua tahun setelah kejadian pertama.
  • How?
    Pasien diidentifikasi berdasarkan riwayat patah tulang, dievaluasi risiko osteoporosinya, lalu diarahkan ke edukasi, penanganan, dan tindak lanjut. Skrining mencakup BMD, rontgen, MRI, USG, konsultasi spesialis, serta pemeriksaan komunitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tulang bisa jadi rapuh tanpa terasa, lalu mudah patah. Ini namanya osteoporosis. Orang yang pernah patah tulang bisa lebih mudah patah lagi. Siloam Hospitals Mampang punya layanan untuk memeriksa tulang dan membantu pasien. Mereka juga mengadakan cek kepadatan tulang gratis untuk lebih dari 200 orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kehadiran layanan tindak lanjut yang terstruktur dan beragam skrining memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenali risiko kesehatan tulang lebih awal. Edukasi publik serta pemeriksaan kepadatan tulang gratis juga memperluas akses terhadap informasi dan evaluasi awal, sehingga perhatian pada tulang, sendi, dan fungsi gerak dapat menjadi bagian dari upaya menjaga aktivitas sehari-hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Osteoporosis sering datang tanpa gejala yang jelas. Banyak orang baru menyadarinya setelah mengalami patah tulang.

International Osteoporosis Foundation (IOF) menyebut satu dari tiga perempuan di atas 50 tahun berisiko patah tulang akibat osteoporosis. Risiko ini membuat deteksi dini jadi sangat penting.

Tak perlu khawatir, Ma, kini ada layanan yang lebih terstruktur untuk mencegah patah tulang berulang dengan berbagai skrining kesehatan terkini.

Yuk, simak penjelasan selengkapnya dalam ulasan yang sudah Popmama.com rangkumkan berikut ini.

1. Kenali risiko yang mungkin terjadi

Dok. Siloam Hospital

Patah tulang akibat kerapuhan bukan sekadar kejadian yang selesai setelah tindakan medis.

Menurut IOF, seseorang yang pernah mengalami patah tulang akibat kerapuhan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami patah tulang berikutnya, terutama dalam satu hingga dua tahun setelah kejadian pertama.

Itulaj mengapa tindak lanjut pascapatah tulang menjadi bagian penting dari upaya pencegahan yang tidak boleh diabaikan.

Siloam Hospital Mampang memperkuat dengan kehadiran Fracture Liaison Service (FLS) sebagai pendekatan layanan terkoordinasi untuk mengidentifikasi pasien dengan riwayat patah tulang akibat kerapuhan, mengevaluasi risiko osteoporosis, serta mengarahkan penanganan dan tindak lanjut yang sesuai.

Dr. dr. Wahyuni Dian Purwati, Sp.EM, Hospital Director Siloam Hospitals Mampang, menyampaikan bahwa penanganan pasien patah tulang tidak seharusnya berhenti ketika tindakan medis selesai dan pasien diperbolehkan pulang.

"Melalui pengembangan Fracture Liaison Service, kami ingin membangun proses tindak lanjut yang lebih terstruktur, mulai dari identifikasi pasien berisiko, evaluasi osteoporosis, hingga edukasi dan penanganan lanjutan. Tujuan ini agar pasien tidak hanya pulih dari patah tulang pertama, tetapi juga mendapatkan perhatian yang tepat untuk mengurangi risiko patah tulang berikutnya," ujar dr. Wahyuni.

Siloam Hospitals Mampang dalam peta global Capture the Fracture® dengan status NEW FLS (Blue Star) menandai tahap awal pengembangan layanan tersebut sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas praktik secara bertahap.

2. Pesan dokter terkait gejala osteoporosis

Dok. Siloam Hospital

Osteoporosis biasanya berkembang tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang. Pada tulang belakang, patah tulang akibat kerapuhan bahkan dapat luput dikenali karena keluhannya tidak selalu berupa nyeri berat.

dr. Dohar A.L. Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K), Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang Konsultan, Siloam Hospitals Mampang, menbenarkan bahwa osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala sampai seseorang mengalami patah tulang.

"Pada tulang belakang, tanda-tandanya bahkan bisa berupa penurunan tinggi badan atau perubahan postur yang dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Padahal, kondisi ini dapat dikenali dan ditangani lebih awal. Itulah pentingnya memahami faktor risikonya dan berkonsultasi mengenai pemeriksaan yang tepat sebelum terjadi patah tulang," pesan dr. Dohar.

Pesan ini kemudian menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menganggap remeh perubahan postur atau tinggi badan yang terjadi seiring bertambahnya usia.

3. Tujuh program skinring untuk kesehatan tulang

Dok. Siloam Hospital

Selain memperkuat pencegahan patah tulang berulang melalui FLS, Siloam Hospitals Mampang mengembangkan tujuh program skrining dan pemeriksaan untuk membantu masyarakat mengenali gangguan tulang, sendi, dan fungsi gerak lebih awal.

Program tersebut mencakup Skrining Osteoporosis melalui pemeriksaan kepadatan tulang (BMD) dan konsultasi dokter orthopaedi, Skrining Osteoartritis Lutut melalui rontgen dan konsultasi dokter subspesialis panggul dan lutut dengan opsi MRI sesuai kebutuhan klinis, Skrining Nyeri Punggung Bawah melalui rontgen, MRI lumbal, dan konsultasi dokter subspesialis tulang belakang sesuai indikasi, serta Skrining Nyeri Bahu melalui rontgen, USG, dan konsultasi dokter subspesialis bahu dan siku sesuai indikasi.

Ada pula Skrining Kaki dan Pergelangan Kaki melalui rontgen dan konsultasi dokter subspesialis terkait, Active Life MCU berupa pemeriksaan kesehatan bagi individu aktif dan pegiat olahraga, serta Skrining Berbasis Komunitas yang mencakup kegiatan skrining skoliosis dan bunion bersama mitra komunitas.

Layanan orthopaedi bukan hanya sebagai tempat untuk datang ketika mengalami cedera atau membutuhkan operasi. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan lebih awal untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi.

Melalui program skrining, edukasi, dan layanan yang lebih terintegrasi, diharapkan dapat membantu masyarakat tetap aktif dan mempertahankan kualitas hidupnya lebih lama.

4. Edukasi publik lewat "Timeless Music, Timeless Movement"

Dok. Siloam Hospital

Komitmen tersebut diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan "Timeless Music, Timeless Movement" pada Jumat, (30/10/2026) di Fountain Atrium, Grand Indonesia, dalam rangka peringatan Hari Osteoporosis Sedunia.

Kegiatan ini menargetkan lebih dari 200 pengunjung untuk mendapatkan edukasi kesehatan tulang serta pemeriksaan kepadatan tulang gratis.

Inisiatif ini juga sejalan dengan kampanye global IOF tahun 2026, "Build, Protect, Strengthen Your Bones for Life", yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang sepanjang kehidupan.

Para peserta kegiatan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan berdasarkan hasil skrining dapat diarahkan untuk berkonsultasi sesuai kondisi dan kebutuhan klinis masing-masing.

Menjaga kesehatan tulang adalah investasi jangka panjang yang perlu dimulai sejak dini. Dengan deteksi dini dan layanan yang terstruktur, kita bisa tetap aktif dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.

Jangan tunggu sampai patah tulang terjadi, ya, Ma!

Editorial Team

Related Article