Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Bukan Sombong, Ini Beda Percaya Diri dan Narsisme Menurut Psikolog
Instagram.com/beautyfest.asia
  • Setiap manusia memiliki sisi narsistik, dan itu wajar selama berada di level yang seimbang.

  • Empati adalah pembeda utama antara confidence yang sehat dengan perilaku narsistik yang berlebihan.

  • Mengenali ciri narcissistic personality disorder (NPD) penting agar bisa menjaga batasan dalam hubungan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Takut dianggap sombong saat mulai percaya diri adalah dilema yang banyak dirasakan, terutama di era media sosial ketika semua orang berlomba menampilkan versi terbaik dirinya.

Padahal, ada batas yang cukup jelas antara rasa percaya diri yang sehat dengan perilaku narsistik, dan memahami perbedaannya justru penting untuk kesehatan mental.

Topik ini dibahas secara mendalam oleh Joe Irene, M.Psi., Psikolog Klinis, dalam sesi talkshow bertena "Curhat Anonymous: Confidence vs Narcissism" di BeautyFest Asia Jakarta 2026, yang berlangsung pada, Jumat (29/52026) di Mall Kota Kasablanka.

Berikut Popmama.com telah merangkum poin-poin penting dari sesi tersebut untuk membantu memahami di mana letak perbedaan keduanya.

Yuk, disimak!

1. Setiap orang punya sisi narsistik, dan itu normal

Instagram.com/beautyfest.asia

Banyak yang langsung merasa tersinggung saat dikaitkan dengan kata "narsis." Padahal menurut Joe Irene, memiliki sisi narsistik bukan sesuatu yang perlu ditakuti, karena itu bagian alami dari manusia.

"Setiap manusia pasti ada narsisnya. Itu justru baru jadi masalah kalau orang itu nggak ada narsisnya sama sekali. Narsis yang sehat itu perlu ada di dalam diri kita," ujar Joe Irene.

Artinya, ingin merasa benar, ingin diapresiasi, atau merasa mampu dalam suatu hal adalah hal yang manusiawi. Bagian yang membedakan adalah seberapa jauh rasa itu mendominasi cara seseorang berpikir dan berinteraksi dengan orang lain.

2. Percaya diri yang sehat selalu disertai empati

Instagram.com/beautyfest.asia

Tidak sedikit orang yang bingung membedakan mana yang percaya diri dan mana yang narsistik, karena keduanya bisa terlihat serupa dari luar. Joe Irene menegaskan bahwa kuncinya ada pada empati dan cara seseorang menjalin relasi.

"Narsis yang sehat itu percaya dirinya wajar, nggak terlalu rendah, nggak terlalu tinggi. Lalu ada yang namanya empati, kemampuan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Jadi walaupun kita pede, kita tetap bisa merasakan. Dan yang paling kelihatan adalah dalam relasinya," kata Joe Irene.

Seseorang yang benar-benar percaya diri tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih baik. Kemampuan untuk tetap hadir secara emosional bagi orang-orang di sekitarnya menjadi tanda bahwa confidence itu tumbuh dari tempat yang sehat.

3. NPD bukan sekadar "terlalu percaya diri"

Instagram.com/beautyfest.asia

Narcissistic personality disorder atau NPD sering disalahpahami sebagai versi ekstrem dari rasa percaya diri biasa. Padahal secara klinis, NPD adalah kondisi yang sudah menjadi bagian dari kepribadian seseorang dan muncul hampir di setiap situasi.

"Kalau NPD, empatinya ekstrim. Kalau sampai ada orang mengkritik, langsung alergi, langsung muncul reaksi menjauh. Tapi itu bukan disengaja, terjadi di bawah sadar. Empatinya rendah dan relasinya tidak stabil," ungkap Joe Irene.

Berbeda dengan rasa narsis yang wajar, individu dengan NPD cenderung merasa selalu paling benar, sulit menerima kritik, dan kerap membuat orang-orang terdekatnya merasa kecil tanpa disadari.

4. Orang terdekat sering jadi yang paling merasakan dampaknya

Instagram.com/beautyfest.asia

Salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari seseorang dengan NPD adalah dampak yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya, bukan oleh dirinya sendiri. Joe Irene menjelaskan bahwa mereka yang paling terpapar biasanya adalah pasangan atau anggota keluarga terdekat.

"Orang yang berhubungan dengan NPD sering merasa, sebelum kenal orang ini aku tidak pernah merasa selalu salah. Tapi sekarang aku selalu merasa kecil. Itu yang sering datang ke ruang konseling," tambah Joe Irene.

Pola ini bisa berlangsung lama tanpa disadari, karena individu dengan NPD kerap membungkus perilakunya dengan bahasa yang tampak wajar. Mengenali polanya sejak awal menjadi langkah penting sebelum hubungan semakin menguras energi emosional.

5. Menjaga batasan adalah kunci saat berhadapan dengan perilaku narsistik

Instagram.com/beautyfest.asia

Berurusan dengan seseorang yang menunjukkan perilaku narsistik tinggi, baik di lingkungan kerja maupun dalam hubungan, membutuhkan strategi yang tenang dan konsisten. Joe Irene menekankan pentingnya menetapkan batasan yang jelas tanpa terbawa emosi.

"Kalau mau stay for ourselves, kita perlu punya batasan. Jangan terlalu membawa dramanya, tetap tenang dan netral. Kalau terlalu over explaining, kita justru bisa masuk ke dalam manipulasinya," tutup Joe Irene.

Selain itu, mendokumentasikan setiap interaksi penting, misalnya melalui pesan tertulis atau email, juga disarankan sebagai langkah praktis untuk melindungi diri. Meminta dukungan dari rekan terpercaya atau profesional juga bisa menjadi bagian dari strategi yang lebih sehat dalam jangka panjang.

Itulah lima hal penting soal perbedaan percaya diri dan narsisme yang dibahas Joe Irene sebagai psikolog dalam sesi talkshow BeautyFest Asia Jakarta 2026.

Editorial Team

Related Article