Semasa hidupnya, Kartini banyak menulis surat yang membahas soal cinta dan hubungan. Surat-suratnya tersebut kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang tersedia dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Melayu, bukunya berjudul 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.
Surat-surat itu menjadi curahan hati Kartini tentang apa yang ia rasakan dan alami tentang cinta. Berikut merupakan beberapa kutipan dari surat-surat Kartini, antara lain.
Cinta! Apa yang kita ketahui tentang cinta? Bagaimana kita dapat mencintai seorang pria yang tak pernah kita kenal sebelumnya? Bagaimana pria itu dapat mencintai kita? Tentu saja mustahil. Perempuan dan laki-laki muda dipisahkan, dan tak pernah diizinkan untuk berjumpa. (Jepara, 25 Mei 1899)
Bagaimana mungkin seorang pria dan wanita dapat mencintai satu dengan yang lain ketika baru berjumpa pertama kali dalam kehidupan ini setelah mereka terikat dalam pernikahan? (Jepara, 6 November 1899)
Saya tak akan pernah, tak akan pernah jatuh cinta. Mencintai, pertama-tama membutuhkan rasa hormat; dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa muda. Bagaimana saya menghormati seseorang yang telah menikah dan menjadi seorang ayah, dan yang telah memiliki istri yang telah melahirkan anak-anaknya, membawa perempuan lain ke dalam rumahnya? (Jepara, 6 November 1899)
Itulah beberapa fakta kisah cinta Kartini yang mengharukan. Karakter Kartini begitu inspiratif bagi ya, Ma.
Kematian Kartini karena apa? | RA Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904 di usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat. Penyebab utamanya diduga kuat adalah preeklampsia, sebuah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kerusakan organ. |
Apakah Putra Kartini masih hidup? | Soesalit meninggal dunia pada 1962 dan dimakamkan di kompleks makam R.A. Kartini dan keluarganya di Desa Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang. |
RA Kartini dikuburkan di mana? | Makam RA Kartini di Mantingan Rembang |