Yuk Ma, Budayakan Ngemil Bareng Anak agar Bonding Makin Erat

94% orangtua mengandalkan camilan untuk menghibur anak-anaknya selama pandemi

14 Januari 2021

Yuk Ma, Budayakan Ngemil Bareng Anak agar Bonding Makin Erat
Unsplash/Adeolu Eletu

Pandemi masih berlangsung. Suka ataupun tidak kita harus tetap di rumah. Karena semua protokol kesehatan dan pembatasan menyelamatkanmu paling tidak dari paparan penyakit membingungkan ini. 

Kurang bahagia tentunya "ya", terlebih anak-anak. Sulit sekali membuatnya melupakan bertanya kepadamu kapan sekolah masuk normal? Kapan liburan ke tempat wisata? Jawabannya hanya, "sedang ada penyakit nak!"

Diambil dari penelitian yang dilakukan Mondelez terhadap respondenya, Popmama.com punya info penting tentang ngemil nih Ma, yang katanya mampu membuat kebahagiaan di masa pandemi. Apa iya? Simak ya. 

1. Ngemil menjadi lebih spontan dan bervariatif

1. Ngemil menjadi lebih spontan bervariatif
Freepik/User18526052

Dilansir dari konferensi pers Survei The State of Snacking Mondelez International, yang dilakukan Mondelez pada Selasa (12/1), terdapat hasil survei bahwa setiap individu saat ini berusaha mencari kenyamanan saat menikmati camilannya. 

Hal ini memengaruhi pemilihan waktu ngemil yang menjadi lebih spontan dan bervariatif. 60% hasil menyatakan bahwa jadwal ngemil mereka menjadi lebih tidak terencana dan berbeda-beda setiap harinya. 

Yang pasti lebih banyak masyarakat Indonesia yang mengonsumsi makanan ringan untuk mencari kenyamanan di tahun ini (71%), dibandingkan dengan data pada tahun lalu (64%). 

Apakah kamu demikian Ma? Memang sih di masa pandemi seperti ini kita mencari ketenangan dan kebahagiaan dengan cara apapun salah satunya ngemil ya. 

2. Ngemil orang Indonesia lebih tinggi dibandingkan masyarakat rata-rata global selama pandemi Covid-19

2. Ngemil orang Indonesia lebih tinggi dibandingkan masyarakat rata-rata global selama pandemi Covid-19
Dok.Mondelez Indonesia

Survei ini juga mendapati bahwa 60% orang Indonesia lebih tinggi tingkat ngemilnya dari rata-rata global.

Masyarakat Indonesia sendiri rata-rata mengonsumsi 3x makanan ringan per hari, yang melebihi jumlah rata-rata global. 

Bahkan di negeri ini, ngemil juga dianggap menjadi hal yang sangat penting selama pandemi. 

Editors' Picks

3. Menjadi sumber kebahagiaan dan kedekatan keluarga selama pandemi

3. Menjadi sumber kebahagiaan kedekatan keluarga selama pandemi
parents.com

Penelitian yang digagas Mondelez guna mempelajari kebiasaan konsumen dan mencari berbagai pemahaman baru tentang camilan ini, memberikan hasil sebanyak 84 % responden yang merasa camilan merupakan salah satu sumber kebahagiaan mereka. 

Mengenai manfaatnya sendiri bagi keluarga, didapati 94% orangtua mengandalkan camilan untuk menghibur anak-anaknya selama pandemi. Bahkan, 77% orangtua telah menjadikan kebiasaan ngemil sebagai tradisi baru bagi keluarga.

Menanggapi temuan itu, Peneliti dan Pengamat Sosial Devie Rahmawati menjelaskan, dalam konteks masyarakat Indonesia, kebiasaan ngemil memang sudah menjadi bagian dari tradisi sejak dulu.

"Kebutuhan masyarakat Indonesia akan makanan (camilan) tidak hanya menjadi kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi kekuatan sosiologis dalam membangun konektivitas sosial, serta membantu mengendalikan suasana hati di kehidupan sehari-hari, bahkan meredakan tingkat stres yang timbul akibat suasana yang tidak menentu, seperti pandemi,” jelas Devie yang juga hadir dalam konferensi pers.

Salah satu yang merasakan camilan efektif digunakan untuk mengatasi kebosanan dan mendekatkan bonding terhadap anak-anaknya adalah artis dan pembawa acara Novita Angie. 

"Selama masa  pandemi orangtua dituntut menjadi lebih kreatif, karena ruang gerak anggota keluarga menjadi terbatas, terutama anak-anak yang cepat bosan. Oleh karena itu, camilan bisa menjadi medium untuk menghibur, sekaligus juga untuk melengkapi momen kebersamaan keluarga,” tutur Novita

4. Akan menjadi kebiasaan baru usai pandemi

4. Akan menjadi kebiasaan baru usai pandemi
freepik.com/pressfoto

8 dari 10 orang percaya bahwa cara menikmati camilan akan berubah selamanya, bahkan setelah pandemi berakhir.

69% responden percaya akan menjadi bagian dari kebiasaan baru di new normal. Bahkan, 3 dari 4 orang Indonesia yang diteliti memperkirakan tren ini akan terus berlanjut dan berencana untuk lebih memilih makan camilan sepanjang hari, dibandingkan makanan berat.

5. Pergeseran pembelian camilan dari yang dulunya offline menuju ke online buying

5. Pergeseran pembelian camilan dari dulu offline menuju ke online buying
Pixabay/StockSnap

Terakhir survei ini juga telah mengungkap adanya jumlah transaksi camilan secara online meningkat 33%, dibandingkan sebelum pandemi.

75% merasa lebih aman dan nyaman dengan membeli camilan secara online. Dalam hal menemukan jenis camilan baru, media sosial menempati pilihan teratas yang dipilih oleh 54% responden.

Hasil ini membuktikan bagaimana pandemi mampu merubah kebiasaan kita untuk pergi ke toko secara langsung menjadi membeli secara online, media sosial maupun e-commerce.

6. Masyarakat harus menjadi lebih bijak dalam ngemil

6. Masyarakat harus menjadi lebih bijak dalam ngemil
Unsplash/Anshu A

Memang pandemi meningkatkan intensitas ngemil yang sebenarnya memang sudah menjadi budaya di negara ini. Karena itu masyarakat harus lebih sadar dan fokus dalam ngemil dan menentukan camilan yang mereka makan. 

Terutama saat mereka menikmatinya dalam kesendirian di rumah, masih dari survei yang sama sebanyak 67% menyatakan lebih sering menikmati camilan sendirian, dibandingkan sebelumnya. Pengamat sosial Devie Rahmawati juga mengatakan bahwa harus adanya kontrol sewaktu mengemil. 

"Selain masyarakat sekarang harus lebih sadar mengenai camilan yang dikonsumsi, begitu juga intensitas dan takaran ngemil. Ngemil langsung dari kemasan dan ngemil dari toples (camilan yang sudah diletakkan di toples sebelumnya) akan berbeda. Pasti kamu akan menghabiskan langsung yang dari kemasan. Kalau dari toples kamu bisa lihat sudah sebanyak apa kamu makan itu," pungkasnya menjawab pertanyaan awak media. 

Adapun dalam penelitian itu juga mengemukakan mengenai kesadaran masyarakat, 66% responden merasa lebih fokus dengan camilan yang mereka konsumsi dan merasa lebih sadar untuk mencari camilan yang sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. 

Bahkan, mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk memahami camilan tersebut (bagaimana aromanya, teksturnya dan rasanya).

Oke ngemil itu memang baik Ma, tapi baiknya juga dilakukan dengan sadar dan benar ya Ma. Segala yang berlebihan tak baik Ma! 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.