Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Raihaanun Ajarkan Anaknya untuk Selektif, Jangan Takut Tak Diterima
Instagram.com/raihaanun
  • Raihaanun menilai nasihat agar tidak pilih-pilih teman harus dipahami bijak. Anak tetap terbuka dan baik kepada orang lain, sambil mempertimbangkan pengaruh serta menjaga diri.

  • Raihaanun menyebut teman sebagai lingkaran kedua setelah keluarga yang memengaruhi pola pikir dan keputusan. Orangtua perlu mengajarkan keramahan tanpa mengabaikan selektivitas dalam kedekatan.

  • Raihaanun mengajarkan anak tidak mengikuti ajakan kelompok hanya karena takut ditolak, terutama bila bertentangan dengan prinsip atau berpotensi merugikan diri sendiri dan orang lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memilih lingkungan pertemanan yang tepat menjadi salah satu hal penting dalam membentuk karakter dan pola pikir anak. Aktris Raihaanun membagikan pandangannya mengenai hal tersebut saat hadir dalam podcast Suara Berkelas.

Di usianya yang kini menginjak 38 tahun, Raihaanun menilai nasihat tentang berteman yang kerap disampaikan sejak dahulu perlu dipahami secara lebih utuh. Menurutnya, mengajarkan anak untuk tidak pilih-pilih teman bukan berarti mereka harus menerima semua pengaruh tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Sebagai seorang mama, Raihaanun ingin anak-anaknya tetap bersikap baik kepada siapa pun, tetapi mampu menentukan batasan dalam pergaulan. Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk mengikuti prinsip diri sendiri tanpa merasa harus diterima oleh setiap kelompok pertemanan.

Berikut Popmama.com rangkum tiga poin dari Raihaanun ajarkan anaknya untuk selektif.

1. Nasihat untuk tidak pilih-pilih teman perlu dipahami dengan bijak

Youtube.com/SUARA BERKELAS

Raihaanun mengingat bahwa orang-orang yang lebih tua dahulu kerap memberikan nasihat agar seseorang tidak pilih-pilih dalam berteman. Namun, menurutnya, nasihat tersebut perlu disertai penjelasan agar anak tidak mengartikannya sebagai kewajiban untuk menerima semua orang tanpa mempertimbangkan pengaruhnya.

Ia menilai anak perlu memahami bahwa bersikap terbuka kepada orang lain tetap harus diimbangi dengan kemampuan menjaga diri. Dengan begitu, anak dapat belajar membedakan antara memperlakukan orang lain dengan baik dan memilih orang yang tepat untuk menjadi teman dekat.

2. Teman menjadi lingkaran kedua setelah keluarga

Instagram.com/raihaanun

Menurut Raihaanun, lingkungan pertemanan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan. Oke karena itu, orangtua perlu membantu anak memahami bahwa orang-orang di sekitarnya dapat turut membentuk nilai dan sikap yang mereka bawa hingga dewasa.

“Bagaimana juga, teman itu adalah lingkaran kedua setelah keluarga yang akan membentuk pola pikir, yang akan membentuk keputusan besar kecilnya ya dari pertemanan,” ungkap Raihaanun dalam podcast Suara Berkelas.

Meski demikian, bersikap selektif bukan berarti anak harus bersikap dingin atau menjauhi orang lain. Raihaanun menegaskan bahwa keramahan dan kesopanan tetap perlu diberikan kepada siapa saja, sementara kedekatan dalam pertemanan perlu dipertimbangkan dengan bijak.

“Berbuat baik memang sama siapa pun, ramah, sopan, nggak ada ukurannya harus berbuat baik. Tapi untuk selektif itu perlu,” tuturnya.

3. Jangan mengikuti sesuatu hanya karena takut tidak diterima

Youtube.com/SUARA BERKELAS

Raihaanun juga mengajarkan anak-anaknya agar tidak memaksakan diri mengikuti perilaku atau keputusan kelompok hanya demi mendapatkan pengakuan. Menurutnya, anak perlu memiliki keberanian untuk menolak ajakan yang bertentangan dengan prinsip atau berpotensi membawa dampak buruk.

Ia mengingatkan bahwa keinginan untuk diterima oleh teman sebaya terkadang membuat seseorang mengabaikan pertimbangan pribadi. Oleh karena itu, anak perlu belajar mendengarkan naluri sekaligus menilai apakah suatu tindakan aman dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Berbuat baik kepada siapa pun, tapi jangan karena kamu takut tidak diterima di circle pertemanan kamu. Kalau naluri dan firasat kamu merasa itu sesuatu hal yang akan merugikan diri kamu dan orang lain, ya jangan dijalani,” tegas Raihaanun.

Pandangan Raihaanun dalam podcast Suara Berkelas menunjukkan bahwa mengajarkan anak tentang pertemanan bukan hanya soal bersikap ramah dan mudah bergaul. Anak juga perlu dibekali keberanian untuk menetapkan batasan, mempertahankan prinsip, dan memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhannya.

Itulah rangkuman pandangan Raihaanun tentang cara mengajarkan anak agar selektif dalam berteman.

Pada akhirnya, anak tidak harus diterima oleh semua orang untuk merasa berharga, selama mereka belajar menghargai orang lain tanpa mengabaikan keselamatan dan prinsip dirinya sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article