Bagaimana Hukum Bertunangan dalam Agama Islam?

Tunangan juga bisa jadi ajang saling mengenal satu sama lain lho!

6 Desember 2021

Bagaimana Hukum Bertunangan dalam Agama Islam
Pexels/Iryna Kostsenich

Kesiapan dalam memutuskan menikah mesti dijalani kedua calon tunangan, baik dari pihak laki-laki dan perempuan. Sebelum sah menikah, baisanya memang akan melakukan pertunangan terlebih dahulu.

Tunangan atau tukar cincin memang sudah lumrah terjadi di Indonesia. Ini sebagai bentuk janji seorang laki-laki untuk meminang calon tunangannya.

Namun, sebagian orang pasti bertanya apakah hukumnya tunangan dalam ajaran agama Islam? Apakah boleh pertunangan dibatalkan oleh salah satu pihak?

Untuk menjawab hal tersebut, mari simak beberapa penjelasan yang sudah Popmama.com rangkum di bawah ini. Yuk, disimak sampai akhir!

Hukum Tunangan dalam Agama Islam

Hukum Tunangan dalam Agama Islam
Pixabay/NicholasDeloitteMedia

Menurut sebagian besar ulama, seperti dilansir dari Dalam Islam, tunangan dikategorikan sebagai persiapan atau pendahuluan sebelum menikah dan melakukan khitbah.

Seorang laki-laki datang ke rumah seorang perempuan untuk mengikat sebelum menikah. Perlu dikatehui bahwa hukum tunangan dalam agama Islam adalah mubah atau boleh.

Hal ini sesuai hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, karena tunangan hanya mengetahui kerelaan dari pihak perempuan yang dipinang. Sekaligus janji bahwa seorang laki-laki akan menikahi perempuan tersebut.

Berikut arti dalam sebuah hadis:

“Jika di antara kalian hendak meminang seorang perempuan, dan mampu untuk melihat darinya apa-apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.”

Editors' Picks

Bagaimana Hukumnya Memberi Hadiah atau Cincin Padahal Belum Menikah?

Bagaimana Hukum Memberi Hadiah atau Cincin Padahal Belum Menikah
Freepik/freepic.diller

Acara pertunangan pasti ada acara tukar cincin, namun apakah hal tersebut boleh dilakukan? Pasalnya keduanya belum menikah.

Sebetulnya, tukar cincin atau memberi hadiah kepada tunangannya boleh-boleh saja dilakukan. Namun, jika kemudian hari pihak laki-laki membatalkan pertunangan, maka ia tidak boleh mengambil kembali pemberiannya.

Hal tersebut sesuai dengan perkataan Rasulullah SAW dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi sebagai berikut:

“Tidak halal bagi seorang muslim memberi sesuatu kepada orang lain kemudian memintanya kembali, kecuali pemberian ayah kepada anaknya.”

Bagaimana Hukumnya Jika Membatalkan Sebuah Pertunangan?

Bagaimana Hukum Jika Membatalkan Sebuah Pertunangan
weddingbee.com

Setiap pasangan yang sudah bertunangan pasti ingin kehidupannya lancar sampai akhirnya menikah. Namun, bagaimana jika ditengah jalan pertunangan batal?

Berdasarkan hal tersebut, sebetulnya pertunangan bisa diputuskan atau dibatalkan oleh salah satu pihak karena konflik keluarga misalnya.

Jika pertunangan yang sudah dilakukan dibatalkan oleh pihak perempuan, maka ada baiknya mahar yang telah diberikan oleh laki-laki dikembalikan.

Begitu juga dengan laki-laki, ketika ia sudah berjanji pada seorang perempuan, sebaiknya memenuhi janjinya tersebut.

Hal ini sesuai dalam firman Allah Surat Al-Isra ayat 34 yang artinya: “… Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya.”

Adakah Jarak Tunangan ke Pernikahan?

Adakah Jarak Tunangan ke Pernikahan
Freepik/javi_indy

Menjawab pertanyaan di atas, seperti dilansir dari Bincang Syariah, dalam Islam sendiri, tidak ada jarak waktu khusus antara pertunangan ke pernikahan.

Jarak antara waktu pertunangan ke pernikahan semuanya dikembalikan pada kesiapan dan kesepakatan bersama calon laki-laki dan perempuan.

Hal ini karena salah satu tujuan dari pertunangan, yakni agar bisa saling mengenal terlebih dahulu. Jika sudah cocok, maka bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Malahan, Rasulullah SAW berpesan bahwa jika keduanya sudah sudah cocok dan siap lahir batin, maka bersegeralah menikah.

“Rasulullah SAW bersabda pada kami; Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia bisa menjadi penekan nafsu.”

Nah, itu tadi beberapa informasi terkait pertunangan yang bisa jadi acuan karena tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Pertunangan ini bisa jadi ajang saling mengenal satu sama lain menuju ke jenjang pernikahan.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.