Dok. BASE Entertainment Indonesia
Para pemain di film Esok Tanpa Ibu juga benar-benar menunjukkan karakternya, sehingga tampak natural dan nyata, seperti karakter Laras yang diperankan Dian Sastrowardoyo. Karakter yang diperankannya itu betul-betul menampilkan sosok mama yang selalu hadir untuk anaknya.
Bukan sekadar hadir, tetapi juga menjadi pendengar yang baik bagi anak. Chemistry yang dibangun Dian Sastrowardoyo dengan Ali Fikry juga terasa begitu dekat.
Kemudian, ada Ringgo Agus Rahman yang berhasil memerankan karakter Hendi sebagai sosok papa di film itu. Momen canggung serta perdebatannya dengan Ali Fikry yang menjadi Cimot itu seolah-olah mirip dengan kerenggangan hubungan antara anak dan papa di dunia nyata. Memang tak bisa dipungkiri, sosok Ringgo sebagai seorang papa memang pas untuk dirinya.
Terakhir, Ali yang memerankan karakter Cimot, anak remaja yang sedang tumbuh dan mengalami banyak proses itu juga tak kalah unggul dari para pemain senior lainnya. Ali yang berperan sebagai anak usia remaja berhasil menunjukkan layaknya ABG pada umumnya, di mana kebanyakan dari anak usia tersebut mengalami lonjakan emosi dan masih labil.
Perannya di film yang kehilangan sosok mama sekaligus teman pendengar, Ali berhasil mengeksekusi letupan emosi yang dirasakannya tanpa terasa berlebihan kepada Ringgo sebagai lawan mainnya. Lewat dialognya, aktor muda ini juga mampu memberikan gestur tubuh serta ekspresi wajah yang pas, terutama ketika dirinya sedang merasa terpuruk akibat kehilangan orang yang disayanginya.
Dinamika emosi yang dimainkan Ali ini terasa naik-turun. Rasanya, Ali benar-benar berhasil menghidupkan potret nyata remaja yang sedang berjuang mencari pegangan di tengah badai duka yang menghantam keluarganya.
Kemudian, cara Ali melempar beberapa dialog ke Ringgo sebagai Hendi ada yang terdengar ketus, bahkan sikapnya yang tidak peduli dengan kehadiran Hendi di rumah membuat karakter Cimot betul-betul hidup dalam dirinya.
Walau di kehidupan nyata, hubungan Ali dan Ringgo terlihat bagaikan seorang anak dan papa, tapi di film berkata lain. Chemistry yang dibangun keduanya di dalam film terasa begitu canggung dan renggang, sehingga sulit untuk mengatakan kalau mereka mungkin akan bisa dekat satu sama lain.