Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu, Sukses Bikin Terharu

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia
Intinya sih...
  • Film ini mengajak para papa untuk membangun ikatan batin dengan anak, seolah menunjukkan bahwa validasi serta kasih sayang seorang papa itu penting bagi ketahanan mental keluarga.
  • Orangtua perlu peka dalam mendengar suara hati serta memahami perasaan anak agar anak merasa nyaman untuk bercerita.
  • Anak perlu merenungkan kembali kedalaman bakti kepada orangtua, walau tidak memiliki kedekatan emosional dengan orangtua.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mulai 22 Januari 2026, film Esok Tanpa Ibu sudah tayang di seluruh bioskop Indonesia, lho. Film keluarga yang mengisahkan tentang seorang anak remaja bernama Rama atau Cimot ini memiliki hubungan yang tidak dekat dengan sang papa, Hendi. Berbeda dengan mamanya, Laras, Cimot justru mempunyai chemistry dengannya.

Awalnya, hubungan keluarga mereka bisa tenang karena ada sosok Laras. Namun, setelah Laras pergi meninggalkan keduanya, hubungan Cimot dengan Hendi malah semakin memburuk.

Film yang mungkin relate dengan kamu karena adanya dinamika dalam hubungan keluarga, seperti yang dialami Cimot atau Hendi, sepertinya wajib untuk kamu tonton. Sebab, film ini memberikan banyak pelajaran keluarga yang bisa kamu petik.

Berbicara soal pelajaran keluarga, kali ini Popmama.com akan membagikan pelajaran keluarga di film Esok Tanpa Ibu.

Yuk, kita simak apa saja!

Kumpulan Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu

1. Perlu adanya bonding antara papa dan anak

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia

Hal pertama yang diajarkan dalam film Esok Tanpa Ibu ialah pentingnya bonding antara seorang papa dan anak. Dikisahkan bahwa Hendi selaku papanya Cimot itu tidak memiliki ikatan batin yang cukup kuat dengan Cimot sehingga tidak tumbuh chemistry di antara keduanya. Bukan harmonis, justru hubungan keduanya lebih sering ke arah perselisihan.

Hadirnya Laras, seorang mama sekaligus istri, menjadi penengah jika Hendi mulai emosi terhadap Cimot, maupun sebaliknya. Sosok Laras juga sering kali mendengarkan cerita serta ikut merasakan apa pun yang dirasakan Cimot. Hal ini lah yang membuat Cimot lebih dekat dengan sang mama, tapi memiliki gap dengan papanya.

Namun, Laras sendiri kerap meminta Hendi agar bisa berinteraksi dengan anaknya itu. Bukan tanpa alasan, Laras ingin melihat suami dan anaknya itu bisa memiliki ikatan kuat, sehingga mereka saling mengerti dan nyaman satu sama lain. 

Ketika Laras ‘pergi’ meninggalkan keluarga kecilnya itu, kerenggangan dari hubungan antara papa dan anak ini semakin melebar. Untuk itu, Hendi sebagai papa perlu membangun ikatan batin dengan Cimot, karena kehadiran fisik itu tak cukup membuat seorang anak bahagia. 

Film Esok Tanpa Ibu juga mengajak para papa di luar sana untuk meruntuhkan tembok ego dan mulai terlibat aktif dalam dunia anak-anak, seolah menunjukkan bahwa validasi serta kasih sayang seorang papa itu menjadi pilar penting bagi ketahanan mental keluarga.

Bonding tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendasar agar setiap anggota keluarga merasa didengar, dihargai, dan memiliki tempat untuk pulang secara emosional.

2. Orangtua bisa menjadi pendengar yang baik serta memahami perspektif anak

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia

Tak hanya sekadar membangun ikatan, seorang papa juga perlu aware dengan kondisi mental yang tengah dialami anggota keluarga, termasuk anak. Seperti contoh, Cimot putus cinta karena hubungan asmara dengan sang kekasih itu telah putus. Anak remaja yang bisa dikatakan emosinya masih labil, perlu adanya arahan dari kedua orangtua, bukan dari pihak mamanya saja.

Dikarenakan merasa galau, Cimot akhirnya lebih banyak diam, bahkan ia sampai meminum suplemen anti-kecemasan dengan tujuan membangkitkan rasa semangatnya lagi. Laras yang mengetahui hal tersebut langsung menasihatinya agar tidak meminum suplemen tersebut lagi. Jika sedang ada masalah, baiknya menceritakan kepada orangtua.

Laras yang mengetahui keluh kesah yang dialami Cimot itu bukan malah menyalahkannya, melainkan bisa ikut mengerti serta validasi perasaannya. Bahkan, ia selalu menyemangatinya.

Beda halnya dengan Hendi, komunikasinya yang buruk membuat Hendi sulit bahkan gagal dalam memahami perasaan anaknya. Ketika Cimot menggantikan sosok Laras dengan program AI bernama i-BU, Hendi melarang dan selalu memperdebatkannya dengan Cimot. Hal ini disebabkan karena Cimot menjadi tak acuh dengan kehadiran Hendi hingga berani bohong.

Padahal, sebenarnya Cimot hanya merasa rindu dengan Laras. Sosok mama yang selalu memahaminya itu telah tiada dan pada akhirnya Cimot merasa tak punya lagi tempat untuk bercerita di rumahnya. Kondisi mentalnya yang sedang terpuruk akibat rasa kehilangan membuatnya berani menentang ucapan Hendi.

Jika seandainya Hendi bisa mengerti serta memvalidasi perasaan Cimot, mungkin saja Cimot bisa mengikhlaskan kepergian Laras dan tak berniat untuk membuat i-BU karena ada sosok Hendi yang siap mendengarkan perasaannya.

Dengan begitu, film ini mengajarkan bahwa orangtua perlu peka dalam mendengar suara hati serta memahami perasaan anak. Jika perasaan yang disampaikan seorang anak tidak bisa tervalidasi dengan baik, anak akan merasa orangtua bukanlah tempat yang nyaman untuk bercerita. 

3. Tidak semestinya anak bersikap tidak acuh terhadap orangtua

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia

Jika sebelumnya mengambil pelajaran dari perspektif orangtua ke anak, kini dilihat dari perspektif anak ke orangtua. Dalam film Esok Tanpa Ibu, Cimot hanya ingin berinteraksi dengan mamanya. Walau beberapa kali berinteraksi dengan papanya, tapi interaksi itu hanya sebatas karena ‘butuh’ saja.

Terlebih, ia seolah bersikap tak acuh dengan kehadiran dan ucapan dari papanya. Niat papanya itu pun sebenarnya baik, cuman cara ia mengekspresikan narasinya saja yang mungkin tidak enak didengar. Namun, bukan berarti perlakuan Cimot ke papanya itu bisa dinormalisasikan, ya.

Perlakuan Cimot ini bisa menjadi tamparan keras sekaligus cermin bagi setiap anak untuk merenungkan kembali kedalaman bakti kepada orangtua, terutama bagi mereka yang tidak punya kedekatan secara emosional dengan seorang papa.

Walau anak tidak memiliki kedekatan secara emosional dengan orangtua, tapi tidak seharusnya anak cuek bahkan membantah ucapan orangtua. Orangtua bukan hanya merasa tidak dihargai, tetapi bisa juga sakit hati dengan perlakuan anak yang seperti itu.

Kalau pun ada perlakuan atau narasi yang kurang mengenakkan dari orangtua, sebaiknya anak membicarakannya dengan pikiran dingin dan hati tenang agar isi hatinya bisa tersalurkan dengan baik.

4. Anak bisa lebih terbuka terhadap kedua orangtua

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia

Sepanjang film, Cimot hanya bisa menumpahkan seluruh isi hati, mulai dari keluh kesah hingga momen-momen menyenangkan kepada mamanya saja. Bahkan, setelah mamanya sudah tiada, Cimot lebih memilih berinteraksi dengan sosok i-BU yang menyerupai mamanya ketimbang dengan papanya.

Melihat Cimot yang lebih memilih berinteraksi dengan i-BU, membuat Hendi merasa kehadirannya tidak dihargai. Padahal, Hendi sudah berusaha untuk membangun kedekatan dengan Cimot usai istrinya meninggal dunia.

Hal ini menunjukkan bahwa Cimot tidak bisa terbuka terhadap kedua orangtuanya. Sekali pun mamanya telah meninggal dunia dan di keluarganya hanya tersisa papanya saja, lebih baik ia membuat AI dengan wujud Laras dan menceritakan segala hal dengannya.

Pelajaran yang bisa kita petik dari momen ini supaya anak bisa lebih terbuka dan jujur soal perasaan yang tengah dialaminya kepada orangtua. Dengan begitu, anak dan orangtua bisa menjalankan hubungan dengan sehat dan penuh kejujuran. 

Namun, dengan catatan bahwa orangtua tak bisa asal menghakimi perasaan seorang anak. Lewat dinamika tiap karakternya, kita diingatkan kalau ternyata kunci agar anak bisa lebih terbuka itu bukan hanya soal keberanian anak untuk bercerita, tapi juga tentang bagaimana orangtua menciptakan ruang aman yang tidak menghakimi.

Ketika komunikasi tidak lagi didasari oleh penghakiman, maka anak akan merasa divalidasi dan lebih berani mengungkapkan isi hati maupun kerapuhan mereka tanpa rasa takut.

Bagi anak yang merasa kesulitan untuk terbuka terhadap orangtuanya itu dikarenakan sering mengalami respons negatif, tak ingin orangtua kecewa atau khawatir, atau mungkin prinsip yang dijalankan tidak sejalan dengan orangtuanya.

Jika anak bisa terbuka dan jujur kepada orangtuanya, emosi anak akan menjadi stabil, terhindar dari gangguan mental, hingga terhindar dari perilaku negatif. Seperti contohnya, Cimot yang berusaha untuk kembali semangat secara instan dengan mengambil jalan keluar meminum suplemen yang sebenarnya tidak dianjurkan oleh mamanya.

Dengan menciptakan atmosfer yang suportif, hubungan antara orangtua dan anak dapat bertransformasi menjadi ikatan yang lebih transparan, di mana setiap rahasia dan beban dapat dibagi dengan penuh kasih sayang.

5. Tidak menggantikan sosok keluarga dengan teknologi AI

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia

Kemudian, hal yang bisa kita jadikan sebuah pelajaran dari film Esok Tanpa Ibu ialah tak semua permasalahan hidup bisa selesai hanya menggunakan teknologi. Seperti Cimot yang merasa terpuruk karena mamanya jatuh koma dan meninggal dunia, kemudian ia meminta bantuan temannya, Zyla, untuk membuat AI bernama i-BU untuk menggantikan peran mamanya.

Sesuatu yang dibutuhkan Cimot sebenarnya hanyalah sosok pendengar. Pendengar yang bisa memvalidasi perasaannya saja. Namun, karena ia berpikir hanya mamanya saja yang bisa mengerti keadaannya, makanya ia sampai kelewat batas membuat i-BU.

Awalnya, hadirnya i-BU mungkin membantu Cimot merasa lebih tenang. Tapi, lama-kelamaan membuat Cimot tidak peduli dengan sosok papanya dan lebih mendengarkan apa kata AI tersebut. Bahkan, Cimot kini mengabaikan nasihat mamanya untuk tidak mengonsumsi suplemen dan justru lebih memercayai rekomendasi dari AI yang menyuruhnya untuk meminum.

i-BU mungkin punya semua jawaban di database miliknya, tapi ia tak punya empati, memori kolektif, terutama insting kasih sayang yang bisa membuat sebuah keluarga menjadi utuh.

Pelajaran berharga yang dipetik dari film ini adalah bahwa teknologi seharusnya hadir sebagai alat bantu, bukan sebagai pelarian dari rasa duka atau pengganti kehadiran fisik. Mencoba menghidupkan kembali sosok Laras sebagai mama melalui program AI hanya akan menciptakan ilusi kedekatan yang semu dan justru menghambat proses penyembuhan emosional yang sehat.

6. Bisa ikhlas atas kepergian anggota keluarga

6 Pelajaran Keluarga di Film Esok Tanpa Ibu
Dok. BASE Entertainment Indonesia

Hal terakhir yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah bisa mengikhlaskan kepergian dari anggota keluarga. Seperti halnya pada Laras yang memang sudah jatuh sakit dan meninggal dunia, kemudian digantikan dengan program AI, i-BU, yang memiliki wujud serupa dengannya.

Interaksi Cimot dengan i-BU pun terlihat sering. Namun, ketika i-BU dipaksa ambil oleh Hendi, Cimot langsung merasakan perasaan sedih yang amat mendalam sehingga menunjukkan bahwa Cimot belum bisa merelakan kepergiannya.

Momen inilah yang membuat film ini mengajak penonton untuk menempuh perjalanan spiritual menuju keikhlasan. Melepaskan sosok tercinta memang menyakitkan, tapi memaksakan kehadirannya melalui simulasi digital justru sering kali menghambat proses penyembuhan luka batin dan menjebak seseorang dalam penyangkalan yang semu.

Pelajaran terpenting yang dipetik adalah bahwa menghargai kepergian merupakan bentuk penghormatan tertinggi, di mana seseorang belajar untuk menyimpan kenangan indah di dalam hati, bukan di dalam mesin, demi melanjutkan hidup dengan penuh keteguhan.

Itulah pelajaran keluarga di film Esok Tanpa Ibu. Film ini memberikan kita gambaran bahwa pentingnya komunikasi serta empati antara anggota keluarga. Jangan lupa untuk menontonnya di bioskop terdekat, ya.

FAQ Film Esok Tanpa Ibu

Apa kisah dari film Esok Tanpa Ibu?

Film Esok Tanpa Ibu mengisahkan tentang seorang remaja bernama Rama atau Cimot yang sangat dekat dengan mamanya, Laras. Namun, hubungannya dengan sang papa, Hendi, tidak harmonis. Saat liburan keluarga, Laras mengalami kecelakaan otak dan koma, memaksa Rama menghadapi kesepian. Dengan bantuan teman, Rama menggunakan AI bernama i-Bu yang meniru suara dan kepribadian mamanya untuk mengatasi duka.

Apa tema dari film Esok Tanpa Ibu?

Tema film ini mengangkat tentang isu hubungan keluarga, kehilangan, serta dilema etis AI dalam menggantikan kasih sayang manusia.

Siapa saja pemeran dari film Esok Tanpa Ibu?

Dian Sastrowardoyo sebagai Laras dan i-BU (mama dan AI), Ringgo Agus Rahman sebagai Hendi (papa), Ali Fikry sebagai Rama atau Cimot, Aisha Nurra Datau sebagai Zyla, dan Bima Sena sebagai Robert.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dimas Prasetyo
EditorDimas Prasetyo
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Aman Urus Visa Jelang Liburan, Perhatikan Dokumen dan Waktu Pengajuan

23 Jan 2026, 10:13 WIBLife