7 Tanda Bahaya Masa Nifas yang Perlu Diwaspadai

Jangan abaikan munculnya tanda bahaya masa nifas ini, Ma!

16 Maret 2019

7 Tanda Bahaya Masa Nifas Perlu Diwaspadai
Freepik

Setelah melewati masa persalinan, bukan berarti lantas risiko masalah kesehatan yang Mama alami akan menghilang begitu saja. Memasuki masa nifas, tetap ada beberapa masalah yang bisa Mama alami.

Masa nifas adalah periode waktu sekitar 4-6 minggu setelah melahirkan. Di waktu ini, wajar terjadi perdarahan dari vagina yang mirip seperti saat Mama haid.

Namun demikian, ada beberapa kondisi lain di masa nifas yang juga perlu Mama waspadai. Sebab jika diabaikan juga bisa berbahaya, Ma. Berikut Popmama.com rangkum tanda-tanda bahaya masa nifas tersebut:

1. Perdarahan berlebihan

1. Perdarahan berlebihan
Pexels/Vanessa Ramirez

Seperti disebutkan sebelumnya, perdarahan umum terjadi pada masa nifas. Namun jika perdarahan yang terjadi berlebihan, misalnya jika Mama sampai perlu mengganti pembalut lebih dari satu kali per jam.

Waspadai juga apabila kondisi ini disertai dengan tanda bahaya lain, seperti pusing dan detak jantung menjadi tidak teratur.

Terlebih jika perdarahan berlebihan ini mulai terjadi sekitar 1-2 minggu setelah melahirkan, kondisi ini bisa terjadi karena mungkin ada sisa plasenta yang tertinggal di dalam rahim.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan tindakan medis segera dari dokter. Setiap perdarahan berat yang terjadi di masa nifas harus selalu dilaporkan kepada dokter.

2. Infeksi rahim

2. Infeksi rahim
Freepik/Bearfotos

Normalnya plasenta akan terpisah dari dinding rahim selama persalinan dan keluar dari vagina dalam waktu sekitar 10-20 menit sesudahnya. Apabila sisa-sisa plasenta masih tetap berada di dalam rahim, kondisi ini bisa memicu terjadinya infeksi.

Tertinggalnya sisa plasenta di dalam rahim setelah melahirkan disebut sebagai retained placenta. Apabila infeksi rahim sampai terjadi, gejalanya yakni demam tinggi, denyut jantung lebih cepat, nyeri di area perut bawah, serta keluar cairan berbau tidak sedap dari vagina.

Infeksi rahim biasanya memerlukan pengobatan berup terapi antibiotik intravena, yang digunakan untuk mencegah komplikasi yang berpotensi berbahaya seperti syok toksik.

3. Sakit kepala tak tertahankan

3. Sakit kepala tak tertahankan
Pixabay/RobinHiggins

Sakit kepala yang hebat dan pusing pada masa nifas, terlebih jika disertai dengan mual, penglihatan yang terganggu, serta bengkak di pergelangan kaki.

Ini bisa menjadi tanda terjadinya preeklampsia postpartum. Preeklampsia postpartum biasanya ditandai dengan beberapa tanda khas, di antaranya tekanan darah yang menjadi lebih tinggi daripada biasanya, serta ada kelebihan jumlah protein dalam urine, yakni sekitar lebih dari 300 mg.

Dalam kebanyakan kasus, preeklampsia postpartum terjadi dalam rentang waktu antara 48-72 jam setelah melahirkan. Namun dalam beberapa kasus tertentu, kondisi ini bisa muncul sampai enam minggu setelah melahirkan.

Selain itu, beberapa ahli juga menduga kuat bahwa preeklampsia postpartum mungkin merupakan akibat dari perubahan pada lapisan pembuluh darah saat Mama hamil, yang disebabkan oleh faktor genetik atau kondisi lingkungan tertentu.

Editors' Picks

4. Gangguan buang air kecil

4. Gangguan buang air kecil
Pexels/Rawpixel.com

Pada Mama yang melahirkan secara normal, salah satu tanda bahaya dan masalah yang rentan terjadi di masa nifas adalah gangguan buang air kecil. Salah satunya inkontinensia urine.

Kondisi ini terjadi ketika ada sebagian urine yang tidak sengaja keluar dan tak terkendali saat Mama tertawa, batuk atau bersin. Hal ini terjadi biasanya disebabkan oleh peregangan pangkal kandung kemih selama kehamilan dan persalinan.

Sewajarnya seiring berjalan waktu fungsi otot di area ini akan kembali menjadi normal. Namun bisa juga terjadi sebaliknya.

Perhatikan juga jika Mama mengalami rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil. Ini bisa menjadi tanda terjadi infeksi kandung kemih atau infeksi saluran kemih. Bergantung gejala yang dialami, masalah ini bisa menjadi tanda dehidrasi.

Segera konsultasikan ke dokter jika Mama curiga mengalaminya, ya!

Baca juga: Cara Mengurangi Sering Buang Air Kecil Saat Hamil

5. Sedih terus-terusan dan merasa depresi

5. Sedih terus-terusan merasa depresi
Pexels/Pixabay

Perubahan kadar hormon dalam tubuh, yang dibarengi dengan setumpuk tanggungjawab merawat bayi yang baru lahir, berisiko membuat Mama merasa kewalahan.

Jika umumnya kondisi ini akan hilang dalam hitungan hari atau minggu, namun jika terus terjadi dan justru bertumbuh menjadi muncul rasa marah, panik dan depresi, waspadai tanda depresi pascamelahirkan, Ma.

Kondisi ini bisa terjadi dalam kurun waktu hingga 3 bulan setelah melahirkan, disebabkan oleh kurang tidur, pergeseran kadar hormon dan rasa sakit fisik yang dialami.

Jika tidak diatasi dengan baik, depresi ini juga bisa berujung pada rasa marah dengan bayi, bahkan ada pikiran untuk bunuh diri dan melakukan tindakan kekerasan akibat halusinasi.

6. Sesak napas dan nyeri dada

6. Sesak napas nyeri dada
Pexels/Rawpixel.com

Perhatikan juga kondisi napas Mama di masa nifas. Apabila tampak seperti sesak napas, serta nyeri dada, maka ini bisa menjadi pertanda emboli paru. Emboli paru terjadi ketika aliran darah di paru-paru tersumbat, Ma.

Kemungkinan hal ini terjadi karena adanya penggumpalan darah di area tersebut. Jika diabaikan, emboli paru juga bisa sampai mengancam nyawa Mama. Jangan tunda untuk cek ke dokter apabila Mama mengalaminya.

7. Nyeri dan bengkak di betis

7. Nyeri bengkak betis
Freepik/Pressfoto

Apabila terjadi pembengkakkan di betis, kemudian disertai dengan adanya nyeri hebat, cek ke dokter untuk memeriksa adanya kemungkinan deep vein thrombosis (DVT), Ma.

Ini merupakan kondisi penggumpalan darah yang terjadi di dalam tubuh. Apabila gumpalan darah ini berpindah ke bagian tubuh lain, kondisi ini juga bisa menjadi lebih parah, Ma.

Oleh sebab itu, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter jika Mama mengalami kondisi seperti disebutkan di atas.

Jangan abaikan munculnya tanda-tanda bahaya masa nifas ini ya, Ma. Pemeriksaan dan pengobatan cepat bantu kurangi risiko lanjut dari tanda bahaya tersebut.