Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
IDAI Sayangkan Sufor Masuk Program MBG, Kepala BGN buat Klarifikasi
pexels.com/Towfiqu barbhuiya
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini mencakup bayi, ibu hamil, dan menyusui, dengan tambahan susu formula sebagai bagian dari programnya.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti keputusan memasukkan susu formula dalam program MBG melalui surat terbuka kepada pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).
  • Surat IDAI menekankan pentingnya pemenuhan gizi anak serta manfaat utama pemberian ASI bagi tumbuh kembang optimal anak di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

MBG tidak hanya menyasar anak sekolah, tapi juga bayi, bumil, dan busui. Salah satu program terbarunya adalah memasukkan sufor dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tentu, hal ini menimbulkan polemik, sampai-sampai IDAI menyoroti pemilihan sufor dalam program tersebut. 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru saja menyampaikan surat terbuka untuk menyoroti program MBG. Surat tersebut ditujukan untuk para pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk ketua dan ketiga wakil Kepala BGN. 

Dalam surat tersebut dijelaskan mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada setiap anak di Indonesia dan juga menyebutkan mengenai manfaat penting dari ASI. Seperti apa isi surat terbuka itu? Popmama.com akan merangkumkannya untuk Mama. 


1. Surat yang ditujukan untuk BGN

Instagram.com/idai

Program MBG menyasar anak-anak untuk memenuhi gizi harian mereka. Harapannya, anak-anak Indonesia bisa lebih terjamin gizinya dan mengurangi angka stunting. Sehingga, tunas bangsa bisa bertumbuh dengan maksimal dan menjadi penerus bangsa yang membanggakan nantinya. 

Namun, tidak semua mimpi berjalan sesuai keinginan. Saat Indonesia sedang menggaungkan pentingnya ASI pada bayi, kini ada rencana program yang memasukkan sufor ke dalam menu bergizi bayi dan anak-anak. 

Untuk itu, IDAI pun membuat surat terbuka untuk para petinggi BGN. Di surat tersebut, tertulis nama Ketua BGN Dr. Ir. Dadan Hindayana, dan ketiga kepala BGN yaitu Nanik Sudaryati Deyang, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung. 

2. Pentingnya mengutamakan ASI

pexels.com/MART PRODUCTION

Dalam surat itu, IDAI menyoroti tentang kebijakan distribusi susu formula dalam program MBG. Menurut IDAI, program itu bisa meningkatkan risiko para ibu berhenti menyusui anaknya. Sedangkan, hal tersebut bisa menurunkan pemberian ASI pada bayi, yang selama ini angkanya masih cukup kecil di Indonesia. 

"Pak Dadan, Bu Nanik, Pak Lodewyk, Pak Sony. Kami yakin Bapak dan Ibu ingin setiap bayi dan anak Indonesia terpenuhi kebutuhan gizinya. Dan Kami yakin Bapak dan Ibu tahu, tidak ada yang bisa menggantikan manfaat utama Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi dan anak kita," tulis IDAI dalam surat terbuka itu. 

3. Menyayangkan distribusi sufor untuk bayi penerima MBG

pexels.com/Sarah Chai

Saat ini, sudah berjalan program untuk membagikan sufor untuk para bayi dan anak-anak. Tentu saja, mereka yang sudah berjuang sekuat tenaga memberikan penyuluhan dan bantuan agar ibu mau menyusui bayinya minimal 6 bulan sampai 2 tahun ini merasa perjuangannya jadi sia-sia. 

"Namun, dengan penuh hormat kami sampaikan: Kebijakan distribusi susu formula massal yang berjalan hari ini, tanpa pemeriksaan dokter dan indikasi medis, berisiko membuat ibu-ibu Indonesia berhenti menyusui. Dan begitu seorang ibu berhenti menyusui, hampir tidak ada jalan untuk kembali," tulis IDAI. 

4. Pentingnya para ibu tetap memberikan ASI pada anak-anaknya

freepik.com

ASI sangat penting untuk menjaga sistem kekebalan tubuh anak dan nutrisi yang ada di ASI tidak bisa digantikan begitu saja oleh nutrisi yang ada di sufor. 

"Di dalamnya (ASI) ada ratusan hingga ribuan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi. Zat kekebalan tubuh dari ibu. Bakteri baik untuk usus. Sinyal pertumbuhan otak. Formula adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia hari ini. Tapi tidak ada satu pun dari komponen ASI di atas yang bisa digantikan olehnya," lanjut bunyi surat itu. 

IDAI juga menekankan mengenai pentingnya ASI untuk anak-anak. Mereka mengatakan, jangan sampai kebijakan kita hari ini membuatnya kehilangan sesuatu yang penting. 

5. Peraturan distribusi sufor di Indonesia

freepik.com

Dalam surat terbuka ini, IDAI juga menjabarkan isi dari Undang-undang No. 17 Tahun 2023 dan Peraturan Pemerintah No 28 Tahun 2024 tentang pemberian formula yang hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter dan indikasi medis. IDAI juga menegaskan tentang peringatan yang sudah diberikan Kementrian Kesehatan RI mengenai distribusi formula. 

Di akhir surat, IDAI menyampaikan harapannya terkait kebijakan gizi pada anak-anak. 

"Tugas kami hanya mengingatkan. Kami berharap setiap kebijakan gizi yang ada betul-betul berpihak pada anak. Negara harus hadir sebagai pelindung, bukan perantara bagi industri yang ingin mereduksi standar gizi anak bangsa," demikian isi surat terbuka dari IDAI. 

5. Klarifikasi dari Kepala BGN

IDN Times/Ilman Nafi'an

Dadan Hindayana akhirnya menanggapi surat terbuka yang sudah terlanjur ramai di sosial media. Menurutnya, BGN tidak memberikan opsi untuk formula bayi, dan hanya membuka opsi pemberian susu formula lanjutan dan formula pertumbuhan pada MBG. 

Pembagiannya adalah, formula bayi diperuntukkan untuk bayi baru lahir hingga 6 bulan. Formula lanjutan untuk bayi berusia 6 bulan sampai 12 bulan, dan formula pertumbuhan adalah untuk balita berusia 1-3 tahun. 

Pemberian itupun, menurutnya, diberikan sesuai kebutuhan dan atas rekomendasi ahli gizi SPPG atau minimal bidan dan puskesmas terdekat. 

"Minimal bidan atau puskesmas jika ASI tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan," ujar Dadan saat dikonfirmasi. 

Untuk Kelompok Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Anak Balita, BGN membuka opsi untuk memberikan nutrisi sesuai kebutuhan berbasis hasil diagnosa di lapangan. 

"BGN sekali lagi tidak membuka opsi susu formula bayi, hanya formula lanjutan dan pertumbuhan." sangkalnya. 

Hal ini tidak memberikan perubahan besar, karena BGN tetap memasukkan formula untuk bayi berusia 6 bulan ke atas. Padahal, IDAI menyarankan untuk memberikan ASI sampai usia 2 tahun, dengan pendampingan makanan yang cukup nutrisi. 

Editorial Team