Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Kasus Keracunan Massal MBG di Anambas, Ditemukan Boraks dan Bakteri E. coli

Kasus Keracunan Massal MBG di Anambas, Ditemukan Boraks dan Bakteri E. coli
Magnific/wirestock
Intinya Sih
  • Sebanyak 162 siswa di Anambas mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis yang terbukti mengandung boraks hingga 5.000 mg/L serta bakteri berbahaya.
  • Hasil uji BPOM Batam menemukan kontaminasi E. coli dan Bacillus cereus akibat masalah higienitas dari sumber air, alat masak, hingga distribusi makanan yang memicu gejala keracunan parah.
  • Pemerintah daerah dan BGN mewajibkan SPPG Air Asuk memperbarui Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi serta meningkatkan pengawasan dan pelatihan agar keamanan pangan anak-anak lebih terjamin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap fakta di balik kasus keracunan massal yang menimpa 162 siswa di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas, pada 15 April 2026 lalu.

Menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan pada hari itu terbukti mengandung boraks dan bakteri berbahaya.

Hasil uji cepat Dinas Kesehatan setempat menunjukkan kadar boraks dalam menu telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayuran berkisar antara 100 hingga 5.000 mg/L. Sementara uji laboratorium dari BPOM Batam menemukan kontaminasi Escherichia coli (E. coli) dan Bacillus cereus.

Pemerintah daerah bersama BGN kini meningkatkan pengawasan ketat terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat, untuk memerbarui Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Untuk mengetahui informasi selengkapnya terkait kasus ini, berikut Popmama.com rangkumkan dari berbagi sumber.

1. Sorotan pada penggunaan boraks di menu seharu-hari

boraks
Magnific/jcomp

Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad, dalam paparannya menegaskan bahwa penggunaan boraks pada telur, tempe, dan sayur tidak semestinya dilakukan.

Bahan-bahan tersebut sebenarnya tidak membutuhkan tambahan pengawet kimia, karena sifatnya yang mudah diolah segar.

Terlebih fakta yang menyebutkan bahwa kandungan boraks dari hasil tes dengan kadar hingga 5.000 mg/L, menjadi pelanggaran serius dalam proses pengolahan makanan.

BGN menyoroti bahwa praktik ini berisiko tinggi terhadap kesehatan anak-anak. Paparan boraks dalam jangka pendek dapat menyebabkan mual, muntah, diare, hingga kerusakan ginjal.

Itulah mengapa pihak BGN memastikan kasus ini menjadi perhatian utama dalam evaluasi standar dapur MBG di seluruh Indonesia, agar kasus serupa tak kembali terjadi.

2. Kontaminasi bakteri berbahaya memperkuat penyebab keracunan

Laboratorium
Magnific/freepik

Selain boraks, hasil uji laboratorium BPOM Batam juga menemukan bakteri E. coli yang biasanya berasal dari kontaminasi feses, serta Bacillus cereus yang sering muncul akibat penyimpanan makanan pada suhu tidak tepat.

Kedua bakteri ini yang kemudian menjadi penyebab keracunan makanan parah dengan gejala kram perut, muntah, dan diare berkepanjangan.

Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Anambas, Sahril, menyebut penyebab pasti tercemarnya air bersih dan menu makanan di wilayah tersebut masih dalam penyelidikan.

Namun, dari hasil investigasi sementar menunjukkan adanya masalah higienitas dari hulu ke hilir, mulai dari sumber air, kebersihan alat masak, hingga proses distribusi makanan, yang memicu terjadinya keracunan.

3. SPPG wajib perbaiki sertifikasi dan tingkatkan pengawasan

Standar keamanan pangan
Magnific/freepik

BGN menegaskan bahwa operasional SPPG Air Asuk hanya bisa dilanjutkan jika seluruh standar pemenuhan gizi dan higienitas telah berhasil mereka penuhi.

Salah satu syarat mutlak yang harus dijalani adalah memerbarui Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang menjamin dapur memenuhi standar keamanan pangan.

Pemerintah daerah juga telah mengirimkan sampel menu MBG ke BPOM Batam untuk analisis lebih lanjut sejak insiden terjadi.

Sahril menekankan pentingnya peningkatan pengawasan internal di setiap SPPG, termasuk pelatihan ulih tentang pengolahan makanan bebas bahan berbahaya.

Langkah ini diharapkan mencegah terulangnya kejadian luar biasa keracunan massal yang membahayakan para penerima manfaat Program MBG, yang mayoritas adalah anak-anak.

Kasus keracunan di Anambas menjadi alarm keras bagi pengelola Program MBG di seluruh Indonesia. Keamanan pangan tidak boleh dikorbankan demi efisiensi biaya atau kurangnya pengawasan.

Orangtua dan masyarakat berhak menuntut transparansi serta jaminan bahwa makanan bergizi gratis benar-benar aman untuk anak-anak, sehingga memenuhi standar untuk kecukupan gizi hariannya.

Kita doakan bersama semoga kasus ini tak kembali terjadi pada siswa lainnya ya, Ma.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More