Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pertolongan Pertama Persalinan Darurat, Apa yang Bisa Dilakukan?
pexels.com/Tom Fisk
  • Seorang ibu melahirkan dengan selamat di Commuter Line Rangkasbitung-Tanah Abang pada 24 September 2026 berkat bantuan petugas, tenaga kesehatan, dan penumpang.

  • Persalinan darurat ditandai kontraksi kuat, ketuban pecah, dorongan mengejan tak tertahankan, atau kepala bayi terlihat; segera hubungi layanan darurat dan jangan tinggalkan ibu.

  • Orang awam perlu menjaga privasi, menyiapkan kain bersih, menopang bayi tanpa menariknya, menghangatkan bayi, serta tidak memotong tali pusar atau menarik plasenta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belum lama ini, terjadi kejadian tak terdugaseorang ibu melahirkan di dalam Commuter Line relasi Rangkasbitung-Tanah Abang Kamis, 24 September 2026.

Petugas KAI Commuter, tenaga kesehatan, dan sejumlah penumpang pun turut membantu proses persalinan hingga bayi berhasil lahir dengan selamat. Adanya kejadian ini pasti membuat kamu bertanya-tanya, kira-kira apa yang bisa dilakukan orang awam saat berada di situasi persalinan darurat?

Yuk, kenali pertolongan pertama persalinan darurat yang bisa kamu lakukan jika menemukan situasi serupa sambil menunggu bantuan tenaga medis datang.

1. Kapan persalinan sudah terlihat darurat?

pexels.com/Ivan S

Melansir C2C First Aid Aquatics, persalinan mulai terlihat mendesak ketika seseorang mengalami kontraksi yang makin kuat, ketuban pecah sesaat sebelum atau selama persalinan, dan merasakan dorongan kuat maupun tak tertahankan untuk mengejan.

Tanda darurat yang lebih jelas lagi ialah saat kepala bayi sudah mulai terlihat di lubang vagina atau disebut crowning. Pada tahap ini, bayi kemungkinan akan segera lahir dalam waktu dekat sehingga memindahkan ibu ke rumah sakit terdekat biasanya sudah tidak memungkinkan.

Jika situasi seperti ini terjadi di tempat umum, segera minta bantuan orang lain di sekitar untuk menghubungi layanan darurat. Hindari meninggalkan ibu tersebut sendirian dan jangan mencoba menghentikan atau menunda proses persalinan secara paksa.

2. Apa yang bisa dilakukan orang di sekitarnya?

pexels.com/Tom Fisk

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang awam saat membantu ibu melahirkan di tempat umum:

  1. Segera panggil bantuan medis
    Hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah segera hubungi layanan darurat. Jika ada orang lain di sekitar, tunjuk seseorang untuk melakukannya, sementara kamu fokus mendampingi ibu yang hendak melahirkan tersebut. Nantinya, petugas kesehatan juga bisa membimbing kamu dalam proses persalinan langkah demi langkah jika memang diperlukan.

  2. Beri ruang agar ibu merasa aman dan nyaman
    Jika persalinan terjadi di tempat umum, seperti kereta atau ruang publik lainnya, cobalah ciptakan tempat yang aman, tenang, dan sebisa mungkin bersih. Minta orang-orang yang tidak membantu untuk memberi ruang dan menjaga privasi ibu. Selain menjaga privasi, suasana yang lebih tenang tentunya bisa membuat ibu tersebut tidak terlalu panik saat menghadapi proses persalinan.

  3. Siapkan kain atau handuk yang bersih
    Jika tersedia, gunakan kain atau handuk bersih untuk alas dan membantu mengeringkan bayi setelah lahir. Orang yang memberikan bantuan juga sebaiknya menggunakan sarung tangan sekali pakai jika tersedia untuk mengurangi risiko infeksi, mencegah infeksi pada ibu dan bayi, serta mengurangi kontak dengan cairan ketuban.

  4. Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman
    Dampingi ibu dalam posisi yang menurutnya paling nyaman dan aman. Jika bayi sudah mulai keluar, jangan memaksa ibu berdiri atau berpindah tempat karena proses persalinan mungkin sudah berlangsung.

  5. Saat kepala bayi keluar, jangan menariknya
    Saat kepala bayi mulai keluar, jangan menarik kepala atau tubuh bayi demi mempercepat kelahiran. Cukup topang kepala bayi dengan lembut karena bayi yang baru lahir sangat licin. Setelah tubuh bayi keluar, segera keringkan menggunakan kain bersih. Jika tali pusar melilit leher bayi saat persalinan, periksa apakah tali pusar sudah longgar dan kamu bisa melepaskannya dengan hati-hati melewati kepala bayi untuk mencegah bayi tercekik. Pastikan kamu tidak menarik atau memotong tali pusar secara sembarangan, ya!

  6. Setelah bayi lahir, segera keringkan dan jaga tetap hangat
    Gunakan kain atau handuk bersih untuk mengeringkan bayi, kemudian bantu jaga tubuhnya tetap hangat sambil menunggu tenaga kesehatan datang. Jika bayi bernapas normal, tetap pantau kondisinya dan jangan meninggalkannya sendirian.

  7. Sampaikan kondisi ibu dan bayi pada tenaga medis
    Ketika petugas medis tiba, jelaskan apa yang terjadi sejak awal, termasuk kapan kontraksi mulai semakin kuat, kapan bayi lahir, kondisi pernapasan bayi, hingga tindakan apa saja yang sudah dilakukan. Informasi ini bisa membantu tenaga medis melanjutkan penanganan dengan lebih cepat.

3. Apa yang harus dilakukan setelah bayi lahir?

pexels.com/Tom Fisk

Menurut First Aid for Free, setelah bayi lahir, pegang kepala bayi sedemikian rupa sehingga cairan dapat keluar dari tenggorokan dan hidung. Kemudian, prioritaskan pernapasannya terlebih dahulu. Setelah itu, baru keringkan bayi dengan handuk bersih dan usap perlahan untuk merangsang pernapasan serta menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat. Jangan lupa bersihkan lendir dari mulut dan hidung bayi menggunakan kain bersih agar saluran napas tetap terbuka.

Jika bayi baru lahir tidak bernapas sendiri dalam menit pertama, stimulasi lembut seperti menggosok punggung atau menepuk telapak kakinya bisa mendorong mereka mengambil napas pertama. Selain itu, bayi yang bernapas biasanya akan menangis.

Selanjutnya, segera letakkan bayi bersentuhan di dada atau perut ibu untuk kontak kulit ke kulit. Kemudian, tutupi tubuh dan kepala bayi agar tetap hangat. Dalam kondisi persalinan darurat, biarkan tali pusar tetap utuh hingga tenaga kesehatan tiba dan dapat menanganinya dengan alat yang steril.

Kamu tidak perlu buru-buru memotong tali pusar, sebab menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, penundaan pemotongan ini akan memberikan waktu bagi bayi untuk menerima tambahan aliran darah dari plasenta.

4. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat persalinan darurat

pexels.com/Mitya Zotov

Dalam situasi panik, orang-orang di sekitar mungkin ingin melakukan banyak hal untuk membantu. Namun, beberapa tindakan justru bisa membahayakan ibu dan bayi. Berikut beberapa hal yang harus dihindari saat menolong orang yang hendak melahirkan:

  • Jangan mencoba menahan atau menghentikan bayi keluar. Jika proses persalinan sudah berlangsung, biarkan tubuh ibu bekerja secara alami. C2C First Aid Aquatics menyebut sebagian besar bayi dalam situasi ini lahir dengan selamat karena proses persalinan mengikuti jalur alami yang telah dipersiapkan oleh tubuh ibu.

  • Jangan mengerumuni ibu yang segera melahirkan. Selain mengganggu pertolongan, banyak orang di sekitar juga biasanya justru membuat ia makin panik.

  • Jangan menarik kepala, bahu, atau tubuh bayi saat bayi mulai keluar. Kamu hanya perlu menopangnya dengan lembut.

  • Jangan menekan perut ibu untuk membantu bayi keluar.

  • Jangan menarik tali pusar untuk mengeluarkan plasenta. Biarkan plasenta keluar secara alami sambil menunggu tenaga medis. Pasalnya, plasenta biasanya akan keluar secara alami dalam waktu 10-60 menit setelah kelahiran.

  • Tidak disarankan memotong tali pusar langsung jika tidak ada alasan medis dan tenaga kesehatan masih dalam perjalanan.

  • Jangan menggendong bayi baru lahir terbalik atau memukulnya. Sebaliknya, usap punggungnya jika ia tidak bernapas dengan benar atau menangis.

Itu dia penjelasan seputar pertolongan pertama persalinan darurat. Semoga informasi di atas bermanfaat, ya!

Referensi:

“How to Help Someone Give Birth in an Emergency: A 2026 Guide to Emergency Childbirth”. C2C First Aid Aquatics. Diakses pada September 2026.

“Emergency Childbirth”. IFRC. Diakses pada September 2026.

“First Aid for Emergency Childbirth”. First Aid for Free. Diakses pada September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article