Istri Bunuh Diri, Seorang Papa Kampanye Peduli Postpartum Psychosis

Menjadi seorang mama baru tidaklah mudah apalagi jika proses melahirkan sudah berat

16 Mei 2019

Istri Bunuh Diri, Seorang Papa Kampanye Peduli Postpartum Psychosis
Facebook.com/ Steven D'Achille

Steven D’Achille, seorang papa dari Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat akhirnya memutuskan untuk membuka sejarah kelam keluarganya. Ia mengunggah sebuah posting di halaman Facebook-nya dengan hastag #MyWishforMoms sebagai peringatan akan bahaya gangguan pasca melahirkan. Bukan hanya masalah fisik, melainkan gangguan mental yang berakibat fatal. 

Steven mengungkap istrinya, Alexis mengalami gangguan mental pasca melahirkan Adriana, anak pertamanya. Setelah berkonsultasi ke banyak dokter, Alexis malah memutuskan bunuh diri. 

Kisah Steven d’Achille ini mencuat lagi setelah Chrissy Teigen, istri penyanyi John Legend ikut kampanye tentang kesehatan mental pasca-melahirkan. 

Bagaimana kisah lengkapnya? Simak apa yang didapat Popmama.com dari berbagai sumber berita mengenai kisah ini.

1. Alexis mengalami proses persalinan yang sangat sulit

1. Alexis mengalami proses persalinan sangat sulit
PexSnap/ CC0 Lisence

Proses persalinan kadang tidak sesuai dengan rencana atau semudah yang diharapkan. Begitu pun yang dialami oleh Alexis. Sebelum bersalin, Steven bilang Alexis sangat bersemangat. Ia menyiapkan kamar bayi yang indah dengan perlengkapannya yang lengkap.

Alexis adalah istri yang ceria dan selalu penuh energi. Ia sudah membayangkan akan segera bertemu anaknya dan merancang masa depan untuk keluarganya itu.

Sayangnya, proses persalinan berlangsung sulit dan traumatik. Bayi perempuan yang kemudian diberi nama Adriana sempat tidak bernapas setelah dilahirkan. Ini membuat Alexis ketakutan dan seketika juga, ia berubah. 

“Ia menjadi pemurung dan sangat sedih,” kata Steven mengenang peristiwa yang terjadi pada akhir tahun 2013 itu.

2. Alexis tidak bisa bonding dengan bayinya

2. Alexis tidak bisa bonding bayinya
Pixabay/Kimpton_house

Pulang ke rumah bukan membuat Alexis pulih. Masalahnya terlihat semakin menjadi-jadi. Ia selalu menangis dan mengeluh tidak bisa melakukan apa pun. Bahkan, ia akan membiarkan bayinya menangis keras karena kelaparan, bukan segera memberinya susu. 

“Saya selalu melihat Alexis menangis. Ia akan mengunci diri di kamar, tidur di lantai, dan yang dilakukan hanyalah menangis. Saya segera tahu ada masalah, lalu kami berusaha mencari bantuan,” ungkap Steven.

3. Dokter bilang Alexis baby blues, ternyata bukan

3. Dokter bilang Alexis baby blues, ternyata bukan
Freepik/ijeab

Dokter yang ditemui keluarga ini kemudian mendiagnosis Alexis terkena baby blues. Dokter menjelaskan bahwa gejala ini akan segera sembuh setelah hormon di tubuh Alexis kembali seimbang. Dokter selalu berusaha menenangkan keluarga ini dan memberikan obat-obatan untuk mengendalikan masalah hormonnya.
“Kami datang ke tujuh dokter, psikolog, dan lembaga bantuan kesehatan, dan semua orang mengatakan Alexis baby blues dan akan segera pulih,” kata Steven. 

Nyatanya, setelah beberapa waktu mengonsumsi obat dan menjalankan saran dokter, Alexis tidak kunjung membaik. Kondisinya semakin buruk dan ia semakin tenggelam di dalam kesedihan tak berujung.  Dalam hati Steven, ia tahu istrinya mengalami hal lain namun semua dokter berusaha menenangkannya. Sebagai orang awam, Steven percaya dan membagi konsentrasinya untuk mengasuh bayinya. 

Sementara Alexis mengatakan kepada Steven, bahwa sejak ia minum semua obat dari dokter, perasaannya malah memburuk.

Editors' Picks

4. Alexis bilang kepada dokter bahwa ia ingin bunuh diri

4. Alexis bilang kepada dokter bahwa ia ingin bunuh diri
Pixnio/photo_collections

Di hari peringatan ulang tahun perkawinan Steven dan Alexis, sang Istri meminta suaminya mengantarnya ke dokter. 

“Ia bilang bahwa ia mendengar suara yang menyuruhnya bunuh diri. Dan ia bilang sudah merencanakan kematiannya,” cerita Steven. 

Tentu saja Steven panik. Ia segera membawa istrinya ke dokter. Setelah melakukan konsultasi, Alexis terlihat lebih tenang. Dokter membisikan sesuatu kepada Stven, “Saya ingat dokter bilang, ‘istri Anda akan segera membaik begitu sampai rumah. Jangan khawatir’”. Tentu saja, Steven percaya apalagi ia melihat Alexis sedikit tersenyum.

5. Alexis benar-benar bunuh diri

5. Alexis benar-benar bunuh diri
commons.wikimedia.org

Keesokan hari, pagi-pagi benar, Steven terbangun karena mendengar bayinya menangis keras. Ia melihat Alexis tidak ada di sampingnya. “Perasaan saya langsung memburuk! Sesuatu telah terjadi dan agaknya ini sangat buruk,” pikir Steven. Ia segera mencari Alexis di lantai bawah dan benar, ia menemukan sang Istri bunuh diri.

“Dunia terasa hancur, berhari-hari saya menyesali diri. Saya marah karena percaya sama dokter, saya merasa tidak berdaya untuk menolong istri saya padahal ia sudah minta pertolongan. Saya menangis berhari-hari sampai akhirnya muncul kesadaran bahwa pengalaman saya tidak boleh terjadi pada keluarga yang lain,” katanya.

6. Steven memutuskan untuk menggugah kepedulian lewat kampanyenya

6. Steven memutuskan menggugah kepedulian lewat kampanyenya
Facebook.com/ Steven D'Achille

Akhirnya, Steven tahu apa yang terjadi pada Alexis. Ia menemukan istrinya terkena post-partum psychosis yang menyebabkan gangguan mental. Penderita psychosis akan mengalami halusinasi dan delusi. Kebanyakan penderitanya memang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Meski kejadian itu sangat langka, namun Steven khawatir itu akan memakan banyak korban. 

“Bukan hanya Mama yang mengalami dampaknya. Seluruh keluarga: suami, anak-anak, famili, kerabat, dan orang yang mengenal akan mengalami dampak buruk dari gangguan ini. Anak saya bukan satu-satunya yang tak punya ibu dan saya tidak sendirian kehilangan istri karena bunuh diri. Saya ingin memperbaiki keadaan,” kata Steven. 

Berangkat dari kepeduliannya itu, Steven mendirikan organisasi The Alexis Joy Foundation. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk organisasi itu. Ia bekerja sama dengan banyak organisasi yang lebih besar untuk melakukan kampanye #MyWishforMoms. Kampanye itu menggugah pengetahuan dan kepedulian masyarakat akan masalah gangguan mental yang muncul setelah seorang Mama melahirkan. 

“Gangguan mental pasca persalinan banyak jenisnya. Dari baby blues, depresi, anxiety (kecemasan), psikosis, dan obsesive compulsive. Ada yang memang bisa disembuhkan, namun banyak yang tidak bisa sembuh karena orang terdekat tidak memahami kondisi ini. Itu sebabnya saya ingin mengedukasi sebanyak-banyaknya masyarakat tentang hal ini,” katanya.

Apa itu Postpartum Psychosis

Postpartum Psychosis adalah gangguan mental langka yang terjadi pada 2 orang dari 1.000 mama baru setiap tahun. Gejala gangguan biasanya mulai terlihat sekitar 2 minggu setelah melahirkan. Gangguan ini tidak tergantung pada usia mama, status sosial, dan hal lainnya. Meski termasuk gangguan yang bisa disembuhkan, namun seringkali membuat penderitanya terjerumus dalam bahaya fatal.

Ciri mama yang mengalami postpartum psychosis:

  • Mengalami delusi atau kepercayaan yang aneh,
  • mengalami halusinasi,
  • mendengar suara-suara aneh di dalam kepalanya,
  • merasa sangat kesal, 
  • menjadi sulit tidur bahkan bisa tidak tidur sama sekali, 
  • paranoid,
  • mengalami perubahan mood yang parah, 
  • mengalami kesulitan berkomunikasi. 

Jika Mama menemukan teman atau mama mengalami sendiri hal ini, segeralah minta bantuan ke psikiater. Postpartum psychosis bisa disembuhkan namun harus sabar dan tepat.

Baca juga: 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!