Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Freepik
Freepik

Intinya sih...

  • Perkiraan tanggal konsepsi yang kurang tepat dapat menyebabkan keguguran palsu.

  • Keterbatasan pemeriksaan USG di awal kehamilan seringkali menimbulkan dilema bagi dokter dan Mama.

  • Perdarahan awal kehamilan tidak selalu berarti keguguran.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Keguguran merupakan kondisi ketika kehamilan berakhir sebelum usia 20 minggu. Biasanya, kondisi ini diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Namun, pada kehamilan yang masih sangat dini, hasil USG tidak selalu memberikan gambaran yang benar-benar pasti bagi Mama.

Dalam situasi tertentu, seorang Mama bisa saja dinyatakan mengalami keguguran, padahal kehamilan sebenarnya masih berlangsung. Kondisi ini dikenal dengan istilah keguguran palsu. 

Mengutip laman Health, keguguran palsu terjadi saat diagnosis awal menyebutkan kehamilan tidak berkembang, tetapi pada pemeriksaan lanjutan ternyata janin masih ada dan terus tumbuh. 

Kondisi tersebuti bisa dipicu oleh ketidaktepatan waktu pemeriksaan atau keterbatasan USG dalam mendeteksi kehamilan usia sangat muda. 

Untuk memahami lebih jelas, simak rangkuman Popmama.com berikut tentang penyebab keguguran palsu yang sering terjadi di awal kehamilan.

1. Perkiraan tanggal konsepsi yang kurang tepat

Freepik/jcomp

Salah satu penyebab keguguran palsu adalah ketidaktepatan dalam memperkirakan waktu terjadinya konsepsi. Konsepsi merupakan proses pembuahan, yaitu saat sel sperma bertemu dengan sel telur. Jika proses ini terjadi lebih lambat dari perkiraan, perkembangan kehamilan bisa terlihat tertinggal saat dilakukan USG.

Dikutip dari laman Health, Charles Lockwood, MD, Wakil Presiden Eksekutif University of South Florida, menyebutkan bahwa meski seseorang merasa yakin mengetahui waktu pembuahan, ovulasi atau implantasi embrio tetap bisa terlambat hingga beberapa hari.

Keterlambatan ini membuat kantung kehamilan atau embrio belum tampak jelas di USG awal, sehingga kehamilan bisa disalahartikan sebagai tidak berkembang. Kondisi ini lebih sering dijumpai pada kehamilan dengan bantuan teknologi reproduksi, seperti fertilisasi in vitro (IVF), karena embrio memerlukan waktu tambahan untuk menempel dan mulai tumbuh di rahim.

2. Keterbatasan pemeriksaan USG di awal kehamilan

Freepik/stefamerpik

USG merupakan alat penting dalam memantau kehamilan, tetapi pemeriksaan ini memiliki keterbatasan, terutama pada trimester pertama. Pada beberapa kasus, hasil USG bisa menunjukkan gambaran yang menyerupai kehamilan kosong atau blighted ovum, padahal embrio sebenarnya masih terlalu kecil untuk terlihat.

Paul Blumenthal, Direktur Layanan dan Penelitian Keluarga Berencana di Stanford University School of Medicine, menjelaskan bahwa pemeriksaan kehamilan dini sering kali menimbulkan dilema. Dokter tidak selalu bisa langsung memastikan apakah kondisi tersebut merupakan keguguran atau kehamilan yang masih berkembang.

Karena itu, Mama biasanya akan disarankan untuk menunggu beberapa hari dan menjalani pemeriksaan ulang. Pemantauan lanjutan melalui USG dan pemeriksaan hormon kehamilan dilakukan agar diagnosis yang diberikan lebih akurat dan tidak terburu-buru.

3. Perdarahan awal kehamilan tidak selalu berarti keguguran

Freepik/stefamerpik

Perdarahan pada awal kehamilan sering kali membuat Mama khawatir dan langsung mengaitkannya dengan keguguran. Padahal, tidak semua perdarahan menandakan kehamilan berakhir. Hal inilah yang dapat memicu dugaan keguguran palsu.

Perdarahan bisa disebabkan oleh berbagai hal selain keguguran, seperti iritasi serviks setelah pemeriksaan, perubahan hormon, proses implantasi embrio, infeksi, hingga kondisi plasenta tertentu. Aktivitas seperti berhubungan seksual juga dapat memicu flek ringan pada sebagian Mama.

Karena gejalanya menyerupai tanda keguguran, kondisi ini terkadang membuat kehamilan dianggap telah berakhir. Padahal, kehamilan masih dapat berlanjut dengan pemantauan medis yang tepat.

4. Keguguran palsu termasuk kondisi yang jarang terjadi

Freepik/stefamerpik

Perlu Mama ketahui, keguguran palsu merupakan diagnosis yang tergolong jarang dan masih memiliki keterbatasan data penelitian. Dalam sebagian besar kasus, tanda-tanda seperti kenaikan hormon kehamilan hCG yang lambat atau kantung kehamilan yang tidak berkembang memang berakhir sebagai keguguran.

Bila kantung kehamilan tetap kosong pada beberapa kali pemeriksaan USG, kondisi tersebut umumnya benar-benar mengarah pada keguguran.

Secara statistik, keguguran dini terjadi pada sekitar 10 persen dari kehamilan yang terdeteksi. Oleh karena itu, bila hasil pemeriksaan awal masih meragukan, dokter biasanya akan menyarankan pemantauan ulang sebelum memastikan kondisi kehamilan Mama.

Itulah penjelasan tentang penyebab keguguran palsu yang sering terjadi di awal kehamilan. Kondisi ini menunjukkan bahwa hasil pemeriksaan dini dan gejala awal perlu dievaluasi dengan hati-hati, agar Mama mendapatkan diagnosis yang tepat dan tidak kehilangan harapan terlalu cepat.

Editorial Team