Ilustrasi obat hipertensi (pexels.com/Etatics Inc.)
Beberapa obat tekanan darah dianggap aman digunakan selama kehamilan. Namun, penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor), penghambat reseptor angiotensin II, dan penghambat renin perlu dihindari selama kehamilan.
Pengobatan sangat penting. Tekanan darah tinggi meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan komplikasi besar lainnya. Dan tekanan darah tinggi dapat berbahaya bagi janin.
Jika Mama memerlukan obat untuk mengontrol tekanan darah selama kehamilan, dokter akan meresepkan obat dan dosis yang paling aman. Minumlah obat sesuai resep. Jangan berhenti meminumnya atau mengubah dosis sendiri.
Aspirin dosis rendah harian sering direkomendasikan untuk menurunkan risiko preeklamsia pada mereka yang berisiko tinggi. Studi telah menemukan bahwa aspirin aman selama kehamilan.
Antihipertensi atau obat darah tinggi yang aman digunakan pada masa kehamilan seperti labetalol, nifedipin, metildopa, hidralazin, magnesium sulfat, dan parazosin.
Dikutip dari artikel Tatalaksana Hipertensi Pada Kehamilan, berikut beberapa jenis obat darah tinggi yang aman untuk ibu hamil:
Labetalol merupakan golongan obat 𝛽-Blocker yang pada kehamilan dapat dikonsumsi dengan dosis 100mg dua kali sehari sampai 400mg tiga kali sehari. Pada kondisi hipertensi preeklamsia berat labetalol diberikan melalui rute intravena selama 2 menit dan diulangi setelah 10 menit jika tekanan darah tetap >160/110mmHg. Efek samping labetalol meliputi kelelahan, bronkospasme pada individu dengan penyakit saluran napas reaktif dan sakit kepala.
Nifedipin merupakan golongan obat Calcium-channel Blocker yang pada kehamilan dapat dikonsumsi dengan dosis 30mg perhari sampai 60mg dua kali sehari. Efek samping nifedipin meliputi sakit kepala pada saat pemberian dosis pertama, flushing, takikardia dan edema peripheral. Pemberian nifedipin dapat dilakukan secara bersamaan dengan magnesium sulfat dan telah terbukti mengakibatkan hipotensi dan blokade neuromuscular.
Metildopa merupakan golongan obat alpha-2 receptor agonist yang pada hipertensi dapat dikonsumsi dengan dosis 250mg dua kali sehari sampai 750mg tiga kali sehari. Berdasarkan studi tindak lanjut jangka panjang, tidak ditemukannya peningkatan masalah kesehatan pada bayi yang lahir, sehingga National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP) merekomendasikan metildopa sebagai agen lini pertama. Penggunaan metildopa dapat dikombinasikan dengan antihipertensi lain seperti diuretik untuk mencapai target nilai tekanan darah. Efek samping metildopa meliputi distrimia, kelemahan, sedasi, depresi, penurunan stabilitas mental, mulut kering, penurunan libido, parkinsonisme dan hiperprolaktinemia
Hidralazin merupakan golongan obat Vasodilator yang pada kehamilan dapat dikonsumsi dengan dosis 25mg tiga kali sehari sampai 50mg tiga kali sehari. Hidralazin menurunkan tekanan darah dengan secara langsung merelaksasi otot polos atau pembuluh darah melalui perubahan metabolisme kalsium intraseluler. Efek samping hidralazin meliputi kemerahan pada kulit, sakit kepala dan lupus-like syndrome.
Penggunaan magnesium sulfat telah terbukti mengurangi risiko eklamsia dan kematian ibu tanpa efek samping yang signifikan pada ibu atau bayi jika dibandingkan dengan fenitoin, diazepam dan nimodipine. Magnesium sulfat diberikan untuk profilaksis kejang selama persalinan dan selama 24 jam setelah melahirkan dengan dosis 4g. Pada pasien dengan gagal ginjal harus dilakukan penurunan dosis dan pemeriksaan serum magnesium setiap 1 sampai 2 jam, sedangkan untuk pasien dengan fungsi ginjal normal dilakukan pemeriksaan setiap 4 sampai 6 jam.
Prazosin merupakan golongan obat alpha blocker yang pada kehamilan dapat dikonsumsi dengan dosis 0,5mg dua kali sehari sampai 5mg tiga kali sehari. Efek samping prazosin meliputi hipertensi ortostatik.
Penting untuk diingat bahwa penggunaan obat darah tinggi dan obat lainnya selama kehamilan harus dengan persetujuan dan pengawasan dokter, ya, Ma.
Itu daftar beberapa obat penurun darah tinggi untuk ibu hamil. Semoga kehamilannya selalu sehat, ya, Ma!