Stop Perkawinan Anak, Ini 5 Bahaya Hamil di Usia Terlalu Muda

Perempuan belum siap menerima kehamilan ketika berusia di bawah 20 tahun

11 Februari 2021

Stop Perkawinan Anak, Ini 5 Bahaya Hamil Usia Terlalu Muda
Freepik/bilahata

Perempuan dianjurkan untuk menikah setelah berusia di atas 20 tahun. Pasalnya, apabila dilihat dari sisi kesehatan, kehamilan yang terjadi di usia terlalu muda bisa menimbulkan sejumlah dampak negatif bagi ibu dan bayi. 

Perlu Mama ketahu bahwa tubuh perempuan belum siap menerima kehamilan ketika berusia di bawah 20 tahun. Oleh karena itu, perempuan disarankan untuk menikah ketika usianya di atas 20 tahun sehingga bisa hamil dan melahirkan di usia 20 sampai 35 tahun. 

Lantas, apa risiko kesehatan yang bisa terjadi apabila seorang perempuan menikah terlalu muda dan mengalami kehamilan? Simak penjelasan dari Popmama.com berikut ini tentang masalah kesehatan yang bisa timbul akibat kehamilan di usia terlalu muda. 

Data Perkawinan Anak di Indonesia

Data Perkawinan Anak Indonesia
Freepik/aslerromero

Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa perkawinan pertama sebelum usia 15 atau 18 tahun di Indonesia memang menurun pada periode 2008-2018. Namun, penurunannya masih lambat. Pada tahun 2008, prevalensi perkawinan adalah 14,67 persen, sementara pada tahun 2018 angka tersebut menurun sebesar 3,5 poin menjadi 11,21 persen. 

Tercatat lebih dari satu juta perempuan di Indonesia melakukan perkawinan pertama ketika mereka berusia kurang dari 18 tahun. Kemudian ada 61.300 perempuan yang menikah pertama kali ketika usia mereka kurang dari 15 tahun. 

Data selanjutnya berdasarkan sensus tahun 2017 mencatat bahwa sebanyak 63,08 persen perempuan berusia di bawah 18 tahun mengalami kehamilan pertama pasca pernikahan. Apabila dirinci, sebanyak 1,95 persen hamil pertama kali ketika berusia di bawah 15 tahun, sebanyak 4,7 persen hamil pertama kali ketika berusia 15 tahun. 

Kemudian, sebanyak 17,53 persen hamil pertama kali ketika berusia 16 tahun dan sebesar 38,9 persen hamil pertama kali ketika berusia 17 tahun. Padahal, ada hubungan antara usia kehamilan dan risiko yang bakal dialami ibu dan bayi. Apa saja risiko hamil terlalu muda bagi ibu dan bayi?

1. Kematian ibu dan bayi

1. Kematian ibu bayi
Freepik

Kehamilan yang terjadi di usia muda bisa membahayakan kesehatan sang Mama dan bayi. Bayi yang dilahirkan dari seorang ibu berusia di bawah 18 tahun, memiliki risiko 60 persen untuk meninggal dunia sebelum berusia satu tahun. Tercatat sekitar satu juta bayi di dunia yang lahir dari ibu berusia di bawah 18 tahun meninggal dunia sebelum usia mereka mencapai satu tahun. 

Tak hanya berisiko kematian bayi, kehamilan terlalu muda juga mengancam nyawa sang Mama. Perempuan yang melahirkan di usia muda berisiko meninggal dunia karena tubuhnya belum siap untuk menjalani proses persalinan karena panggul yang sempit. Ketersediaan fasilitas kesehatan juga bisa menjadi penyebab ibu meninggal dunia ketika melahirkan. 

Data Badan Pusat Statistik mencatat, anak berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal dunia saat hamil maupun melahirkan dibanding perempuan berusia 20-24 tahun. Sementara itu, risiko meninggal dunia juga meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. 

Editors' Picks

2. Ibu mengalami tekanan darah tinggi

2. Ibu mengalami tekanan darah tinggi
Freepik/diana.grytsku

Apabila perempuan berusia muda bisa selamat ketika melahirkan, maka dia berisiko lebih tinggi untuk mengalami tekanan darah tinggi dan preeklamsia ketika usia mereka mencapai 30 tahun. Hal ini disebabkan tubuh mereka belum siap menghadapi persalinan sehingga sistem kerja saraf dan otot mulai menurun. 

Apabila Mama menjalani persalinan di usia muda, tak ada salahnya untuk konsultasi ke dokter guna mencegah serangan penyakit tertentu ketika anak beranjak dewasa. 

3. Bayi lahir prematur

3. Bayi lahir prematur
Freepik/davit85

Ibu berusia muda umumnya melahirkan bayi secara prematur sebelum usia kehamilan 32 minggu. Bayi juga terlahir dengan berat badan rendah yakni kurang dari 1,5 kilogram dan mengalami sejumlah gangguan kesehatan seperti gangguan pernapasan, pencernaan, penglihatan, dan masalah tumbuh kembang. 

4. Terserang penyakit menular seksual

4. Terserang penyakit menular seksual
Freepik/pressfoto

Perempuan menikah dan berhubungan seksual di usia muda berisiko terserang penyakit menular seksual seperti HIV, sifilis, dan herpes. Hal ini disebabkan mereka belum memahami hubungan seksual yang aman dan pola pikir yang belum dewasa. 

Umumnya, pasangan muda akan mencoba berbagai gaya ketika berhubungan seksual. Padahal, penyakit menular seksual lebih mudah ditularkan melalui hubungan seksual oral atau anal. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman lebih dalam mengenai hubungan seksual dan risiko penyakit menular seksual sebelum pernikahan. 

5. Depresi pasca melahirkan

5. Depresi pasca melahirkan
Freepik/dimaberlin

Perempuan yang menikah dan melahirkan di usia muda rentan mengalami depresi pasca melahirkan. Depresi disebabkan mental mereka belum siap untuk menjalani kehidupan rumah tangga dan tidak adanya dukungan dari keluarga atau pasangan. Depresi yang berkelanjutan bisa membuat sang Mama tidak mampu merawat bayi dengan baik. Oleh karena itu, seperti dijelaskan sebelumnya, risiko kematian bayi yang dilahirkan ibu berusia muda juga tinggi. 

Oleh karena itu, penting untuk menghentikan perkawinan anak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Pendidikan yang memadai perlu diberikan kepada remaja dan orangtua agar tidak ada lagi perkawinan usia muda. 

Baca juga :

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.