Menurut Nutrisionis, Stunting pada Anak Dapat Dicegah Sejak Hamil Muda

Tak harus sampai si Kecil lahir, cegah stunting pada anak sejak masa kehamilan

27 Februari 2019

Menurut Nutrisionis, Stunting Anak Dapat Dicegah Sejak Hamil Muda
Pixabay/Xusenru

Menurut MCA-Indonesia, 8,9 juta anak Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan. Itu artinya ada satu dari tiga anak di Indonesia bertubuh pendek karena mengalami stunting.

Kasus stunting di Indonesia bahkan lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%).

Tak hanya bertubuh pendek, anak yang mengalami stunting juga memiliki keterbatasan dalam berpikir, memecahkan masalah, dan berkonsentrasi.

Mengetahui ada begitu banyak bahaya stunting pada anak, maka dari itu cegahlah dari sekarang.

Tak perlu bingung, Rachel Olsen selaku nutrisionis mengungkapkan beberapa cara yang dapat Mama lakukan untuk mencegah stunting pada anak sejak masih dalam masa kehamilan dan seterusnya.

Ditemui pada acara YOUVIT bertema Bersama Untuk Indonesia Sehat yang berlangsung pada (25/2) di Rockstar Gym, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa informasinya.

1. Apa itu stunting?

1. Apa itu stunting
mca-indonesia.go.id

Stunting adalah gangguan tumbuh kembang yang menyebabkan anak memiliki postur tubuh pendek, jauh dari rata-rata anak lain di usia sepantaran. Tanda-tanda stunting biasanya baru akan terlihat saat anak berusia dua tahun. Stunting mulai terjadi ketika janin masih dalam kandungan disebabkan oleh asupan makanan ibu hamil selama kehamilan yang kurang bergizi.

Akibatnya, gizi yang didapat anak dalam kandungan tidak mencukupi. Kekurangan gizi akan menghambat pertumbuhan bayi dan bisa terus berlanjut setelah kelahiran.

Selain itu, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi.

Entah itu karena tidak diberikan ASI eksklusif, atau MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas, termasuk zink, zat besi, serta protein.

Laporan Riset Kesehatan Dasar mencatat bahwa kasus stunting pada anak terus mengalami peningkatan dari tahun 2010 (35,6%) menjadi 37,2 persen pada tahun 2013.

Tidak mengherankan jika Indonesia menempati peringkat kelima dunia untuk jumlah anak dengan kondisi stunting terbanyak. Stunting adalah kondisi darurat di Indonesia.

Efek stunting tidak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Terlebih, kekurangan gizi pada anak usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak. Maka, gangguan pertumbuhan ini harus segera ditangani dengan tepat.

Namun, selalu lebih baik untuk mencegah stunting daripada mengobatinya.

Editors' Picks

2. Cara mencegah stunting pada anak sejak masa kehamilan

2. Cara mencegah stunting anak sejak masa kehamilan
Freepik/yanalya

Salah satu faktor utama yang menyebabkan stunting adalah asupan gizi anak yang tidak memadai ketika anak masih berusia balita.

Namun sebenarnya, mencegah stunting sudah bisa dilakukan sejak dini semenjak masa kehamilan. Kuncinya tentu dengan meningkatkan asupan gizi ibu hamil dengan makanan yang berkualitas baik.

Zat besi dan asam folat adalah kombinasi nutrisi penting selama kehamilan yang dapat mencegah stunting pada anak ketika ia dilahirkan nanti.

Mengapa bisa demikian?

Berikut penjelasan lengkapnya:

Zat besi untuk ibu hamil dan janin

Kekurangan zat besi selama kehamilan sangat umum terjadi. Diperkirakan setengah dari semua ibu hamil di seluruh dunia kekurangan zat besi.

Jika Mama tidak mendapatkan cukup zat besi dari makanan, secara bertahap tubuh Mama akan mengambilnya dari penyimpanan zat besi hingga berisiko meningkatkan anemia.

Menurut para ahli, anemia yang diakibatkan oleh kekurangan zat besi di dua trimester pertama dikaitkan dengan risiko dua kali lipat bayi lahir prematur dan tiga kali lipat risiko berat badan lahir rendah.

Daging merah, unggas, dan ikan adalah salah satu sumber zat besi terbaik untuk ibu hamil. Namun, hindari makan ati ayam, kambing ataupun sapi karena kandungan tinggi vitamin A-nya tidak aman selama kehamilan.

Mama juga bisa mendapatkan zat besi dari kacang-kacangan, sayuran, dan biji-bijian. Selain dari makanan, Mama juga harus mulai mengonsumsi suplemen zat besi dosis rendah (30 mg per hari) sejak konsultasi kehamilan pertama.

Dalam kebanyakan kasus, Mama juga akan mendapatkan asupan zat besi sesuai dengan kadar tersebut di dalam vitamin prenatal. Seterusnya, Mama membutuhkan setidaknya 27 miligram zat besi setiap hari selama kehamilan. 

Asam folat untuk ibu hamil dan janin

Peran asam folat amat penting dalam perkembangan otak dan sumsum tulang belakang bayi. Mengonsumsi asam folat selama kehamilan dapat mengurangi risiko gangguan kehamilan hingga 72 persen.

Asam folat membantu mencegah cacat tabung saraf, penyakit bawaan lahir karena gagalnya perkembangan organ bayi, seperti spina bifida dan anencephaly.

Asam folat adalah bagian dari grup vitamin B, tepatnya B9.

Nutrisi ini dapat Mama temukan pada beberapa makanan, seperti:

  • Daging unggas
  • Sayur-sayuran hijau seperti bayam, asparagus, seledri, brokoli, buncis, lobak hijau, selada, kacang panjang, wortel
  • Buah-buahan seperti alpukat, jeruk, buah bit, pisang, tomat, melon jingga
  • Kuning telur
  • Biji-bijian seperti biji bunga matahari atau kuaci, gandum dan produk olahan gandum seperti pasta dan roti

Ibu hamil sering disarankan untuk menambah asupan asam folatnya lewat suplemen. Ini bertujuan untuk memastikan Mama agar tetap mendapatkan jumlah yang sesuai untuk setiap hari.

Dengan mengonsumsi asam folat sebanyak 400 mikrogram (mcg) per hari, setidaknya mulai dari satu bulan sebelum Mama berencana hamil dan terus berlangsung sampai selama trimester pertama, Mama akan mengurangi peluang bayi terkena risiko cacat tabung saraf sekitar 50–70%, sekaligus membantu mengurangi gangguan kelahiran lainnya, termasuk mencegah stunting.

Kombinasikan asam folat dan zat besi dengan suplemen iron-folic acid

Suplemen iron-folic acid (kombinasi dari zat besi dan asam folat) ternyata dapat memberikan efek positif yang tidak boleh disepelekan terhadap panjang bayi saat lahir ketika dikonsumsi oleh ibu semasa hamil.

Penelitian dari Nepal menemukan bahwa asupan makanan sehat yang ditambah dengan penggunaan suplemen iron-folic acid atau IFA bisa mencegah risiko stunting pada anak hingga sebesar 14% jika dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak pernah mengonsumsi suplemen IFA sejak masih mengandung.

Nah, itulah beberapa fakta mengenai stunting pada anak yang dapat dicegah sejak masa kehamilan berlangsung.

Tak perlu menunggu sampai si Kecil lahir, cegahlah stunting sedini mungkin ya, Ma!

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!