Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Sakit perut
freepik/benzoix

Intinya sih...

  • Asherman Syndrome adalah gangguan kesehatan reproduksi perempuan yang disebabkan oleh jaringan parut di dalam rahim setelah prosedur medis seperti kuret.

  • Gejalanya antara lain menstruasi sedikit, nyeri haid, sulit hamil, dan keguguran berulang. Beberapa perempuan mungkin tidak merasakan gejala apapun.

  • Sindrom Asherman dapat diobati melalui tindakan operasi untuk menghilangkan jaringan parut di dalam rahim dengan bantuan histeroskopi.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Asherman Syndrome atau Sindrom Asherman adalah salah satu gangguan kesehatan reproduksi perempuan yang masih jarang dibicarakan, padahal dampaknya bisa sangat besar bagi kualitas hidup dan kesuburan. 

Banyak perempuan tidak menyadari gejala Asherman Syndrome karena tanda-tandanya kerap disalahartikan sebagai gangguan haid biasa. Padahal, deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu memperbaiki kondisi rahim dan menjaga peluang kehamilan. 

Karena itu, penting bagi setiap perempuan untuk memahami apa itu Asherman Syndrome, penyebab, serta gejala yang perlu diwaspadai.

Simak pembahasannya telah Popmama.com siapkan.

Apa Itu Sindrom Asherman?

pexels/Andrea Piacquadio

Melansir dari laman Cleveland Clinic, sindrom asherman adalah kondisi ketika jaringan parut (perlengketan) terbentuk di dalam rahim. Kondisi ini paling sering terjadi setelah prosedur medis yang melibatkan pengangkatan jaringan dari rahim, seperti kuret. 

Jaringan parut dapat terbentuk usai terjadi proses penyembuhan luka, termasuk luka bakar maupun luka bekas operasi. Jaringan parut yang berlebihan membuat ruang di dalam rahim menjadi semakin sempit. 

Perubahan ini bisa menyebabkan berbagai keluhan, seperti nyeri, menstruasi tidak teratur, hingga gangguan kesuburan. Sebagian perempuan kemungkinan juga akan mengalami perubahan pada siklus haid setelah menjalani prosedur kuretase.

Gejala Sindrom Asherman

freepik/freepik

Gejala sindrom asherman dapat berbeda-beda pada setiap perempuan. Beberapa tanda yang umum terjadi antara lain:

  • Menstruasi sangat sedikit (hipomenorea)

  • Tidak mengalami menstruasi sama sekali (amenorea)

  • Nyeri haid yang berat (dismenore) atau nyeri panggul

  • Sulit hamil (infertilitas karena faktor rahim)

  • Sulit mempertahankan kehamilan, seperti mengalami keguguran berulang

Pada sebagian kasus, penderitanya mungkin tidak mengalami menstruasi tetapi tetap merasakan nyeri di waktu yang seharusnya ia haid. 

Hal ini bisa menandakan bahwa proses menstruasi tetap terjadi, namun darah haid tidak bisa keluar karena terhalang oleh jaringan parut di dalam rahim.

Perlu diketahui juga bahwa ada sebagian perempuan dengan sindrom asherman yang tidak merasakan gejala apa pun. Karena itu, pemeriksaan medis tetap penting jika ada kecurigaan terhadap kondisi ini.

Penyebab Sindrom Asherman

pexels/cottonbro studio

Sindrom asherman terjadi ketika lapisan dasar endometrium (lapisan dalam rahim) mengalami cedera atau terangkat, terutama pada bagian-bagian yang saling berhadapan di dalam rahim. 

Peradangan pada area tersebut kemudian memicu terbentuknya jaringan parut (perlengketan). Kondisi ini paling sering terjadi setelah tindakan medis yang melibatkan pengangkatan jaringan di dalam rahim.

Para peneliti umumnya mengelompokkan penyebab sindrom asherman ke dalam dua kategori besar, yaitu penyebab yang berkaitan dengan kehamilan dan yang tidak berkaitan dengan kehamilan.

Penyebab yang berkaitan dengan kehamilan

Diperkirakan lebih dari 90% kasus sindrom asherman terjadi setelah tindakan dilatasi dan kuretase yang berhubungan dengan kehamilan. Prosedur ini bisa dilakukan untuk beberapa kondisi, seperti:

  • Mengakhiri kehamilan

  • Keguguran yang tidak tuntas 

  • Mengatasi sisa plasenta yang tertinggal setelah persalinan

Penelitian menunjukkan bahwa rahim yang baru saja mengalami kehamilan cenderung lebih sensitif terhadap cedera pada endometrium, yaitu lapisan dalam rahim.

Jika lapisan ini mengalami kerusakan tak lama setelah kehamilan, risiko terbentuknya jaringan parut akan meningkat. Dalam kasus yang sangat jarang, operasi caesar (C-section) juga dapat memicu terjadinya sindrom asherman.

Penyebab yang tidak berkaitan dengan kehamilan

Meski lebih jarang, sindrom asherman juga bisa terjadi setelah prosedur  yang tidak berhubungan dengan kehamilan, misalnya untuk:

  • Pengambilan sampel jaringan untuk pemeriksaan kanker endometrium

  • Pengangkatan polip endometrium

Kondisi ini juga dapat berkembang setelah tindakan histeroskopi operatif, seperti:

  • Pengangkatan miom (fibroid) rahim

  • Terapi untuk kelainan bentuk rahim, misalnya rahim bersekat (metroplasti)

Selain itu, ada beberapa penyebab lain yang juga bisa memicu sindrom asherman, antara lain:

  • Infeksi panggul berat, seperti tuberkulosis genital atau schistosomiasis

  • Prosedur embolisasi arteri rahim

  • Terapi radiasi di area panggul

Diagnosis Sindrom Asherman

pexels/RDNE Stock project

Dokter akan mempertimbangkan gejala yang dialami serta riwayat kesehatan dan tindakan medis yang pernah dijalani. 

Jika Mama memiliki riwayat operasi atau prosedur tertentu yang berisiko menyebabkan sindrom asherman, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.

Pemeriksaan utama (gold standard) untuk mendiagnosis sindrom asherman adalah histeroskopi diagnostik. Dalam prosedur ini, dokter memasukkan alat berupa kamera kecil melalui vagina dan leher rahim (serviks) untuk melihat kondisi bagian dalam rahim secara langsung. 

Dari pemeriksaan ini, dokter dapat menilai ada tidaknya jaringan parut serta tingkat keparahannya. Selain itu, USG panggul atau USG transvaginal juga bisa membantu diagnosis dokter.

Pengobatan Sindrom Asherman

pexels/Antoni Shkraba Studio

Penanganan sindrom asherman dilakukan melalui tindakan operasi dengan tujuan menghilangkan jaringan parut yang terbentuk di dalam rahim. Prosedur operasi ini dilakukan dengan bantuan histeroskopi. 

Umumnya, tindakan ini diprioritaskan pada pasien sindrom asherman yang mengalami keluhan nyeri serta memiliki keinginan untuk hamil.Saat operasi berlangsung, dokter akan memberikan anestesi umum (bius total) agar pasien tidak merasakan sakit.

Selanjutnya, dokter akan mengangkat jaringan parut dan melepaskan perlengketan di dalam rahim menggunakan alat bedah berukuran kecil yang dipasang pada ujung histeroskop.

Setelah jaringan parut berhasil dibersihkan, dokter akan memasang balon kecil di dalam rahim selama beberapa hari. Tindakan ini bertujuan untuk menjaga rongga rahim tetap terbuka selama proses penyembuhan, sehingga risiko terbentuknya perlengketan kembali dapat diminimalkan.

Untuk mencegah terjadinya infeksi pasca operasi, dokter dapat meresepkan antibiotik. Selain itu, dokter juga dapat memberikan terapi hormon estrogen guna membantu pemulihan lapisan dinding rahim. 

Dengan pemulihan yang optimal, pasien sindrom asherman diharapkan dapat kembali mengalami siklus menstruasi yang normal. Beberapa hari setelah tindakan, dokter dapat melakukan pemeriksaan histeroskopi ulang untuk memastikan bahwa operasi sebelumnya berhasil dan tidak ditemukan perlengketan baru di dalam rahim. 

Hal ini penting karena setelah tindakan masih terdapat kemungkinan perlengketan muncul kembali. Oleh sebab itu, dokter biasanya menyarankan pasien untuk menunda program kehamilan dan menunggu sekitar satu tahun sebelum mulai merencanakan kehamilan.

Nah,  itu dia informasi mengenai sindrom asherman. Semoga bisa menjadi ilmu baru ya, Ma. 

Mengenal Sindrom Asherman

Apa itu asherman syndrome?

Asherman syndrome adalah kondisi ketika terbentuk jaringan parut (perlengketan) di dalam rahim atau leher rahim.

Siapa yang lebih berisiko mengalami asherman syndrome?

Perempuan yang sering menjalani prosedur medis pada rahim.

Apakah asherman syndrome bisa diobati?

Bisa, melalui tindakan operasi untuk mengangkat jaringan parut.

Apakah operasi terasa sakit?

Tidak, karena pasien akan diberikan bius total saat prosedur berlangsung.

Editorial Team