Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Cerita Dokter Gia dalam Perjuangannya untuk Punya Keturunan
Yotube.com/Jeda Nulis
  • Dokter Gia membagikan kisah delapan tahun perjuangannya bersama sang istri untuk memiliki anak, termasuk menjalani berbagai program bayi tabung yang belum berhasil.
  • Dalam program IVF terbaru, istrinya menjalani stimulasi hormon hingga menghasilkan 26 sel telur, dengan 16 di antaranya dinyatakan matang dan siap untuk tahap pembuahan.
  • Proses seleksi sperma kini menggunakan teknologi Zymot yang menyaring “sperma super” melalui sistem mirip rintangan, meningkatkan peluang keberhasilan pembuahan dalam program IVF mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dokter Gia membagikan kisah perjuangannya menjalani program bayi tabung (IVF) bersama sang istri setelah delapan tahun menantikan kehadiran anak.
  • Who?
    Dokter Gia dan istrinya.
  • Where?
    Kisah ini disampaikan dalam podcast Beda Universe dan cuplikannya tersebar luas melalui akun TikTok @pulcher.0; lokasi pelaksanaan program IVF tidak disebutkan secara spesifik.
  • When?
    Percakapan berlangsung baru-baru ini dalam podcast, sementara perjuangan memiliki keturunan telah dijalani selama delapan tahun terakhir hingga saat ini.
  • Why?
    Pasangan tersebut ingin memperoleh keturunan setelah bertahun-tahun belum berhasil, sehingga memilih kembali menjalani program IVF dengan teknologi yang lebih mutakhir.
  • How?
    Mereka mengikuti prosedur stimulasi hormon untuk menghasilkan 26 sel telur, kemudian dilakukan seleksi sperma menggunakan alat Zymot guna mendapatkan sperma terbaik sebelum proses pembuahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Memiliki keturunan sering kali dianggap sebagai fase alami dalam pernikahan. Namun bagi sebagian pasangan, proses tersebut bisa menjadi perjalanan panjang yang penuh harapan, doa, sekaligus ujian kesabaran. Situasi inilah yang turut dialami oleh Dokter Gia Pratama.

Dalam perbincangannya bersama Habib Jafar dalam podcast Beda Universe, Dokter Gia secara terbuka membagikan kisah perjuangannya menjalani program kehamilan. Cuplikan cerita tersebut juga diunggah ulang dan ramai diperbincangkan, sehingga semakin banyak publik yang mengetahui perjalanan emosionalnya.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya dan sang istri telah memasuki tahun ke delapan dalam usaha memiliki buah hati. Berbagai cara telah ditempuh, termasuk menjalani program bayi tabung (IVF).

Seperti apa ceritanya? Berikut ini Popmama.com sudah merankum informasinya.

1. Delapan tahun penantian memiliki anak

Yotube.com/Jeda Nulis

Perjuangan Dokter Gia untuk memiliki keturunan sudah memasuki tahun kedelapan. Dalam perbincangannya bersama Habib Jafar dalam podcast, ia secara terbuka mengakui bahwa perjalanan tersebut bukan hal yang mudah untuk dijalani.

“Aku kan masih berjuang punya anak, udah sewindu belum punya anak bib,” kata Dokter Gia seperti dikutip dari Podcast bersama Habib Jafar.

Selama bertahun-tahun, ia dan sang istri telah mencoba berbagai cara, termasuk menjalani program bayi tabung sebelumnya yang belum berhasil. Kesempatan baru kemudian datang dari pertemuannya kembali dengan dokter obgyn yang pernah bekerja bersamanya belasan tahun lalu.

Dari pertemuan itulah, Dokter Gia kembali mendapat tawaran untuk menjalani program IVF dengan pendekatan teknologi yang lebih mutakhir dan sistem yang lebih terstruktur dibanding sebelumnya.

2. Kisahkan proses stimulasi sel telur selama program IVF terbaru

Yotube.com/Jeda Nulis

Dalam program IVF terbarunya, Dokter Gia menjelaskan bahwa teknik stimulasi hormon menjadi tahap penting. Sang istri harus menjalani suntikan hormon setiap hari, bahkan ia sendiri yang membantu proses penyuntikan di rumah.

”Dengan suntikan itu istriku jadi 26 telur. Kanan 13, kiri 13. Dipanen semua,” lanjutnya.

Secara alami, perempuan biasanya hanya menghasilkan satu sel telur dalam satu siklus menstruasi. Namun melalui stimulasi hormon, produksi sel telur dapat meningkat secara signifikan untuk memperbesar peluang keberhasilan pembuahan.

Dari total 26 sel telur yang berhasil diambil, sebanyak 16 dinyatakan matang dan memiliki kualitas yang baik untuk tahap selanjutnya dalam proses IVF.

3. Gambarkan proses seleksi “sperma super” seperti ninja warior

Yotube.com/Jeda Nulis

Tak hanya pada sel telur, proses seleksi sperma juga mengalami perkembangan teknologi. Jika sebelumnya pemilihan sperma dilakukan secara manual melalui mikroskop berdasarkan pergerakan terbaik, kini digunakan alat khusus bernama Zymot.

Dokter Gia menggambarkan prosesnya seperti jalur rintangan yang harus dilewati oleh sperma.

”Jadi si sperma-sperma itu dikasih halang rintan mirip Ninja Warrior. Siapa yang tembus? Siapa yang berhasil tembus? Itulah sperma super sesungguhnya,” ujar Dokter Gia.

Dari puluhan juta sperma, hanya ratusan ribu yang mampu melewati proses penyaringan awal tersebut. Setelah itu, dipilih kembali sejumlah sperma terbaik untuk dipertemukan dengan 16 sel telur yang telah matang.

Perjuangan Dokter Gia menjadi gambaran bahwa proses memiliki keturunan bisa berlangsung panjang dan penuh tahapan. Dengan dukungan teknologi seperti IVF peluang tetap terbuka bagi pasangan yang menjalani program serupa. Pada akhirnya, setiap proses membutuhkan waktu, kesiapan, dan komitmen yang tidak sedikit. Semangat Pa, Ma.

Editorial Team