Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Infertility cover.jpg
Freepik.com

Intinya sih...

  • Jumlah sel telur memengaruhi kesuburanDilansir Fertility Institute of Hawaii, bayi perempuan dilahirkan dengan memiliki 1-2 juta sel telur yang belum matang dalam ovariumnya. Namun jumlah ini akan turun sekitar 300.000-500.000 saat seorang perempuan memasuki masa pubertas.

  • Garis waktu penurunan kesuburan perempuanUsia 20-an dianggap sebagai masa paling subur bagi seorang perempuan. Pada periode ini, peluang pembuahan berada pada puncaknya. Pada pertengahan usia 30-an, baik kuantitas maupun kualitas sel telur cenderung menurun lebih cepat.

  • Stress memengaruhi kesuburan karena meningkatkan hormon seperti kortisol.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pada perempuan, tingkat kesuburan umumnya mulai menurun secara signifikan seiring bertambahnya usia. Terutama memasuki usia 35 tahun, di mana berkurangnya jumlah sel telur dan penurunan kualitas sel telur yang dihasilkan.

Karena ini, banyak pula yang mengatakan bahwa kesuburan perempuan cenderung membuat lebih sulit memiliki momongan. Tidak seperti pria yang sepanjang hidupnya terus-menerus memproduksi sperma. Dengan kondisi tersebut dapat membuat peluang kehamilan menjadi sulit dan meningkatkan resiko komplikasi seperti kelainan pada janin maupun keguguran.

Meski demikian, pada setiap individu, laju kesuburan dapat berbeda dan kehamilan memungkinkan dapat terjadi. Apa saja penyebabnya? Lalu apa saja pencegahannya untuk perempuan yang berencana hamil?

Berikut Popmama.com telah merangkum informasi mengenai penyebab menurunnya kesuburan di usia 35 tahun dari berbagai sumber. Yuk, disimak, Ma!

1. Jumlah sel telur memengaruhi kesuburan

Freepik.com

Dilansir Fertility Institute of Hawaii, bayi perempuan dilahirkan dengan memiliki 1-2 juta sel telur yang belum matang dalam ovariumnya. Namun jumlah ini akan turun sekitar 300.000-500.000 saat seorang perempuan memasuki masa pubertas. Penurunan ini tidak hanya terjadi pada kuantitas, tetapi juga kualitas sel telur.

Penurunan sel telur berlangsung terus seiring bertambahnya usia. Pada saat perempuan memasuki usia 30-an, cadangan sel telur menjadi jauh lebih rendah. Ahli menyebutkan bahwa usia 35 tahun sebagai fase krusial ketika kualitas sel telur sudah semakin berkurang, dan menjadi aspek mendasar dari penurunan kesuburan.

Dengan kondisi tersebut, perempuan berusia 35 tahun dan usia di atasnya menghadapi tantangan besar untuk memiliki keturunan. Meski demikian, ini bukan berarti kehamilan tidak mungkin terjadi. Peluang unutk tetap hami tetap ada, hanya saja cenderung kecil dibandingkan usia lebih muda.

2. Garis waktu penurunan kesuburan perempuan

Freepik.com/pch.vector

Calon orangtua harus memiliki pengetahuan mengenai kapan kesuburan mulai berkurang. Bagi perempuan kesuburan tidak terjadi secara tiba-tiba pada usia tertentu melainkan secara bertahap. Berikut garis waktu penurunan kesuburan pada perempuan:

  • Usia 20-an

    Fase ini ditandai sebagai akhir dari masa remaja hingga pada pertengahan usia 20-an. Usia 20-an dianggap sebagai masa paling subur bagi seorang perempuan. Para ahli menyebut, sebagaimana dilansir dari British Fertility Society, peluang hamil mencapai 25% dalam setiap siklus menstruasi. Dalam periode ini, peluang pembuahan berada pada puncaknya.

  • Usia 30-an

    Pada periode ini, penurunan kesuburan telah terjadi secara bertahap. Namun, pada umumnya, perempuan yang memasuki awal 30 tahun dikatakan masih cukup subur. Peluang untuk hamil cukup baik meskipun sedikit lebih rendah dari usia 20-an. Pada pertengahan usia 30-an, baik kuantitas maupun kualitas sel telur cenderung menurun lebih cepat. Inilah mengapa usia 35 tahun memiliki peluang rendah untuk hamil pada setiap siklus menstruasi, dalam dunia kedokteran dikenal sebagai kehamilan lanjut usia. Sedangkan  memasuki akhir usia 30-an, ini ditandai sebagai periode kritis dalam usia dan peluang kehamilan.

  • Usia 40-an

    Memasuki usia 40-an, kesuburan pada perempuan terjadi secara substantial. Hingga usia ini, Cadangan ovarium sangat rendah dan sel telur tersebut sudah menua. Kemampuan untuk hamil di usia ini berkurang dibandingkan pada usia 20-an atau 30-an. Pada beberapa individu, di usia ini masih dapat berovulasi dan hampil namun peluang per siklus rendah. Memasuki usai 45, kehamilan sudah jarang terjadi. Sedangkan  masa monopause terjadi pada usia 50-51 tahun.

3. Stres memengaruhi kesuburan

Freepik.com

Mengalami stres merupakan hal yang normal. Namun, ahli menilai bahwa stre yang erlebihan dan tidak ditangani oleh profesional dapat menjadi sumber masalah tersendiri.

Stres meningkatkan hormon seperti kortisol yang dapat mengganggu siklus menstruasi dan proses ovulasi jika berlangsung lama atau bersifat kronis. Gaya hidup serta tuntutan dalam merencanakan kelurga serta tekanan dapat menjadi sumber stres. Di tengah proses tersebut, pasangan harus hadir secara emosional dan mendukung satu sama lain.

4. Risiko komplikasi saat kehamilan

Freepik.com

Sama halnya dengan kehamilan di usia muda, kehamilan di usia 35 tahun ke atas memiliki risiko komplikasi yang perlu Mama waspadai. Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormon, berkurangnya jumlah dan kualitas sel telur, serta kondisi fisik yang tidak lagi prima.

Risiko komplikasi yang muncul dapat berupa diabetes, gangguan pada plasenta hingga tekanan darah tinggi. Selain pada ibu hamil, risiko pada bayi meliputi kelainan kromosom, keguguran, dan berat badan bayi yang rendah.

Karena itu bagi perempuan berusia 35 tahun yang berencana hamil, sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu degan dokter kandungan. Penerapan gaya hidup yang sehat disamping menjaga frekuensi hubungan intim, dapat membantu meningkatkan peluang kehamilan di usia tersebut.

5. Pencegahan yang dapat dilakukan

Freepik.com

Bagi Mama yang merencanakan kehamilan di usia 35-an, tips berikut mungkin bermanfaat:

  • Pertahankan berat badan yang sehat. Olahraga yang intensif dapat membantu mempertahankan berat badan yang optimal.

  • Berhenti merokok. Tembakau memiliki efek negatif pada penurunan kesuburan serta kesehatan Mama secara umum.

  • Hindari alkohol. Konsumsi alkohol berlebih juga dapat menyebabkan penurunan kesuburan.

  • Kurangi stres. Beberapa penelitian  menunjukan bahwa stres dapat menyebabkan pasangan mengalami hasil yang buruk dalam proses kehamilan.

Itulah penyebab kurangnya kesuburan pada perempuan. Pilihan tetap ada di tangan Mama dan tentunya bersama Papa ya, mengenai kehamilan ini. apapun keputusannya, jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter saat merencanakan kehamilan agar mendapat arahan yang tepat.

Editorial Team