“Karena telur-telur ini sulit sekali untuk tumbuh dan berovulasi, jadi menumpuk dan akhirnya membentuk suatu gambaran yang kita sebut sebagai polycystic,” ungkap dr. Gita Pratama.
Mengapa Nama PCOS Berganti Menjadi PMOS? Simak Alasan Lengkapnya!

Perubahan nama PCOS menjadi PMOS diumumkan melalui The Lancet pada Mei untuk menghindari istilah “kista” yang dinilai menyesatkan kondisi sebenarnya.
PMOS dianggap lebih tepat karena mencakup gangguan hormonal, metabolik, ovarium, kulit, dan siklus menstruasi.
Penderita PMOS dapat mengalami jerawat, rambut berlebih, menstruasi tidak teratur, kenaikan berat badan, gangguan mental, hingga kesulitan hamil.
Pada bulan Mei tahun ini, perubahan nama dari PCOS menjadi PMOS resmi diumumkan melalui jurnal kesehatan The Lancet. Sehingga menjadikan pengumuman ini sebagai sorotan besar di dunia medis maupun bagi banyak perempuan.
Perubahan nama dilakukan bukan tanpa alasan yang kuat, melainkan agar istilah yang digunakan tidak lagi menyesatkan. Penggunaan Polycystic Ovary Syndrome dinilai tidak menggambarkan kondisi penyakit yang sebenarnya.
Selama ini, istilah kista dalam nama PCOS sering membuat Mama salah paham. Maka pada Kamis, 24 September 2026 untuk memperingati PMOS Awareness Month, Popmama.com telah rangkum terkait informasi yang Dr. dr. Gita Pratama, Sp.O.G, Subsp. F.E.R., M. Rep.Sc dari RS Pondok Indah ungkapkan!
Table of Content
1. Menghindari istilah kista yang kurang tepat

Popmama.com/Reisya Adelia/AI Alasan dibalik perubahan nama ini adalah untuk menghindari istilah yang kurang tepat, kata polycystic pada PCOS sering membuat pasien mengira memiliki kista berbahaya. Padahal, kondisi yang sebenarnya terjadi bukanlah jenis kista seperti endometriosis.
Hal ini ditegaskan juga oleh dr. Gita Pratama kalau ternyata yang ditemukan ialah penumpukan sel telur dengan jumlah sangat banyak, sel-sel telur tersebut hadir melebihi batas normal sehingga saling menumpuk di dalam ovarium.
2. PCOS dinilai kurang lengkap menggambarkan penyakit

Popmama.com/Reisya Adelia/AI Selain istilah yang kurang tepat, ada hal yang tidak kalah penting yaitu nama PCOS dinilai tidak lengkap dalam menggambarkan penyakit. Istilah lama seakan berfokus hanya pada masalah indung telur atau ovarium saja, padahal dampaknya dapat menyebar luas ke berbagai organ dan sistem di dalam tubuh.
Kondisi ini tidak hanya sekedar gangguan indung telur semata, sebaliknya justru gangguan yang dialami bisa memengaruhi sistem metabolisme tubuh, kondisi kulit, hingga siklus menstruasi.
“Makanya akhirnya diubah menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome, artinya polyendocrine itu memang penyakit hormonal. Sehingga kata polyendocrine lebih tepat karena adanya gangguan metabolik juga,” ungkap dr. Gita.
3. Gangguan yang terjadi pada penderita PMOS

Popmama.com/Reisya Adelia/AI Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) sebenarnya melibatkan gangguan dalam berbagai aspek dalam tubuh penderitanya. Mulai dari gangguan endokrin yang memengaruhi hormon perempuan hingga adanya gangguan metabolik.
Gangguan yang dapat terjadi:
- Jerawat dan kulit sangat berminyak
- Tumbuh rambut berlebih di area wajah, dagu, dan tubuh
- Menstruasi tidak teratur
- Stres dan gangguan kesehatan mental
- Berat badan naik drastis
- Sulit untuk hamil
Gangguan pada ovarium ini dapat memicu siklus haid Mama tidak teratur, maka memahami sinyal dari tubuh bisa menjadi langkah pencegahan yang tepat!






















