Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Papa Wajib Tahu, Ini Dia Ciri-Ciri Sperma Berkualitas dan Bagus!
Freepik/benzoix
  • Kualitas sperma berperan penting dalam keberhasilan pembuahan, dengan indikator utama meliputi jumlah minimal 15 juta per mililiter, motilitas aktif, serta bentuk dan struktur yang normal.
  • Faktor seperti warna, tekstur, bau air mani, serta keseimbangan pH antara 7,2–8,0 menjadi penanda kesehatan sperma dan lingkungan reproduksi yang mendukung proses pembuahan alami.
  • Gaya hidup sehat, nutrisi bergizi, dan pemeriksaan medis rutin membantu menjaga kualitas sperma agar mampu menghasilkan embrio kuat serta meningkatkan peluang kehamilan yang sukses.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mama dan Papa, sedang berusaha untuk memperoleh garis dua atau baru saja memikirkan untuk memulai program hamil, nih? Menyiapkan kedatangan si Kecil memang merupakan pengalaman yang sangat menegangkan sekaligus memerlukan persiapan yang matang, ya, Ma, Pa. Kesehatan Mama bukanlah satu-satunya yang perlu diperhatikan, kualitas sperma Papa juga memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pembuahan setiap bulannya, lho.

Sering kali, Papa merasa sudah dalam kondisi fisik yang baik karena rutin berolahraga atau menikmati makanan enak, tetapi ada beberapa aspek kecil pada sperma yang hanya bisa diidentifikasi melalui pemeriksaan medis, nih, Pa. Memahami ciri sperma yang berkualitas bukan sekadar soal gaya hidup atau kejantanan saja, lho, Pa. Ada berbagai indikator medis yang menentukan apakah sperma tersebut mampu menempuh perjalanan jauh menuju sel telur dan melakukan tugasnya dengan sempurna.

Terkait hal ini, Prof. Dr. dr. Silvia Werdhy Lestari, M. Biomed, Sp. And, seorang Spesialis Andrologi, melalui edukasinya di Instagram @dokterandrologi mengingatkan bahwa banyak pasangan yang ingin hamil secara alami tetapi kurang memperhatikan keadaan sperma. Di sisi lain, dr. Darrel Fernando, Sp. OG Subsp. FER, juga menggarisbawahi bahwa pembuahan adalah kolaborasi hebat antara sperma Papa yang sehat dan kondisi rahim Mama yang harus siap menyambut calon janin.

Pengetahuan ini sangat penting agar Mama dan Papa tidak lagi terjebak dalam perasaan "menebak" atau hanya berharap pada keberuntungan. Dengan memahami ciri-ciri sperma yang baik, Papa bisa lebih aktif dalam menjaga kesehatan reproduksinya.

Nah, daripada penasaran, Popmama.com kupas satu per satu ciri-ciri sperma unggulan yang telah dirangkum khusus untuk Mama dan Papa berikut ini!

1. Jumlah konsentrasi yang melimpah sesuai standar WHO

Freepik/freepik

Kuantitas atau jumlah sperma merupakan hal pertama yang biasanya jadi perhatian saat Papa melakukan analisis semen di laboratorium. Data medis terbaru merujuk pada WHO Laboratory Manual for the Examination and Enumeration of Human Semen edisi ke-6. Berdasarkan standar global ini, konsentrasi sperma yang dianggap normal adalah minimal 15 juta sperma per mililiter air mani, dengan total jumlah sperma dalam satu kali ejakulasi setidaknya mencapai 39 juta.

Angka-angka ini bukan sembarangan ya, Pa! Standar WHO ini diambil berdasarkan penelitian terhadap ribuan laki-laki di berbagai negara yang pasangannya berhasil hamil dalam waktu kurang dari satu tahun. Jadi, apabila hasil analisis Papa berada di rentang angka ini atau lebih, artinya Papa memiliki "pasukan" yang cukup besar secara statistik untuk memulai proses pembuahan alami tanpa bantuan teknologi reproduksi.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam penjelasannya di video edukasi Instagram, Prof. Silvia menekankan bahwa untuk mendapatkan kehamilan alami, jumlah puluhan juta adalah sebuah keharusan demi efektivitas pembuahan.

"Ya ini sering banget pasien kita itu maunya seperti itu ya, maunya alami terus tanpa tahu kalau spermanya mengalami gangguan, atau bahkan sedikit atau tidak ada sama sekali. Jadi kalau misalnya mau alami kita butuh sperma yang bergerak bagus itu sampe puluhan juta," ungkapnya.

Jika jumlahnya dirasa kurang, jangan berkecil hati dulu ya, Pa. Prof. Silvia juga menyebutkan adanya opsi medis lain sesuai kondisi.

"Tapi kalau di bawah itu, nggak nyampe sepuluh juta mungkin kita akan inseminasi. Tapi kalau sangat sedikit di bawah satu juta atau tidak ada sama sekali, kita sebut sebagai Azoospermia, itu biasanya kita bayi tabung atau IVF," tambahnya.

Artinya, meski jumlahnya terbatas, kesempatan untuk menjadi orang tua tetap terbuka lebar dengan bantuan medis yang tepat ya, Ma, Pa.

2. Kemampuan bergerak aktif dan lincah (motilitas)

Freepik/freepik

Sperma yang berkualitas bukan cuma harus banyak jumlahnya, tetapi juga harus jadi "perenang" yang andal dan punya arah yang jelas, Pa. Motilitas sendiri merupakan kemampuan sperma untuk bergerak maju secara lincah menuju sel telur Mama. World Health Organization (WHO) menetapkan, setidaknya 40% dari total sperma Papa harus memiliki kemampuan bergerak, dengan minimal 32% di antaranya menunjukkan pergerakan maju yang cepat atau progresif.

Papa, pasti penasaran kenapa sih pergerakan ini begitu penting? Dalam video edukasi bersama Prof. Silvia, Dr. Darrel Fernando menjelaskan bahwa lokasi pembuahan itu letaknya cukup jauh dan tersembunyi.

"Teman-teman perlu tahu bahwa pembuahan itu terjadi di saluran telur, namanya tuba falopi. Jadi syarat hamil, itu kalau misalnya mau hamil alami, salah satunya kalau misalnya tadi spermanya baik, maka akan terjadi pembuahan di saluran telur," ungkapnya.

Jadi, tanpa kemampuan berenang yang lincah, sperma Papa nggak akan pernah sampai ke garis finish di tuba falopi tepat waktu, meskipun secara jumlah mungkin sudah mencukupi. Bayangkan saja seperti lomba lari marathon, Pa, walaupun pesertanya banyak, hanya mereka yang punya stamina dan kecepatan yang bisa sampai ke ujung. Nah, sama halnya dengan sperma yang hanya bergerak di tempat atau berputar-putar tentu akan kalah bersaing dalam perlombaan ini.

Melengkapi hal ini, riset kesehatan dari Harvard Medical School juga menunjukkan bahwa gaya hidup Papa sangat memengaruhi kecepatan renang sperma ini, lho. Kebiasaan merokok, kurang tidur, hingga paparan panas berlebih pada area testis (seperti sering memangku laptop panas) dapat menurunkan motilitas sperma secara drastis. Yuk, Pa, mulai sekarang lebih perhatian lagi dengan kebiasaan sehari-hari agar sperma Papa makin gesit berenang.

3. Warna, tekstur, dan bau yang normal

Freepik/freepik

Nah, Pa, ternyata ciri fisik air mani juga bisa memberikan petunjuk awal mengenai kualitas sperma di dalamnya. Sperma yang bagus biasanya terkandung dalam cairan berwarna putih keabu-abuan atau sedikit kekuningan dengan aroma khas yang tidak menyengat. Jika air mani berubah warna menjadi kemerahan atau cokelat, Papa perlu waspada ya karena itu bisa menjadi indikasi adanya infeksi atau peradangan pada saluran reproduksi.

Selain warna, tekstur atau kekentalan juga sangat penting, nih, Pa. Air mani harus mampu mencair (likuifaksi) dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah keluar. Jika air mani Papa tetap kental dalam waktu yang lama, maka sperma juga jadi sulit untuk melepaskan diri dan berenang menuju rahim Mama. Nah, kondisi ini seringkali menjadi penghambat tersembunyi dalam proses pembuahan alami.

Dr. Darrel mengingatkan bahwa jalur pertemuan antara sperma dan sel telur harus benar-benar bersih dan lancar.

"Tempat dia mau ketemu spermanya, yaitu di saluran telur, tidak boleh mampet," ungkapnya dalam video edukasi bersama Prof. Silvia.

Jika cairan pengantar sperma Papa terlalu kental atau ada gangguan lainnya, maka pertemuan romantis di saluran telur Mama pun akan sulit terwujud. Jadi, inilah mengapa tekstur yang ideal sangat mendukung efisiensi perjalanan sperma.

Secara medis, jika air mani Papa memiliki bau yang sangat tajam atau tekstur yang tampak tidak wajar, jangan ragu untuk segera mengonsultasikannya ke dokter spesialis Andrologi, ya, Pa. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan tidak ada infeksi yang bisa mengganggu kualitas sperma maupun kesehatan reproduksi Mama nantinya saat terjadi pembuahan.

4. Bentuk sperma yang sempurna (morfologi)

Freepik/freepik

Morfologi merujuk pada struktur fisik sperma, yang idealnya terdiri dari kepala berbentuk oval dan ekor tunggal yang panjang, Pa. Dalam hal ini, kepala sperma sangat krusial karena di sanalah materi genetik disimpan dan terdapat enzim khusus untuk menembus dinding sel telur. Menurut kriteria Kruger, sperma dikatakan berkualitas jika setidaknya 4% dari total sampel memiliki bentuk yang benar-benar sempurna.

Bentuk yang tidak sempurna, seperti kepala yang terlalu besar atau ekor yang ganda, akan menghambat kemampuan sperma untuk menembus sel telur secara efektif. Prof. Silvia juga mengingatkan bahwa gangguan pada bentuk dan jumlah ini seringkali memerlukan penanganan khusus jika Papa dan Mama ingin segera menimang buah hati.

Studi internasional yang diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction Update juga menunjukkan bahwa morfologi yang buruk seringkali berkaitan dengan kerusakan DNA di dalamnya. Jika sperma dengan bentuk yang tidak sempurna berhasil membuahi, risiko kegagalan perkembangan embrio bisa meningkat. Jadi, bentuk sperma Papa bukan cuma soal penampilan, tapi soal kualitas "isi" yang dibawa untuk masa depan janin.

Nah, agar morfologi sperma tetap prima, Papa sangat disarankan mengonsumsi makanan yang kaya akan antioksidan dan Zinc. Nutrisi ini berfungsi untuk melindungi sel sperma dari kerusakan selama proses pembentukannya di dalam testis. Jadi, pastikan piring makan Papa selalu berisi menu bergizi seimbang ya, agar bibit yang dihasilkan benar-benar berkualitas unggul.

5. Kadar pH yang seimbang dan lingkungan yang suportif

Freepik/freepik

Sperma membutuhkan lingkungan yang sangat spesifik untuk bisa bertahan hidup dan menjalankan tugasnya, lho, Pa. World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa standar pH air mani yang sehat harus bersifat sedikit basa, yaitu berkisar antara 7,2 hingga 8,0. Sifat basa ini berfungsi sebagai "perisai" pelindung sperma saat mereka harus menghadapi lingkungan vagina Mama yang secara alami bersifat sangat asam.

Keseimbangan pH ini sangat penting agar proses pembuahan berjalan lancar tanpa terganggu oleh risiko infeksi. Dr. Darrel juga menekankan pentingnya mengevaluasi kondisi lingkungan tempat sperma akan mendarat nantinya.

"Bagaimana kondisi rongga rahimnya, itu juga perlu kita perhatikan, jangan-jangan ada miom, ada misalnya peradangan, endometritis, yang membuat terjadi pembuahan tapi nggak bisa nempel," jelasnya.

Dr. Darrel juga menambahkan evaluasi dari sisi Obgyn penting dilakukan, Pa, karena sperma yang bagus sekalipun akan sulit bertahan jika lingkungan rahim sedang tidak optimal.

"Itu adalah hal-hal yang kita perlu sama-sama evaluasi dari sisi obgynnya," tambahnya.

Jadi, program hamil memang harus dilakukan secara dua arah, baik dari sisi Papa yang menyiapkan sperma terbaik, maupun Mama yang menyiapkan "rumah" yang nyaman.

Menjaga asupan nutrisi dan mengelola stres dengan baik jiga dapat membantu Papa menjaga pH air mani tetap berada pada rentang ideal, nih. Kalau pH terlalu asam, sperma Papa bisa cepat mati bahkan sebelum mereka sempat memulai perjalanannya menuju sel telur.

6. Kualitas embrio dan keberhasilan penempelan

Freepik/freepik

Nah, tujuan akhir dari semua kriteria sperma yang berkualitas adalah menghasilkan embrio yang kuat dan mampu menempel sempurna di rahim. Sperma yang bagus akan membawa materi genetik yang utuh, Pa, sehingga bisa membentuk janin yang sehat dan berkembang baik. Jadi, kalau kualitas spermanya kurang optimal, meskipun terjadi pembuahan, embrio tersebut mungkin akan sulit untuk bertahan dan berkembang.

Dr. Darrel Fernando menjelaskan proses yang sangat krusial setelah pembuahan terjadi

"Hasil pembuahan tersebut embrio, dia akan masuk balik ke dalam rahim. Nah, dia akan menempel di bagian rongga rahim, namanya endometrium," paparnya.

Jadi, kualitas penempelan atau implantasi ini sangat bergantung pada kualitas sperma yang membuahi sel telur tersebut sejak awal di saluran tuba.

Mendukung hal tersebut, penelitian medis dari American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menunjukkan bahwa tingkat fragmentasi DNA yang tinggi pada sperma berkorelasi kuat dengan kegagalan implantasi (penempelan embrio) dan risiko keguguran berulang. Selain itu, studi dalam jurnal Fertility and Sterility menjelaskan bahwa sperma dengan integritas DNA yang baik memiliki peluang jauh lebih tinggi untuk menghasilkan bayi yang lahir dengan selamat melalui proses kehamilan yang sehat.

Jadi, jangan pernah ragu untuk mulai memperbaiki pola hidup bersama-sama ya, Ma dan Pa. Setiap langkah kecil yang Papa lakukan untuk meningkatkan kualitas sperma sangatlah berarti untuk masa depan keluarga. Semangat terus untuk para pejuang garis dua, semoga si Kecil yang dinanti segera hadir mewarnai hari-hari Mama dan Papa.

Kalau Papa sendiri, sudahkah mulai memperbaiki pola hidup sehat demi hadirnya si Kecil?

Editorial Team