Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Perbedaan Perut Kembung Akibat Kista dan Lemak, Jangan Tertukar Ma!
Popmama.com/Erica Santoso/AI
  • Artikel menjelaskan pentingnya membedakan perut buncit akibat lemak, kembung, dan kista ovarium karena masing-masing memiliki penyebab serta penanganan medis yang berbeda.
  • Perbedaan utama terlihat dari durasi perubahan bentuk perut, tekstur saat disentuh, serta gejala penyerta seperti gangguan pencernaan atau nyeri panggul.
  • Lemak perut dipicu gaya hidup dan bisa dikurangi dengan olahraga serta pola makan sehat, sedangkan kista memerlukan pemeriksaan dokter karena terkait gangguan hormon dan organ reproduksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sering kali kita merasa kesal ya, Ma, saat berkaca dan melihat perut tampak lebih buncit dari biasanya. Pikiran pertama yang terlintas pasti, "Duh, timbangan naik lagi nih, lemak perut makin tebal!" Padahal, perut yang membesar tidak melulu disebabkan oleh timbunan lemak setelah kita hobi ngemil atau kurang berolahraga, lho. Ada kalanya kondisi tersebut sebenarnya adalah perut kembung atau bahkan tanda adanya masalah medis lain, seperti kista ovarium.

Mengetahui perbedaan antara perut buncit karena lemak, kembung biasa, atau kista sangatlah penting bagi perempuan dewasa seperti kita. Pasalnya, penanganan untuk ketiga kondisi ini tentu berbeda total. Jangan sampai kita salah menduga; berniat mati-matian melakukan diet ketat untuk memangkas lemak, padahal yang sedang dialami tubuh adalah masalah pencernaan atau gangguan pada organ reproduksi yang butuh penanganan dokter.

Menurut ulasan medis dari Dr. Sonal Kumar di situs Health, perut kembung umumnya terjadi karena masalah gas atau pencernaan yang sifatnya sementara. Namun, jika kembung ini terasa sangat berat, sering kambuh, dan tidak kunjung kempes, Mama perlu waspada. Salah satu kondisi serius yang gejalanya mirip dengan perut kembung kronis adalah adanya tumor perut atau tumor ovarium (kista/kanker ovarium) yang membuat area perut membuncit dan terasa penuh.

Kali ini Popmama.com bagikan beberapa perbedaan perut kembung akibat kista dan lemak yang perlu Mama ketahui. Yuk, kita bedah bersama-sama apa saja perbedaan mendasar agar Mama tidak salah mengenali sinyal yang diberikan oleh tubuh! 

1. Sifat dan durasi perubahan bentuk perut

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Perbedaan paling mudah yang bisa Mama amati pertama kali adalah dari segi waktu dan sifat kemunculannya. Jika perut membesar karena kembung akibat produksi gas berlebih di dalam saluran pencernaan, sifatnya cenderung hanya sementara dan sangat fluktuatif, Ma. Biasanya perut akan terasa semakin membesar atau membuncit secara mendadak setelah Mama selesai mengonsumsi makanan tertentu atau di malam hari, namun kondisi ini bisa membaik dan kempes kembali dengan cepat dalam waktu satu hari.

Sebaliknya, jika ukuran perut bertambah karena tumpukan lemak, prosesnya tidak terjadi dalam semalam melainkan berkembang secara bertahap dalam waktu yang cukup lama. Tumpukan lemak ini bersifat menetap dan tidak akan berubah ukurannya hanya karena Mama melewatkan satu porsi makan malam. Lemak subkutan maupun visceral membutuhkan konsistensi olahraga dan defisit kalori agar volumenya bisa menyusut.

Begitu pula dengan pembesaran perut yang disebabkan oleh kista ovarium atau masalah medis serupa. Perut yang membuncit akibat adanya pertumbuhan cairan, jaringan, atau massa kista di dalam rongga panggul tidak akan mengecil dalam hitungan jam. Bentuk perut cenderung menetap dan justru akan semakin membesar seiring berjalannya waktu tanpa terpengaruh oleh siklus pencernaan harian Mama.

2. Tekstur perut saat disentuh dan dicubit

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Cobalah sesekali meraba dan rasakan tekstur permukaan perut Mama saat sedang santai, yuk! Perut buncit yang murni disebabkan oleh penumpukan lemak subkutan (lemak yang berada tepat di bawah jaringan kulit) umumnya akan terasa empuk, lembut, dan sangat mudah untuk dicubit dengan jari tangan. Lapisan lemak ini terasa fleksibel dan mengikuti gerakan tangan saat Mama mencoba memegangnya.

Nah, kondisinya akan berbanding terbalik jika perut Mama membuncit akibat kembung atau menyembunyikan masalah medis seperti kista. Perut kembung biasanya memicu tekanan udara yang kuat di bawah tulang rusuk akibat akumulasi gas usus. Hal ini membuat dinding perut menjadi sangat tegang, sehingga saat dipegang atau ditekan, perut akan terasa kencang, keras, begah, dan sangat sulit untuk dicubit.

Sementara itu, pada kasus kista ovarium yang ukurannya sudah mulai membesar, area perut bagian bawah sering kali akan terasa padat saat diraba. Karena kista merupakan massa fisik yang tumbuh di organ reproduksi, kehadirannya membuat area panggul terasa penuh. Tidak jarang, Mama juga akan merasakan sensasi nyeri atau rasa tidak nyaman yang menusuk ketika area perut bawah tersebut tidak sengaja tertekan.

3. Gejala yang dirasakan tubuh

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Mama juga bisa membedakan ketiga kondisi ini dari sinyal-sinyal atau gejala penyerta lain yang ikut dikirimkan oleh tubuh. Perut kembung yang normal biasanya murni disertai dengan masalah di saluran pencernaan, Ma. Saat mengalaminya, Mama akan sering merasa ingin bersendawa, buang angin (kentut), atau merasakan kram perut jangka pendek yang akan langsung mereda setelah gas di dalam perut berhasil dikeluarkan.

Namun, jika buncitnya perut disebabkan oleh adanya pertumbuhan kista, biasanya ada gejala hormonal dan gangguan sistem reproduksi yang ikut mengiringi. Misalnya saja siklus menstruasi Mama mendadak menjadi tidak teratur, sering muncul flek di luar jadwal haid, hingga rasa nyeri hebat di panggul saat datang bulan atau saat berhubungan intim. Selain itu, kantung kista yang membesar bisa menekan kandung kemih, membuat Mama jadi lebih sering bolak-balik buang air kecil.

Bagaimana dengan lemak perut? Tumpukan lemak murni di area perut sama sekali tidak memicu gejala-gejala fisik mendadak seperti gangguan pencernaan ataupun nyeri panggul. Penumpukan lemak hanya akan memberikan perubahan pada bentuk fisik tubuh, lingkar pinggang yang bertambah luas, serta perubahan berat badan pada timbangan tanpa disertai rasa sakit fisik yang intens.

4. Respons perut terhadap perubahan gaya hidup

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Coba perhatikan bagaimana cara perut tersebut merespons usaha Mama saat mencoba untuk mengecilkannya. Lemak perut, baik jenis subkutan maupun lemak visceral yang mengelilingi organ dalam, hanya bisa dikurangi secara bertahap melalui komitmen perubahan gaya hidup jangka panjang. Mama perlu melakukan olahraga aktif minimal 150 menit per minggu serta menjaga pola makan tinggi protein agar lemak terbakar.

Di sisi lain, perut kembung biasa yang disebabkan oleh masalah pencernaan akan memberikan respons yang jauh lebih cepat. Perut yang begah bisa segera mereda dalam beberapa jam jika Mama menghindari pemicunya, seperti mengurangi konsumsi minuman bersoda, mengunyah makanan lebih lambat, atau dibantu dengan mengonsumsi obat-obatan OTC (over-the-counter) seperti antasida dan suplemen enzim pencernaan.

Namun, Mama patut menaruh kecurigaan jika perut tetap membuncit, terasa keras, dan begah meskipun Mama sudah melakukan diet ketat, aktif bergerak, serta menghindari makanan pemicu gas. Jika perut sama sekali tidak merespons segala bentuk diet dan usaha pengecilan tubuh, bisa jadi itu adalah indikasi adanya kista ovarium. Kondisi ini memerlukan pemeriksaan USG mendalam oleh dokter spesialis kandungan untuk penanganan medis yang tepat.

5. Faktor pemicu utama di dalam tubuh

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Memahami apa yang menjadi akar penyebab atau pemicu utama di dalam tubuh juga sangat membantu Mama dalam melakukan pencegahan dini. Penumpukan lemak perut biasanya dipicu oleh gaya hidup sehari-hari, seperti surplus kalori, tingkat stres kronis yang meningkatkan hormon kortisol, kurang tidur, hingga perubahan hormon estrogen alami yang biasa dialami perempuan menjelang atau setelah masa menopause.

Sedangkan perut kembung umumnya dipicu oleh kebiasaan sepele yang membuat gas menumpuk di saluran cerna. Mulai dari kebiasaan menelan banyak udara akibat makan terlalu cepat, merokok, mengunyah permen karet, hingga adanya kondisi medis tertentu pada pencernaan seperti penyakit GERD, Irritable Bowel Syndrome (IBS), maupun intoleransi terhadap laktosa.

Sangat berbeda dengan kedua kondisi di atas, pertumbuhan kista pada dasarnya berkaitan erat dengan kondisi medis sistem reproduksi perempuan. Kista terbentuk karena adanya gangguan pada proses ovulasi, fluktuasi hormon seksual, atau masalah kesehatan organ reproduksi lainnya yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan mengatur pola makan biasa. Mengetahui akar masalah ini membuat Mama bisa bertindak lebih bijak dalam menentukan langkah perawatan tubuh selanjutnya.


Mulai sekarang, yuk kita lebih peka lagi dalam mendengarkan setiap sinyal dan perubahan yang terjadi pada tubuh kita, Ma! Menjaga penampilan agar tetap bugar dan bebas dari lemak perut memang penting demi kesehatan jangka panjang. Namun, jangan lupakan bahwa kesehatan organ dalam dan reproduksi kita jauh lebih utama.

Jika Mama mendapati perut terus-menerus terasa keras, kembung tidak kunjung hilang dalam hitungan minggu, atau disertai nyeri panggul yang mengganggu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter, ya. Sayangi diri Mama terlebih dahulu, karena tubuh yang sehat adalah modal utama kita untuk bisa terus mendampingi dan memberikan kebahagiaan bagi keluarga tercinta di rumah. Tetap semangat dan sehat selalu, Mama!

Editorial Team