Ketahui Perbedaan Kista Ovarium, Miom Rahim, dan Endometriosis

- Kista ovarium, miom rahim, dan endometriosis adalah masalah kesehatan organ reproduksi perempuan dengan lokasi pertumbuhan yang berbeda.
- Perbedaan struktur jaringan pembentuk antara kista, miom, dan endometriosis mempengaruhi gejala yang muncul pada setiap kondisi.
- Penyebab dan faktor risiko kemunculan ketiga kondisi ini berbeda-beda, sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi tertentu.
Kista ovarium, miom rahim, dan endometriosis merupakan masalah kesehatan yang terjadi pada perempuan dimana terjadi petumbuhan abnormal pada organ reproduksi. Keluhan yang ditimbulkan pun mirip, seperti nyeri pada panggul dan gangguan menstruasi. Sehingga tak jarang, pada beberapa perempuan kondisi ini membuat susah hamil terutama jika tidak ditangani dengan tepat.
Dalam masyarakat, sering terjadi kekeliruan dalam mendefenisikan ketiga kondisi. Padahal, baik kista ovarium, miom rahim dan endometriosis, ketiganya merupakan masalah kesehatan organ reproduksi yang berbeda. Perbedaannya terdapat pada organ reproduksi yang berbeda, strukur dan jaringan pembentuk yang tidak sama serta penanganan yang berbeda .
Lalu, apa perbedaan di antara ketiganya?
Untuk mengetahui perbedaan kista ovarium, miom rahim dan endometriosis, yuk, simak informasi mengenai perbedaannya yang telah dirangkum oleh Popmama.com berikut ini.
Table of Content
1. Lokasi pertumbuhan kista ovarium, miom rahim, dan endometriosis

Perlu diketahui bahwa kista ovarium, miom dan endometriosis adalah tiga masalah kesehatan organ reproduksi yang berbeda ya Ma. Dilansir Mayo Clinic, kista ovarium berada di dalam atau di permukaan ovarium dan berbentuk cairan. Namun sebenarnya kista dapat terletak di mana saja, seperti hati, otak, ginjal, dan yang paling awam di dengar adalah kista ovarium. Sebagian besar kista ovarium terbentuk sebagai akibat dari siklus menstruasi yang disebut juga kista funsional.
Sementara endometriosis adalah jaringan abnormal yang tumbuh di luar rahim. Normalnya, jaringan endometrium tumbuh di dalam rahim, namun jaringan ini justru tumbuh di luar rahim. Jika jaringan ini tumbuh dan menempel pada ovarium, disebut sebagai endometrioma atau kista cokelat dan bisa menempel pada organ tubuh lain.
Sedangkan apa itu miom rahim?
Nah, miom atau uterine fibroids (myoma) adalah pertumbuhan sel non-kanker yang berkembang di dalam atau di dinding rahim. Miom dikenal juga sebagai tumor jinak.
2. Memiliki struktur jaringan pembentuk yang berbeda

Kista, miom, dan endometriosis memiliki perbedaan dari struktur jaringan pembentukanya. Dilansir American Fibroid Center, miom merupakan jenis tumor jinak yang berkembang di dalam dan di luar Rahim. Tumor jinak yang muncul ini mengandung struktur jaringan otot rahim dan bersifat padat. Sedangkan kista ovarium adalah kantung yang berisi cairan, bisa jernih atau cokelat.
Kista ovarium terbentuk dari cairan atau folikel pada ovarium yang menghasilkan hormon estrogen dan progestron. Jika folikel yang tumbuh terus-menerus tanpa melepaskan sel telur, maka kista ovarium dapat terbentuk. Umumnya, kista akan menghilang tanpa adanya pengobatan. Kista ovarium tidak menimbulkan gejala, namun dapat berbahaya jika terpelintir atau pecah (ruptur).
Sedangkan endometriosis terbentuk dari jaringan rahim yang tumbuh di luar rahim dan meradang. Endometriosis sering disalahartikan sebagai kista pada beberapa kondisi. Namun, yang perlu diingat, jika endometriosis tumbuh menempel pada ovarium maka kondisi tersebut disebut sebagai endometrioma atau chocolate cyst (kista cokelat). Dilansir dari Cleveland Clinic, jika kondisi ini timbul, maka ini menjadi pertanda bahwa kondisi endometriosis menjadi lebih parah.
3. Gejala kemunculan mirip

Kista ovarium, miom dan endosemiotris memiliki gejala yang serupa, yakni menstruasi yang berkepanjangan disertai rasa nyeri, baik saat menstruasi atau berhubungan intim, namun bisa berbeda tergantung ukuran dan kondisi tertentu.
Sedangkan miom dan kista ovarium umumnya tidak selalu menimbulkan gejala terutama jika ukurannya kecil. Kista ovarium menimbulkan gejala seperti nyeri pada area bawah perut dan payudara. Tingkatnya bervariasi mulai dari nyeri yang terasa ringan hingga berat. Pada area perut, nyeri yang timbul bisa hilang dan muncul kembali dan bisa terjadi baik pada sisi perut sebelah kanan maupun kiri.
Nyeri akibat kista ovarium bisa timbul kembali ketika penderita melakukan hubungan intim. Gejala lainnya yang timbul adalah menstruasi yang lebih banyak dan masalah pada pencernaan seperti cepat merasa kenyang dan perut kembung.
Pada miom, gejala muncul ketika mengalami pendarahan menstruasi yang berat atau lebih dari 7 hari disertai nyeri panggul dan sering buang air kecil. Dapat juga disertai kram hebat saat menstruasi dan nyeri saat berhubungan intim.
Gejala utama endomesiotris menyebabkan penderitanya merasakan nyeri dan kram hebat pada perut bagian bawah. Selain itu beberapa gejala lainnya seperti sakit punggung, mual dan muntah, merasakan nyeri hebat saat buang air kecil dan buang air besar, perdarahan di luar siklus menstruasi, volume darah yang berlebihan saat menstruasi, dan nyeri pada saat atau setelah berhubungan intim.
4. Penyebab kista ovarium, miom rahim, endometriosis

Penyebab kondisi kesehatan ini dapat bermacam-macam. Dilansir dari American Fibroid Centers, kista ovarium terbentuk secara alami dan sebagai bagian dari siklus menstruasi atau sebagai akibat dari kondisi lain seperti endometriosis.
Kista ovarium dibagi menjadi kista fungsional dan kista patologis. Kista fungsional muncul ketika sel telur terlepas dan bertambah semakin banyak. Jenis kista ini paling sering dialami wanita dan tidak berbahaya. Kista fungsional bisa menghilang dengan sendirinya selama dua hingga 3 periode menstruasi.
Sedangkan kista patologis tidak berhubungan dengan siklus menstruasi dan muncul akibat dari pertumbuhan sel yang tidak normal, misalnya kista cokelat. Kista ini termasuk dalam tumor ovarium jinak.
Penyebab endometriosis dan miom hingga saat masih belum diketahui secara pasti. Namun, miom sendiri sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progestron serta faktor keturunan. Dilansir Mayo Clinic, para ahli berpendapat bahwa hormon atau faktor imun juga berperan dalam membentu endomtriosis.
5. Faktor risiko kemunculan

Hampir setiap bulan, ovarium membentuk kantung-kantung kecil berisi folikel. Folikel sendiri merupakan cairan yang menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Folikel ini juga berfungsi melepaskan sel telur selama ovulasi ketika pecah. Namun, jika folikel terus tumbuh tanpa melepaskan sel telur, maka kista dapat terbentuk.
Miom umumnya terjadi pada perempuan usia 30-50 tahun. Penderita miom bisa memiliki satu atau beberapa benjolan dengan ukuran yang berbeda. Meskipun beberapa miom berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, pada beberapa kasus benjolan dapat tumbuh menjadi besar dan dapat menyebabkan berbagai gejala yang dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup seorang perempuan.
Sedangkan endometriosis dapat dialami setiap perempuan, namun sering ditemui pada perempuan berusia 20-45 tahun. Beberapa faktor resiko terkena endometriosis adalah jika menderita kelainan rahim, mulai menstruasi yang terlalu muda, memiliki siklus haid yang singkat dan memiliki berat badan rendah.
6. Penanganan disesuaikan dengan kondisi tertentu

Penanganan kista, miom, dan endometriosis sangat tergantung pada gejala serta ukuran. Dilansir American Fibroid Centers, seperti yang sudah dijelaskan bahwa kista akan menghilang dengan sendirinya sehingga seringkali dokter akan menerapkan pendekatan seperti observasi secara berkala, guna mengetahui perkembangan dari ukuran kista tersebut. Sedangkan pada miom, tindakan tidak selalu diambil jika tidak menimbulkan keluhan yang signifikan.
Dokter akan menyarankan terapi hormon guna untuk mengontrol gejala. Namun pada kondisi ukuran kista dan miom yang membesar dan menggangu aktivitas dokter akan melakukan prosedur pengangkatan kista dan miom, hingga pada pengangkatan rahim pada kondisi tertentu.
Pada endometriosis, pemeriksaan fisik seperti panggul dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi kelainan pada organ reproduksi. Selanjutnya beberapa pemeriksaan seperti USG atau USG Transvaginal dan biopsi juga dilakukan untuk melihat kondisi rahim dan mengambil sampel jaringan dalam rahim.
Dalam pengobatannya, metode pengobatan akan disesuaikan dengan usia pasien, tingkat keparahan gejala dan penyakit serta keinginan pasien untuk memiliki anak. Penanganan yang direkomendasikan oleh dokter seperti, diberikan obat pereda nyeri dan terapi hormon. Pemeriksaan rutin dan konsultasi bersama dokter membantu memastikan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai dengan kebutuhan kondisi masing-masing.
Penanganan perlu disesuaikan dengan kondisi tertentu karena setiap individu memiliki kebutuhan dan respons tubuh yang berbeda. Faktor seperti usia, tingkat keparahan kondisi, riwayat kesehatan, serta gaya hidup menjadi pertimbangan penting sebelum menentukan langkah penanganan yang tepat.
Dengan pendekatan yang sesuai, penanganan dapat dilakukan secara lebih efektif dan aman. Konsultasi dengan tenaga profesional juga dianjurkan agar solusi yang diberikan tidak hanya meredakan gejala, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.
Itulah perbedaan dari kista ovarium, miom rahim, dan endometriosis, ya. kenali gejalanya dan konsultasikan ke dokter agar mendapat diagnosis yang tepat.

-T95zEqWZxoeuSDf3BDYQyfhVcrQQIFzD.jpg)

-578izNHo2JYeXWwAcKF1HyqxIFnQYV4y.jpg)















