Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perbedaan Endometriosis dan Adenomiosis, Sering Tertukar!
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
  • Endometriosis terjadi saat jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim, sedangkan adenomiosis muncul ketika jaringan tersebut menyusup ke dalam otot rahim dan menyebabkan pembengkakan.
  • Keduanya menimbulkan nyeri haid hebat, namun endometriosis memicu nyeri panggul menyebar dan kista luar rahim, sementara adenomiosis menimbulkan kram intens serta perdarahan menstruasi sangat deras.
  • Endometriosis lebih sering menyerang perempuan muda dan didiagnosis lewat laparoskopi, sedangkan adenomiosis umum pada usia matang dan dapat terdeteksi melalui USG transvaginal atau MRI.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengalami nyeri haid yang luar biasa atau volume darah yang mendadak banjir tentu bikin khawatir ya, Ma.

Tak jarang, banyak dari kita yang langsung menduga-duga apakah ini gejala kista atau masalah rahim lainnya. Di dunia medis, ada dua kondisi yang sering kali bikin tertukar karena gejalanya mirip, yaitu endometriosis dan adenomiosis. Padahal, keduanya adalah dua kondisi yang berbeda lho, Ma.

Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting agar Mama tidak salah mengambil tindakan atau panik duluan. Keduanya memang sama-sama melibatkan jaringan endometrium jaringan yang seharusnya melapisi dinding rahim tetapi tempat "nyasar" si jaringan ini berbeda banget. Yuk, kita kupas pelan-pelan biar Mama makin aware dengan kesehatan reproduksi sendiri.

Endometriosis biasanya terjadi ketika jaringan mirip endometrium tumbuh di luar rahim, seperti di ovarium atau tuba falopi. Sementara itu, adenomiosis terjadi saat jaringan tersebut justru tumbuh menyusup ke dalam dinding otot rahim Mama. Efeknya? Sama-sama memicu rasa nyeri dan mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi penanganannya bisa sangat berbeda.

Jangan sampai salah mengenali sinyal yang diberikan oleh tubuh ya, Ma. Biar Mama makin paham dan edukatif, Popmama.com telah merangkum beberapa perbedaan mendasar antara endometriosis dan adenomiosis yang wajib Mama ketahui demi menjaga kesehatan reproduksi.

1. Lokasi pertumbuhan jaringan yang berbeda

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Pada kasus endometriosis, jaringan yang menyerupai lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh liar di luar rongga rahim. Jaringan "nyasar" ini biasanya menempel pada organ-organ di dalam rongga panggul, seperti ovarium (indung telur), tuba falopi, hingga bagian luar usus atau kandung kemih.

Berbeda halnya dengan kondisi tersebut, adenomiosis terjadi ketika jaringan endometrium tidak tumbuh ke luar, melainkan menyusup dan tumbuh di dalam miometrium, yaitu dinding otot rahim itu sendiri. Hal ini membuat lapisan otot rahim Mama menjadi tebal dan meradang karena jaringan tersebut terus terperangkap di dalam sana.

Berdasarkan penjelasan resmi dari World Health Organization (WHO), perbedaan mendasar ini terletak pada arah pertumbuhannya. Kesimpulannya, endometriosis dicirikan oleh pertumbuhan jaringan di luar organ rahim, sedangkan adenomiosis ditandai dengan pertumbuhan jaringan di dalam otot rahim.

2. Perubahan bentuk dan ukuran rahim

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Bila melihat dampak fisiknya, endometriosis umumnya tidak mengubah bentuk atau ukuran rahim secara keseluruhan. Rahim penderita endometriosis biasanya tetap memiliki ukuran normal, namun kondisi ini sering kali memicu terbentuknya jaringan parut atau kista cokelat (endometrioma) yang menempel di organ sekitarnya.

Berbeda dengan kondisi rahim yang tetap normal tersebut, adenomiosis justru menyebabkan rahim Mama mengalami pembengkakan. Karena jaringan endometrium tumbuh di dalam otot rahim, dinding rahim akan terus menebal hingga membuat ukuran rahim membesar secara keseluruhan, bahkan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dari ukuran aslinya.

Sebuah laporan kesehatan dari National Institutes of Health (NIH) menyatakan bahwa pembesaran rahim akibat adenomiosis ini sering kali membuat perut bagian bawah terasa keras saat diraba.

Jadi kesimpulannya, endometriosis membuat rahim tetap berukuran normal tetapi memicu kista di luarnya, sedangkan adenomiosis secara langsung membuat seluruh rahim membesar.

3. Karakteristik rasa nyeri saat menstruasi

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Nyeri yang ditimbulkan oleh endometriosis biasanya digambarkan sebagai nyeri panggul kronis yang tajam dan menusuk.

Rasa sakit ini tidak hanya muncul saat menstruasi saja, tetapi sering kali menyebar hingga ke punggung bawah, paha, bahkan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa saat Mama buang air besar atau berhubungan intim.

Di sisi lain, sensasi nyeri pada adenomiosis memiliki karakter yang sedikit berbeda karena letaknya di dalam otot.

Nyeri adenomiosis cenderung dirasakan sebagai kram rahim yang sangat kuat, terasa penuh, kaku, dan seperti ada tekanan berat tepat di bagian tengah bawah perut Mama.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kedua kondisi ini memang memicu dismenore (nyeri haid), tetapi jalurnya berbeda. Kesimpulannya, nyeri endometriosis cenderung menyebar dan terasa di area panggul luas, sedangkan nyeri adenomiosis terfokus pada kram rahim yang intens di perut bagian tengah bawah.

4. Volume darah dan durasi haid

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Pada penderita endometriosis, volume darah yang keluar saat menstruasi bisa saja menjadi lebih banyak atau deras. Namun, ciri khas yang paling sering dijumpai adalah munculnya spotting atau flek darah di luar siklus menstruasi, yang membuat jadwal haid terasa tidak teratur.

Berbeda dengan flek-flek tersebut, adenomiosis memiliki gejala utama berupa menorrhagia, yaitu perdarahan menstruasi yang sangat masif dan keluar dalam jumlah banjir.

Darah yang keluar biasanya disertai gumpalan-gumpalan besar dan durasi haidnya bisa berlangsung jauh lebih lama dari biasanya akibat otot rahim kehilangan kemampuan untuk berkontraksi menghentikan darah.

Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengingatkan bahwa volume darah yang berlebihan ini membutuhkan penanganan segera agar tidak memicu anemia.

Kesimpulannya, endometriosis lebih sering memicu flek di luar siklus haid, sedangkan adenomiosis menyebabkan perdarahan yang sangat deras dan menggumpal saat haid.

5. Dampak terhadap tingkat kesuburan (fertilitas)

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Endometriosis sangat erat kaitannya dengan masalah infertilitas atau kesulitan untuk hamil pada usia muda. Jaringan parut yang terbentuk di luar rahim dapat menyumbat saluran tuba falopi atau merusak fungsi ovarium, sehingga secara mekanis menghalangi bertemunya sel telur dan sperma.

Meskipun sama-sama memengaruhi reproduksi, adenomiosis biasanya tidak menghalangi proses pertemuan sperma dan sel telur karena saluran tubanya normal.

Masalahnya, jaringan abnormal di dalam otot rahim membuat lingkungan rahim menjadi tidak ideal, sehingga mengganggu proses implantasi (penempelan) embrio dan meningkatkan risiko keguguran.

Penelitian dari European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) menunjukkan adanya perbedaan fase gangguan kesuburan pada kedua penyakit ini.

Kesimpulannya, endometriosis mengganggu proses pembuahan di awal, sedangkan adenomiosis mengganggu proses penempelan dan perkembangan janin di dalam rahim.

6. Kelompok usia umum yang terdampak

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Secara statistik, endometriosis merupakan penyakit yang paling sering didiagnosis pada perempuan usia muda dan produktif. Perempuan di rentang usia 25 hingga 35 tahun, atau bahkan remaja yang baru mulai mengalami menstruasi, menjadi kelompok yang paling rentan terkena kondisi ini.

Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, adenomiosis justru lebih banyak ditemukan pada perempuan yang berusia lebih matang, yaitu antara 40 hingga 50 tahun. Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada perempuan yang sudah pernah melahirkan (multipara) atau memiliki riwayat operasi pada rahim.

Berdasarkan informasi dari U.S. Department of Health and Human Services, riwayat trauma pada dinding rahim diduga menjadi pemicunya seiring bertambahnya usia. Kesimpulannya, endometriosis mayoritas menyerang perempuan usia muda/remaja, sementara adenomiosis umumnya menyerang perempuan usia matang yang sudah pernah melahirkan.

7. Metode diagnosis oleh dokter

Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Nah, untuk mendeteksi endometriosis, pemeriksaan USG biasa sering kali tidak cukup kuat untuk melihat jaringan parut yang kecil di luar rahim. Oleh karena itu, dokter biasanya menetapkan prosedur laparoskopi (bedah lubang kunci) sebagai standar baku utama (gold standard) untuk melihat dan memastikan keberadaan endometriosis.

Sementara itu, adenomiosis justru lebih mudah dideteksi tanpa perlu tindakan bedah penunjang. Dokter kandungan umumnya bisa melihat tanda-tanda penebalan otot rahim secara jelas melalui pemeriksaan USG transvaginal tingkat lanjut atau dengan menggunakan bantuan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Panduan medis dari badan kesehatan dunia menegaskan bahwa ketepatan diagnosis ini sangat memengaruhi langkah terapi yang akan diambil. Kesimpulannya, diagnosis endometriosis memerlukan tindakan operatif minimal (laparoskopi), sedangkan adenomiosis bisa diidentifikasi melalui pencitraan non-invasif (USG transvaginal atau MRI).

Mengetahui perbedaan antara endometriosis dan adenomiosis sejak dini tentu bisa membantu Mama mengambil langkah medis yang paling tepat bersama dokter kandungan kepercayaan. Jangan pernah menyepelekan nyeri haid yang mengganggu aktivitas ya, Ma, karena tubuh kita berhak mendapatkan perawatan terbaik.

Nah, setelah membaca ulasan di atas, apakah Mama pernah mengalami salah satu dari gejala-gejala tersebut?

Editorial Team

Related Article