Bisakah Memilih Jenis Kelamin Bayi Lewat Program Kehamilan?

Pasti menyenangkan banget ya, Ma, kalau bisa memilih jenis kelamin bayi yang kita inginkan

26 Maret 2021

Bisakah Memilih Jenis Kelamin Bayi Lewat Program Kehamilan
Pixabay/karlajara

Memiliki anak adalah dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Ada yang segera hamil sesaat setelah menikah, tanpa perlu menunggu waktu berlama-lama hingga tahunan. Akan tetapi, ada pula yang harus bersabar lebih lama demi menimang sang Buah Hati. 

Program hamil adalah harapan bagi pasangan-pasangan yang mendambakan kehadiran anak. Lewat program hamil, keberhasilan pembuahan dapat diusahakan, entah itu melalui cara alami maupun buatan. Selain mengharapkan kehadiran anak, tak jarang pula muncul pertanyaan, "Apakah bisa memilih jenis kelamin bayi lewat program kehamilan?"

Berikut Popmama.com mengulasnya, dilansir dari babycentre.co.uk:

Bisakah Memilih Jenis Kelamin Bayi?

Bisakah Memilih Jenis Kelamin Bayi
Unsplash/Daiga Ellaby

Spesialis kesuburan sebetulnya memiliki serangkaian kemampuan dan prosedur untuk membentuk jenis kelamin calon bayi. Meskipun begitu, praktek ini tidak dibenarkan. Negara Inggris menganggap praktek memilih jenis kelamin bayi tertentu dalam program kehamilan adalah ilegal, kecuali ada alasan medis di baliknya.

Alasan medis yang diperbolehkan untuk melakukan praktek ini misalnya apabila orangtua memiliki kondisi genetik serius yang berisiko diturunkan ke anak dan berdampak pada salah satu jenis kelamin. Hanya pre-implanation genetic diagnosis (PGD) yang diperbolehkan melakukan praktek ini.

Jadi, Mama dan Papa tidak dapat melakukan intervensi medis dengan konsepsi hanya untuk alasan sosial, budaya, atau keinginan menyeimbangkan jenis kelamin anggota keluarga.

Editors' Picks

Kualifikasi yang Diperbolehkan untuk Melakukan PGD

Kualifikasi Diperbolehkan Melakukan PGD
Freepik
Ilustrasi

Kualifikasi yang diperbolehkan untuk melakukan PGD adalah jika pasangan memiliki kelainan genetik yang serius, seperti hemofilia atau cystic fibrosis. Selain itu, kondisi medis tertentu yang lebih berisiko pada salah satu jenis kelamin, juga bisa dihindari lewat PGD. Duchenne muscular dystrophy yang hanya menyerang anak laki-laki, misalnya.

PGD dapat mengurangi kemungkinan bayi menderita kondisi yang sama, lewat cara menguji gen yang membawanya. 

PGD adalah teknik dalam program in vitro fertilisation (IVF). Dalam prosedurnya, embrio dibentuk dari telur dan sperma. Setelah disaring, satu-dua embrio akan ditanamkan di rahim Mama. 

Proses Penyortiran Sperma

Proses Penyortiran Sperma
Pixabay/TBIT

Penyortiran sperma adalah tindakan yang ilegal di Inggris, tetapi layanan ini ditawarkan di beberapa negara lain dengan harga yang sangat mahal. 

Penyortiran sperma dilakukan dengan teknik flow cytometry. Akurasi teknik ini diperkirakan hingga 93 persen untuk bayi perempuan, dan 85 persen untuk bayi laki-laki.

Flow cytometry bekerja dengan menambahkan pewarna flouresens ke sampel sperma. Pewarna akan mengikat bahan genetik dalam sperma. Setelah disortir, pasangan dapat menginseminasi sperma yang dipilih menggunakan metode inseminasi intrauterin (IUI). Meskipun begitu, tidak ada jaminan keberhasilan akan metode ini. Selain itu, IUI tidak seefektif fertilisasi in vitro (IVF).

Bisakah Waktu Pembuahan Menentukan Jenis Kelamin Bayi?

Bisakah Waktu Pembuahan Menentukan Jenis Kelamin Bayi
Freepik/jcomp

Terdapat dua teori yang memungkinkan menentukan jenis kelamin bayi berdasarkan waktu pembuahannya, yaitu metode Shettles dan metode Whelan. Sementara metode ketiga, yaitu metode Billings, menggabungkan teori waktu dengan pengamatan lendir serviks. 

Metode Shettles

Teori ini dikembangkan oleh Dr. Landrum Shettles dari Amerika Serikat di tahun 1960. Dasarnya adalah sperma laki-laki bergerak lebih cepat, tetapi tidak bisa bertahan hidup seperti sperma perempuan. 

Jadi, jika Mama menginginkan anak laki-laki, lakukan hubungan seks sedekat mungkin dengan waktu ovulasi, karena sperma laki-laki akan mengalahkan sperma perempuan dalam perlombaan menuju sel telur. 

Jika menginginkan anak perempuan, lakukan hubungan seks dua hari hingga empat hari sebelum Mama berovulasi. Gunakan kalkulator ovulasi untuk mencari tahu kapan kemungkinan Mama akan mengalami ovulasi.

Shettles mengklaim bahwa metode ini 75 persen efektif untuk anak perempuan, dan 80 persen efektif untuk anak laki-laki.

Metode Whelan

Metode Whelan berbeda dengan metode Shettles. Metode ini menunjukkan bahwa perubahan biokimia sebelumnya dalam siklus Mama akan mendukung sperma penghasil anak laki-laki. Jadi, jika Mama menginginkan anak laki-laki, lakukan hubungan seks empat hari hingga enam hari sebelum Mama berovulasi.

Jika Mama menginginkan seorang anak perempuan, maka lakukan hubungan seks dua hari hingga tiga hari sebelum Mama berovulasi.

Metode Billings

Metode Billings sebetulnya melengkapi metode Shettles. Hubungan seks dilakukan dengan memperhatikan bentuk lendir serviks Mama. 

Untuk menghasilkan embrio perempuan, caranya adalah Mama melakukan hubungan seks pada saat 'tahap pra-puncak' sebelum ovulasi, ketika lendir serviks berwujud lebih tebal dan lengket, dan kemudian tidak melakukan hubungan seks lagi selama siklus itu. 

Untuk anak laki-laki, Mama harus menunggu 'tahap pasca-puncak' mendekati ovulasi, ketika lendir serviks tipis dan jernih. 

Sebuah studi di Afrika yang dilakukan dengan menerapkan metode Billings melaporkan tingkat keberhasilan hingga 95 persen.

Itulah penjelasan mengenai kemungkinan menentukan jenis kelamin bayi lewat program kehamilan.

Kecuali karena alasan medis yang mendesak dan membahayakan nyawa, baik anak laki-laki maupun perempuan, merupakan anugerah yang sempurna dalam keluarga kita. Mari kita rawat dan pelihara anak-anak kita, apapun jenis kelaminnya, dengan sebaik-baiknya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.