Stres dan Komplikasi saat Hamil Sebabkan Skizofrenia pada Anak?

Hati-hati nih, Ma!

13 Juni 2018

Stres Komplikasi saat Hamil Sebabkan Skizofrenia Anak
Freepik/Dragana_Gordic

Kondisi Mama saat hamil memang bisa memengaruhi kondisi bayi saat lahir nanti.

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa kondisi kesehatan maupun mental seorang perempuan selama hamil bahkan bisa ikut memengaruhi gen yang ada dalam plasenta mereka.

Seperti kita ketahui, plasenta berperan penting bagi perkembangan bayi. Plasenta bertugas menyediakan oksigen dan nutrisi untuk bayi yang sedang tumbuh di dalam kandungan. Plasenta juga  mengeluarkan racun dari darah bayi.

Risiko Skizofrenia Jika Ibu Mengalami Komplikasi Saat Hamil

Risiko Skizofrenia Jika Ibu Mengalami Komplikasi Saat Hamil
Pixabay/Free-Photos

Para peneliti dari Lieber Institute for Brain Development di Maryland menemukan bahwa kehamilan yang mengalami komplikasi, seperti tekanan darah tinggi dapat ‘mengaktifkan’ gen skizofrenia (gangguan perilaku) pada plasenta mereka.

Sebelumnya, sudah ada sebuah studi yang sempat menemukan bagaimana gen yang terkait dengan gangguan perilaku bisa mengubah secara langsung perkembangan otak bayi yang ada di dalam kandungan. Dalam studi, ditemukan bahwa hingga 80 persen gangguan ini dipengaruhi oleh faktor risiko genetik.

Dalam penelitian baru ini, para peneliti mengumpulkan data 2.800 orang dewasa dari empat negara, yang mencakup Amerika, Eropa, dan Asia. Dari total responden, sebanyak 2.038 orang telah didiagnosis mengidap skizofrenia, yaitu gangguan mental kronis yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, berperilaku, hingga berhalusinasi dan delusi karena sulit membedakan kenyataan dan fantasi mereka.

Semua peserta telah menjalani tes genetik dan disurvei mengenai riwayat kehamilan sang ibu. Para peneliti menemukan adanya korelasi tinggi antara gen yang terkait dengan risiko skizofrenia, dan riwayat komplikasi kehamilan yang berpotensi serius.

Responden yang memiliki faktor genetik yang tinggi dan ibunya mengalami komplikasi selama kehamilan, berisiko lima kali lipat lebih besar mengalami skizofrenia dibandingkan individu dengan faktor genetik yang sama, tetapi ibunya tidak ada riwayat komplikasi kehamilan yang serius.

Dari temuan ini, tim peneliti menganalisis ekspresi gen atau cara gen menghasilkan DNA dalam beberapa sampel jaringan plasenta, termasuk sampel plasenta dari kehamilan dengan komplikasi preeklampsia dan pembatasan pertumbuhan intrauterin. Secara konsisten, gen skizofrenia bisa aktif dalam plasenta perempuan dengan komplikasi kehamilan. Gen tersebut semakin berkembang seiring dengan kuatnya tekanan yang dialami perempuan selama hamil.

Penelitian ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa sejumlah gen yang terkait dengan risiko skizofrenia dapat mengubah perkembangan otak awal bayi secara tidak langsung, ketika kesehatan plasenta terganggu dan mengalami tekanan.

Risiko Lebih Besar Terjadi pada Bayi Laki-Laki

Risiko Lebih Besar Terjadi Bayi Laki-Laki
Freepik/bearfotos

Dari sejumlah gangguan perilaku, termasuk skizofrenia, ADHD dan autisme, risikonya akan meningkat menjadi dua hingga empat kali lebih tinggi pada pria daripada pada perempuan. Tim Lieber Institute menemukan bahwa gen skizofrenia yang aktif pada plasenta ibu dengan komplikasi kehamilan, lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak-anak perempuan.

Hasil ini mengejutkan para peneliti. Ketua peneliti dan CEO Lieber Institute berharap penelitian di masa depan bisa berfokus pada perawatan terapeutik dan strategi pencegahan untuk mengurangi risiko  gangguan perilaku ini.

Editors' Picks

Apa Itu Skizofrenia?

Apa Itu Skizofrenia
dailymail.co.uk

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku. Orang dengan skizofrenia tampak sulit membedakan antara kenyataan dan pikiran diri sendiri.

Gejala dan Penyebab Skizofrenia

Gejala Penyebab Skizofrenia
Pixabay/Free-Photos

Penyebab skizofrenia kemungkinan sebagai campuran antara faktor genetika (keturunan), kelainan dalam kimia otak atau kemungkinan infeksi virus dan gangguan sistem kekebalan tubuh.

Gejala skizofrenia biasanya dimulai antara usia 16 dan 30 tahun. Dalam kasus yang jarang terjadi, usia anak-anak juga bisa menderita skizofrenia.

Gejala skizofrenia terbagi dalam tiga kategori, yaitu positif, negatif, dan kognitif. Gejala positif termasuk halusinasi, delusi, gangguan pikiran atau cara berpikir yang tidak biasa. Sementara itu, gejala negative meliputi, flat effect ( mengurangi ekspresi emosi melalui ekspresi wajah atau nada suara), berkurangnya perasaan senang dalam kehidupan sehari-hari, sulitnya memulai dan melanjutkan suatu pekerjaan. Sementara gejala kognitif adalah munculnya perubahan dalam ingatan seseorang atau aspek pemikiran lainnya, termasuk kesulitan fokus dan perhatian, masalah ingatan, dan sulit memahami informasi.