Peran orang terdekat juga merupakan aspek penting bagi ibu hamil yang menjalani puasa. Menurut dr. Johan, peran suami dalam memberi dukungan sangat diperlukan dengan memberi saran dan masukan yang positif.
"Suami itu memiliki peranan penting, karena stres tidak stresnya istri saat hamil kan berhubungan secara langsung sama suami sebagai orang terdekat. Jadi apabila ingin memberi dukungan, kita kuatkan atau memberi saran dan masukan positif,” ungkapnya.
Selain itu, suami juga memiliki fungsi pengawasan yang objektif terhadap kesiapan ibu hamil saat berpuasa. Dalam hal ini, suami diharapkan perlu untuk mengetahui tanda-tanda dimana ibu hamil harus membatalkan puasanya.
“Melakukan pengecekan juga, apakah puasanya berat atau tidak. Perhatikan tanda-tandanya juga, apa dia langsung gampang marah, mengeluh pusing, mengeluh lemas. Kita harus bisa ambil keputusan. Orang di samping dan sekelilingnya yang melihat secara objektif tentang kemampuan ibu hamil untuk berpuasa," jelas dr. Johan lebih lanjut.
Untuk ibu hamil yang ingin berpuasa, dr. Johan memberikan semangat tapi tetap perhatikan batasan-batasannya.
"Semangat untuk ibu hamil yang mau berpuasa, tapi tetap tahu batas-batasannya. Jangan lupa kontrol ke dokter kalau ada sesuatu yang terjadi," ungkap dr. Johan.
Demikian beberapa hal yang harus diperhatikan ketika berpuasa saat hamil. Puasa tetap bisa dilakukan para ibu hamil dengan memperhatikan hal-hal penting yang mendukung kesiapan saat berpuasa.