Awas! 5 Kebiasaan Ibu Hamil ini Sebabkan Anak Stunting

Angka anak penderita stunting di Indonesia cukup tinggi, ini salah satu penyebabnya

17 Agustus 2020

Awas 5 Kebiasaan Ibu Hamil ini Sebabkan Anak Stunting
mca-indonesia.go.id

Menurut data World Bank yang dilansir dari buku berjudul Aiming High, tercatat sebanyak sembilan juta anak di Indonesia menderita stunting. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan negara-negara yang biasa diasosiasikan dengan masalah stunting seperti Liberia, Sudan Selatan dan Comoros. 

Menurut Dr.Rita Ramayulis, DCN, M.Kes., pengertian stunting adalah kekurangan gizi kronis yang menyebabkan terjadinya gagal tumbuh dan gagal kembang. Jadi tidak hanya berpatokan pada tinggi badan saja, anak dengan stunting biasanya memiliki ciri, pertumbuhan gigi lambat, fokus dan memori belajar buruk, pubertas terlambat dan pertumbuhan juga melambat.

Banyak hal yang memengaruhi seorang anak mengalami stunting. Salah satunya adalah kebiasaan sang Ibu saat hamil. Stunting terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan anak, dimulai dari saat ia berada di dalam kandungan ibunya.

Berikut informasi yang dirangkum Popmama.com mengenai kebiasaan ibu hamil yang dapat menyebabkan anak mengalami stunting.

1. Pengaturan gizi yang buruk

1. Pengaturan gizi buruk
parents.com

Perilaku gizi yang buruk dari sang Ibu dapat meningkatkan risiko bayi mengalami stunting. Perilaku ini dapat dengan sadar atau tidar sadar dilakukan. Misalnya kegemaran mengonsumsi junk food.

Menurut Dr. Rita, saat berada di lapangan, ia menemukan banyak ibu hamil tidak meyakini bahwa stunting bisa terjadi ketika ibu hamil tidak melakukan pengaturan gizi. Yang menjadi pemahaman mereka adalah salah makan menjadi salah satu penyebabnya.

Lalu, banyak ibu hamil yang punya persepsi bahwa berat badan akan naik seiring dengan besarnya janin, sehingga mereka tidak melakukan pengaturan gizi khusus. Padahal seperti yang sudah diketahui, makanan bernutrisi sangat penting untuk perkembangan janin.

Editors' Picks

2. Tidak mengonsumsi suplemen penambah darah

2. Tidak mengonsumsi suplemen penambah darah
freepik.com/patcharananworrapatchareeroj

Banyak ibu hamil yang tidak mengonsumsi suplemen penambah darah sesuai anjuran dokter. Ini disebabkan karena mereka tidak memahami kegunaannya.

Ibu hamil disarankan untuk mencukupi kebutuhan zat besinya saat hamil karena jika tidak, maka dapat menyebabkan masalah pada ibu dan janin. Zat besi diperlukan untuk membuat hemoglobin, yaitu sebuah protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh sel dalam tubuh.

Saat hamil, kebutuhan zat besi bertambah, untuk memenuhinya, ibu hamil dapat mengonsumsi suplemen penambah darah. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan ibu hamil mudah lemas dan kelelahan. Anemia yang sudah parah juga dapat menyebabkan komplikasi saat kehamilan.

3. Hanya mementingkan kuantitas makanan dibandingkan kualitas

3. Ha mementingkan kuantitas makanan dibandingkan kualitas
freepik.com

Karena pemahaman yang salah mengenai stunting, menurut Dr. Rita, sebagian besar ibu yang ia temui lebih mementingkan kuantitas makanan dibandingkan kualitasnya. Ini didasari oleh pemahaman “makan untuk dua orang”.

Jadi, alih-alih menambahkan makanan bernutrisi yang baik untuk perkembangan janin, mereka hanya menambahkan nasi.

4. Pola hidup tidak sehat dan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji

4. Pola hidup tidak sehat kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji
Freepik

Dr. Rita menjelaskan, bahwa kondisi ibu hamil tidak dipengaruhi saat hamil, tapi dari remaja. Sebagian ibu hamil yang ia temukan, memiliki kondisi yang buruk saat remaja, misalnya mengalami anemia.

Pola makan dan pola hidup tidak sehat juga turut memengaruhinya, misalnya terbiasa mengonsumsi junk food. Keadaan ini dapat memengaruhi kehamilan, terutama jika saat hamil pun si Ibu tidak berubah.

5. Sanitasi yang buruk

5. Sanitasi buruk
Pexels/Karolina Grabowska

Menurut dokter mikrobiologi klinis, Wani Gunardi, sanitasi jelas berperan penting untuk kesehatan keluarga. Ia menjelaskan bahwa stunting dan sanitasi erat kaitannya. Ibu hamil berusaha memperbaiki gizi tapi sanitasi buruk, maka daya tahan tubuh cuma terpakai untuk melawan kuman bibit penyakit (bukan untuk memperbaiki kualitas gizi). Pada akhirnya, ini akan memengaruhi kehamilannya.

Sanitasi buruk pun dapat berefek pada bayi dan anak, Ma. Jadi pastikan untuk selalu menjaga kebersihan sanitasi.

Nah, itulah kebiasaan Ibu hamil yang menyebabkan anak stunting. Jadi stunting dimulai ketika janin berada di kandungan. Saat hamil, ini adalah saat yang tepat bagi Mama untuk memulai pola hidup sehat. Tidak ada kata terlambat, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.