7 Efek Buruk Stres Terhadap Janin

Yuk mulai kendalikan stres demi kesehatan si Kecil

17 Oktober 2018

7 Efek Buruk Stres Terhadap Janin
Freepik/Onlyyouqj

Stres bisa dialami oleh siapa saja, termasuk ibu hamil. Tapi tahukah Mama bahwa efek buruk stres juga bisa memengaruhi tumbuh kembang janin?

Ya, jika stres yang dialami oleh ibu hamil tidak terkendali, efeknya bisa memengaruhi hormon dan tembus hingga ke plasenta.

Oleh sebab itu, penting bagi Mama untuk berada di lingkungan positif agar terhindari dari risiko stres. Komunikasikan pada Papa atau keluarga lainnya jika Mama mengalami masalah.

Memendam sendiri permasalahan yang ada bisa meningkatkan risiko stres, yang bahkan bisa berujung pada depresi, Ma.

Nah, apa saja efek buruk dari stres berkelanjutan terhadap janin dalam kandungan?

Berikut Popmama.com bagikan rangkuman informasinya:

1. Risiko infeksi pada saluran reproduksi

1. Risiko infeksi saluran reproduksi
Pexels/Leah Kelley

Stres pada dasarnya pasti akan memengaruhi tubuh, termasuk pada tubuh ibu hamil. Saat stres, terjadi perubahan biologis dalam tubuh.

Salah satunya berakibat pada peningkatan hormon stres, yang kemudian berpengaruh pada menurunnya sistem kekebalan tubuh.

Saat sistem imun mulai menurun, segala macam pemicu infeksi termasuk bakteri, virus dan kuman akan lebih mudah masuk dan menyerang tubuh.

Ya, tekanan psikologis tak sekadar mengganggu mental, tapi juga fisik seseorang, Ma. Jadi, yuk mulai cari cara untuk bantu redakan stres agar tak mengganggu kehamilan.

2. Menghambat perkembangan otak

2. Menghambat perkembangan otak
Freepik

Pada trimester pertama, pertumbuhan dan perkembangan otak janin sedang pesat. Apabila pada waktu ini Mama justru sering stres, proses ini pun akan terhambat.

Akibatnya, kondisi ini diyakini kelak juga akan memengaruhi perilaku sang anak kelak saat sudah besar.

Intinya, apabila saat hamil Mama sering stres berkelanjutan, si Kecil nantinya berisiko lebih tinggi mengalami masalah perilaku dan mudah stres juga, Ma.

Meski penelitian soal kaitan ini masih sedikit, namun masih banyak penelitian lebih lanjut yang tengah dilakukan.

Baca juga: Tanda tanda Janin Stres.

3. Infertilitas

3. Infertilitas
Freepik/Freepik

Tingkat stres yang tinggi dapat memengaruhi kadar estrogen, progesteron, dan mengganggu siklus haid. Maka dari itu, peluang untuk bisa hamil pun menjadi berkurang.

Saat sedang program hamil pun, stres menjadi salah satu hal utama yang perlu diperhatikan baik oleh Mama atau Papa. Ini karena stres bisa memengaruhi keseimbangan hormonal dalam tubuh.

Editors' Picks

4. Kelahiran prematur

4. Kelahiran prematur
Pixabay/Sasint

Penelitian terkait stres dan kelahiran prematur baru-baru ini menemukan adanya kaitan signifikan antara kedua hal tersebut.

Perempuan yang mengalami stres tingkat tinggi saat hamil cenderung lebih berisiko mengalami kelahiran prematur.

Padahal seperti diketahui, kelahiran prematur merupakan salah satu faktor risiko dari komplikasi persalinan.

Termasuk di antaranya penyakit paru-paru pada bayi, masalah pernapasan, cerebral palsy, keterlambatan perkembangan, dan bahkan kematian bayi.

Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa bayi yang terkena dampak stres ibu selama masa kehamilan lebih berisiko mengalami masalah kesehatan tertentu saat dewasa.

Termasuk di antaranya diabetes dan tekanan darah tinggi.

Baca juga: Ini Lho, Ma! 5 Masalah Kulit yang Sering Dialami Bayi Prematur!

Baca juga: Hal-hal yang Harus Diperhatikan Saat Merawat Bayi Prematur

Baca juga: Apa yang Janin Rasakan Saat Ibu Hamil Sedih dan Stres?

5. Bayi berat lahir rendah

5. Bayi berat lahir rendah
Pixabay/Sanjasy

Saat Mama sering mengalami stres selagi hamil, salah satu risiko yang mungkin dialami janin adalah berat lahirnya yang rendah.

Hormon terkait stres seperti epinefrin, norepinefrin, dan kortisol dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit. Nah, kondisi ini berdampak pada menurunnya aliran darah ke tali pusat.

Akibatnya, janin pun jadi kesulitan untuk mendapatkan pasokan nutrisi yang dibutuhkan.

6. Risiko preeklampsia

6. Risiko preeklampsia
Pexels/Pixabay

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh University College Cork, Irlandia, ditemukan bahwa antara preeklampsia lebih banyak dialami oleh ibu hamil yang bekerja, dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.

Meski tidak memiliki kaitan secara langsung, peneliti menyebutkan bahwa stres dan tekanan pada pekerjaan bisa memberikan dampak negatif pada tekanan darah perempuan hamil.

Salah satu efek yang bisa timbul akibat preeklampsia adalah janin tumbuh terlalu besar. Preeklampsia merupakan masalah kehamilan serius yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi.

Beberapa tandanya adalah seperti pembengkakan, sakit kepala, penglihatan kabur, dan terlalu banyak protein dalam urine.

7. Menurunkan IQ janin

7. Menurunkan IQ janin
Pexels/Rene Asmussen

Agar pertumbuhan dan perkembangan otak janin dalam kandungan bisa optimal, upayakan untuk menjauhi stres saat hamil ya, Ma.

Sebuah penelitian yang mengukur IQ lebih dari 100 balita dan bayi menemukan bahwa saat ibu hamil stres, mereka cenderung memiliki anak yang skor IQ-nya lebih rendah, jika dibandingkan dengan ibu hamil yang tingkat stresnya di bawah batas normal.

Selain masalah pada IQ, anak-anak dari ibu yang stres saat hamil juga mengalami gangguan perilaku dan kecemasan berlebihan.

Oleh sebab itu, jika memiliki masalah saat hamil jangan lupa untuk selalu berbagi dengan Papa atau anggota keluarga lain ya, Ma.

Jika perlu, mintalah bantuan konseling agar tidak berlanjut semakin parah. Ini semua demi kesehatan, pertumbuhan serta perkembangan buah hati juga, kok.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!