TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Jangan Sampai Salah! Ini Lho, Cara Mengecek Perkembangan Motorik Bayi

Yuk, mengenali proses perkembangan motorik bayi!

Unsplash.com/Picsea

Dalam dunia tumbuh kembang bayi, Mama pasti akrab dengan istilah motorik atau saraf motorik.

Perkembangan motorik bayi ini menjadi fokus penting para orangtua. Setiap gerakan baru yang bisa Si Kecil lakukan menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mama dan Papa.

Tak heran jika banyak orangtua yang panik ketika mendengar bayi A sudah bisa duduk, bayi B sudah bisa tengkurap, tapi bayinya sendiri belum bisa melakukan itu.

Motorik sendiri terbagi menjadi dua yaitu kasar dan halus. Keduanya sama-sama penting untuk diperhatikan dalam tumbuh kembang bayi.

Sejauh mana Mama memahami tentang perkembangan motorik?

Yuk, simak penjelasan dari Popmama.com di bawah ini.

Apa itu Saraf Motorik?

Unsplash/Colin Maynard

Sebelum membahas saraf motorik, mari terlebih dahulu memahami apa itu saraf. Saraf adalah serat-serat penghubung setiap organ tubuh dengan sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Saraf sendiri disusun oleh jutaan sel saraf. Nah, sel saraf inilah yang terbagi menjadi tiga yaitu sensorik, motorik, dan konektor.

Sel saraf inilah yang menjadi jembatan antara informasi masuk dengan respon yang keluar dari tubuh manusia. Sel saraf sensorik bertugas menghantarkan informasi ke otak, lalu sel saraf motorik menghantarkan hasil terjemahan otak ke organ tubuh. Sedangkan sel saraf konektor menjadi penghubung antara sensorik dan motorik.

Misalnya, si Kecil menyentuh benda panas, rasa panas inilah yang ditangkap saraf sensorik sebagai informasi untuk diteruskan ke otak. Kemudian di otak terjadi pengolahan informasi, bagaimana seharusnya respon tangan ketika menyentuh benda panas. Respon ini kemudian diteruskan ke tangan melalui saraf motorik. Sehingga ia otomatis menjauhkan tangannya dari benda tersebut.

Jadi, Mama tidak bisa hanya berfokus pada perkembangan saraf motorik. Keseluruhan sel saraf yang sehat pasti menjamin perkembangan motorik yang baik.

Perkembangan Saraf Motorik

Unsplash/Chris Benson

Mengapa perkembangan saraf motorik lebih diperhatikan ketimbang sensorik dan konektor? Karena respon motorik anak lebih mudah diamati sebagai sebuah gerakan tampak.

Sebenarnya, saat Mama mengamati perkembangan motorik Si Kecil, itu sama dengan memperhatikan sel saraf secara kesuluruhan.

Untuk motorik sendiri terbagi menjadi dua, yaitu kasar dan halus.

Motorik kasar adalah gerakan yang membutuhkan keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh. Perkembangannya akan meningkat seiring dengan usia, berat badan, dan perubahan fisik. Gerakan yang dihasilkan cenderung besar, seperti tengkurap, berguling, dan duduk.

Sementara motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik, koordinasi mata-tangan, dan otot kecil. Kalau perkembangan motorik kasar akan terjadi dengan sendirinya sesuai peningkatan usia, berbeda dengan motorik halus yang perlu rangsangan. Kegiatan yang dihasilkan motorik halus adalah mengambil benda, menunjuk, melemparkan benda menuju arah tertentu, sampai merespon panggilan orang sekitar.

Ketimbang motorik kasar, motorik halus perlu mendapatkan perhatian lebih dari Mama. Bukan berarti motorik kasar tidak terlalu penting, tapi perkembangan motorik halus sangat bergantung dengan stimulasi yang diterima si Kecil dari lingkungan sekitar.

Cara Khusus Menstimulasi Motorik

Unsplash/Jelleke Vanooteghem

Motorik kasar akan terjadi lebih dulu ketimbang yang halus. Sejak bayi memasuki usia 3-4 bulan, ia sudah mulai banyak menggerakkan tangan, kaki, dan kepalanya. Itu sudah termasuk perkembangan pesat dalam motorik kasar.

Sementara motorik halus harus dirangsang sejak dini dengan beberapa cara. Ini langkahnya:

  • Mama bisa memulainya dengan memberi mainan yang tepat, seperti boneka gantung yang bisa bergerak di atas boksnya. Mata Si Kecil akan menangkap pergerakan itu dan membuatnya mengikuti arah gerak. Bahkan tak jarang tangannya ikut bergoyang sesuai gerakan boneka.
  • Nanti ketika ia sudah bisa merangkak, Mama bisa melatihnya dengan menjauhkan atau merubah posisi mainan. Ketika ia sudah bergerak menuju mainannya, jauhkan lagi ke arah lain agar ia mengejar.
  • Mama juga bisa bantu mengarahkan dengan meniru. Mama ikut merangkak ke arah tertentu untuk mengambil mainan. Ia yang melihatnya otomatis akan meniru.

Seru ya, Ma!

The Latest