TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Penting, Ini Alasan Mengapa Orangtua Perlu Menghargai Privasi Anak

Anak yang tidak memiliki privasi bisa kesulitan percaya pada orang lain saat ia dewasa nanti

Pexels/Cottonbro

Apakah anak mama pernah menuntut diberi kamar sendiri? Pernah mengatakan bahwa ia ingin bebas? Pernah meminta Mama untuk memercayainya atas segala urusannya?

Saat anak masih kecil, Mama bisa mengetahui semua aktivitasnya dengan mudah. Ketika anak sudah beranjak remaja, biasanya mulai ada konflik tentang privasi anak secara intens.

Anak ingin diberi ruang dan kepercayaan untuk mengatasi urusannya sendiri. Di lain sisi, orangtua menuntut untuk mengetahui semua kegiatannya.

Mama perlu ingat bahwa tugas orangtua adalah melindungi dan mengenalkan anak tentang konsep mana hal yang benar dan salah. Otoritas orangtua memang besar, tapi itu pun ada batasnya. Anak juga membutuhkan "ruang pribadi" atau privasi.

Sebenarnya, kenapa ya anak butuh privasi? Apa bahayanya kalau ia tidak memiliki privasi? Bagaimana sikap orangtua yang tepat ?

Lebih lanjut, Popmama.com bahas di bawah ini berdasarkan kulwap Popmama Online Class “Better Parenting: Pentingnya Menghargai Privasi Anak” bersama Christine Anggraini, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis sekaligus Founder @Insightku.Psikologi pada hari Jumat, 7 Mei 2021 lalu.

Ini dia alasan mengapa orangtua perlu menghargai privasi anak, simak yuk Ma!

1. Mengengal pola asuh orangtua

Pexels/Any Lane

Privasi berkaitan dengan pola asuh orangtua. Apa itu pola asuh?

Pola asuh adalah pola interaksi antara anak dan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosialisasi norma-norma dalam masyarakat agar anak bisa hidup selaras dengan lingkungannya.

Pola asuh ada 4 macam lho, Ma. Pola asuh otoriter, otoritatif, permissive-indifferent, dan permissive-indulgence.

Pola asuh otoriter

Dengan pola asuh ini, orangtua cenderung menuntut anak untuk mengikuti perintahnya dan menghormati pekerjaan serta usahanya dengan cara membatasi dan menghukum.

Mereka akan menetapkan batas yang tegas untuk anak, tapi tidak memberikannya peluang besar untuk mengungkapkan pendapat.

Akibatnya, anak lebih mudah cemas dan ketrampilan berkomunikasinya lebih rendah. Pengajaran disiplin yang terlalu kasar juga akan memengaruhi tingkat agresi anak, lho.

Orangtua yang memiliki pola asuh seperti ini biasanya tidak terlalu memberikan privasi kepada anak.

Pola asuh otoritatif

Pola asuh otoritatif merupakan pola asuh orangtua yang cenderung mendorong anak untuk mandiri, tapi masih menerapkan batasan dan pengendalian atas tindakan anak.

Anak diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menerima kehangatan dari orangtuanya.

Alhasil, anak tumbuh lebih kompeten secara sosial serta lebih percaya diri dan bertanggung jawab.

Orangtua yang memiliki pola asuh seperti ini akan lebih mudah memberikan kepercayaan kepada anak.

Pola asuh permissive-indefferent

Orangtua dengan pola asuh ini biasanya sangat cuek. Mereka tidak terlibat dengan kehidupan anak.

Pola asuh permissive-indulgence

Pola asuh ini bisa dikatakan juga sebagai pola asuh yang memanjakan anak.

Anak dibiarkan melakukan apa saja yang ia inginkan. Akhirnya, anak tidak belajar untuk mengendalikan perilaku dan keinginannya.

Melihat penjelasan di atas, sudah jelas bahwa pola asuh otoritatif adalah yang paling baik ya, Ma? Anak diberi kepercayaan dan batasan sesuai dengan usianya.

2. Alasan anak butuh privasi

Pexels/Pixabay

Kebutuhan akan privasi merupakan hal yang natural. Kita bahkan juga membutuhkan privasi kan, Ma?

Coba diingat-ingat, pasti ada saja hal-hal yang tidak bisa Mama bagi kepada anak dan hanya bisa Mama bagi dengan Papa, sahabat, atau sebagainya. Anak pun begitu, Ma.

Jadi, wajar ya kalau anak butuh privasi. Ia berhak memiliki privasi dan otonomi atau kemandirian.

Kemudian, dengan memberikan anak privasi sesuai porsinya, Mama menunjukkan padanya tentang memberi kepercayaan. Dengan begitu, ia juga akan belajar menjadi anak yang bisa dipercaya.

Selain itu, anak bisa belajar mandiri dan menjadi percaya diri kalau Mama memberinya privasi.

3. Bahaya anak tidak memiliki privasi

Pexels/Pixabay

Bagaimana kalau anak tidak diberi privasi atau privasinya tidak dihargai? Apakah bahaya?

Yuk, kita lihat penjelasan Psikolog Christine mengenai apa akibatnya kalau Mama tidak memberikan  privasi pada anak mama:

  • Anak jadi tidak belajar bagaimana cara membangun batasan yang sehat. Kalau sudah begini, anak bisa dimanfaatkan dengan mudah oleh lingkungan ketika ia sudah dewasa.
  • Anak jadi kesulitan untuk menolak ketika sudah dewasa. Ini dikarenakan ia terbiasa mengiyakan keinginan orangtua sejak kecil.
  • Anak akan kesulitan untuk menghargai batasan yang dimiliki orang lain.
  • Anak bisa kesulitan untuk percaya pada orang lain. Padahal, kepercayaan merupakan landasan yang sehat untuk menjalin hubungan dengan pasangannya nanti.

Prihatin kan Ma, kalau anak mengalami hal-hal tersebut saat dewasa?

4. Bentuk privasi pada anak

Freepik/Rawpixel.com

Ternyata, sangat penting untuk memberikan privasi pada anak. Namun, apa saja sih sebenarnya bentuk privasi anak yang harus Mama dan Papa hargai?

Berawal dari kegiatan sehari-hari yang mungkin kurang Papa dan Mama sadari, tapi Psikolog Christine coba mengingatkan kembali para orangtua untuk memerhatikan hal-hal berikut ini:

  • Meminta izin pada anak saat Mama ingin mengeluarkan barang dari tas atau dompetnya.
  • Mengetuk pintu sebelum masuk kamarnya.
  • Tidak mengecek ponsel anak tanpa izin.
  • Tidak masuk kamar anak secara diam-diam.
  • Tidak membaca diary atau jurnal anak tanpa izin.
  • Membiarkan anak bicara dengan temannya lewat telepon.
  • Menghormati keputusan anak, tapi Mama tetap berperan untuk menilai apakah keputusan yang ia buat baik baginya.
  • Tidak memposting foto anak di media sosial tanpa izinnya.

5. Manajemen waktu untuk anak

Pexels/Breakingpic

Ketika Mama sudah memberi anak privasi, ia juga perlu belajar tentang manajemen waktu. Mama bisa membantunya untuk memiliki keterampilan manajemen waktu yang baik, lho.

Bagaimana caranya?

  • Ajarkan anak untuk tidur dan bangun secara teratur. Kalau sudah waktunya tidur, Mama boleh mengingatkannya untuk tidur. Begitu juga ketika waktunya bangun. Mama boleh membangunkannya.
  • Ajarkan anak untuk mengerjakan tugasnya lebih dulu. Setelah itu, baru perbolehkan ia bermain gadget. Mama boleh lho membatasi anak bermain gadget. Misalnya, ia hanya boleh memainkannya selama 30-45 menit.
  • Kenalkan anak pada to-do-list. Mintalah anak untuk menuliskan tugas-tugasnya atau apa saja yang harus ia lakukan hari itu, lalu mencentang apa saja yang sudah selesai ia lakukan.
  • Luangkan waktu Mama untuk beraktivitas bersama anak atau daftarkan anak ke tempat-tempat les yang melatih kegiatan bersama.
  • Berikan anak reward yang sewajarnya kalau ia berhasil menerapkan manajemen waktu. Kalau anak gagal menerapkannya, Mama juga boleh memberinya hukuman yang wajar.
  • Jadilah contoh bagaimana cara memanajemen waktu dengan baik dan bijak. Ingat Ma, anak akan melakukan apa pun yang orangtuanya lakukan.

6. Sikap orangtua yang semestinya

Dok. Pribadi Christine Anggraini, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis - Founder @Insightku.Psikologi

Dalam kelas Popmama Online Class, Psikolog Christine juga memberikan beberapa catatan bagaimana Mama harus bersikap sebagai orangtua dalam memberikan anak privasi.

Pertama, memberikan anak kepercayaan sesuai dengan porsinya. Tegurlah anak jika ia melanggar kepercayaan yang Mama berikan.

Kedua, Mama boleh menerapkan sistem reward and punishment untuk membentuk perilaku anak.

Namun, jangan hanya memberi anak hukuman kalau ia salah ya Ma, tapi juga jelaskanlah perilakunya yang mana yang tidak sesuai.

Reward yang dianjurkan adalah berupa barang atau makanan, sedangkan punishment-nya berupa pembatasan, bukan hukuman fisik.

Hindari menggunakan kata-kata kotor atau label negatif saat menegur anak ya, Ma.

Ketiga, berikan anak ruang gerak, tapi tetap beri tahu bahwa Mama siap mendengarkannya kapan pun ia butuh.

Selain itu, Mama bisa juga rutin mengajaknya ngobrol tentang bagaimana harinya.

Kalau anak sedang tidak mau bercerita, tidak apa-apa Ma. Katakan padanya kalau Mama akan selalu siap mendengarkan kapan pun ia mau cerita.

Keempat, tanyakan apa yang anak butuhkan saat ia bercerita pada Mama. Apakah ia hanya butuh didengarkan atau nasihat?

Kalau ia butuh nasihat, jangan bandingkan cerita anak dengan cerita Mama zaman dulu, ya. Bagaimanapun, kondisi dulu dan sekarang berbeda.

Kelima, kenalilah teman-teman anak. Ini diperlukan agar Mama bisa melihat bagaimana pergaulan anak.

Namun, tetap ada batasannya ya, Ma. Jangan langsung meminta nomor ponsel atau menghubungi temannya tanpa izin anak Mama.

Itulah pembahasan tentang privasi anak yang ternyata sangat penting untuk orangtua berikan.

Memang sulit Ma, berdamai dengan privasi anak. Bisa jadi kita dulu dibesarkan dengan privasi yang kurang dihargai.

Namun karena sekarang Mama dan Papa tahu betapa pentingnya menghargai privasi anak, yuk coba pelan-pelan Ma. Mama dan Papa pasti bisa menerapkan hal ini di lingkup keluarga. Semangat, Ma!

Baca juga:

The Latest