TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kisah Anthony Lanni, Atlet Basket Autis dengan Segudang Prestasi

Terlahir berbeda dari orang lain bukan berarti tidak dapat menggapai kesuksesan di usia dewasa.

Forbes.com

Beberapa anak mungkin memang tidak terlahir sempurna. Ada beberapa anak yang sejak lahir memiliki tubuh yang tidak utuh, dan ada pula anak yang memiliki cara kerja otak yang berbeda seperti autisme.

Anthony Ianni termasuk sebagai anak yang terdiagnosis dalam spektrum autisme, dan orangtuanya diberikan informasi bahwa kecil kemungkinan bagi anaknya menjadi sukses.

Dengan usaha yang dilakukan Anthony dan dukungan yang diberikan orangtua dan guru-gurunya, Anthony berakhir sebagai salah satu orang autis yang memiliki segudang prestasi.

Seperti apa ceritanya? Popmama.com sudah merangkum kisah Anthony Ianni, atlet basket autis dengan segudang prestasi di masa dewasanya. Yuk disimak!

1. Terdiagnosis memiliki PDD dan diprediksi tidak dapat hidup seperti orang lain

Forbes.com

Ketika berusia 5 tahun, Anthony Ianni didiagnosis dengan Pervasive Developmental Disorder (PDD), kondisi yang termasuk ke dalam autisme.

Para dokter dan spesialis yang menangani Anthony mengatakan kalau ia akan mengalami kesulitan untuk lulus SMA, terlebih lagi lulus kuliah atau bahkan menjadi atlet seperti yang Anthony inginkan.

Tak hanya itu, Anthony juga mengalami bullying di sekolahnya akibat dirinya yang autis. Beberapa orang akan berpura-pura menjadi temannya dan kemudian mengolok-oloknya.

Saat Anthony tahu ia berkemungkinan akan diperlakukan berbeda, ia memutuskan untuk tidak memberi tahu kondisinya pada orang lain, bahkan pada teman satu tim basketnya sendiri.

Anthony juga kesulitan membedakan mana orang yang serius dengan candaannya dan orang yang memang bercanda. Hal ini juga menjadi masalah ketika Anthony berada dalam tim basketnya.

2. Butuh dukungan penuh dari kedua orangtua, guru, dan pelatih

Forbes.com

Meski para ahli berkata Anthony seakan tidak memiliki masa depan, kedua orangtuanya tetap bersikukuh untuk membantu anaknya menggapai sukses sesuai dengan minatnya.

Anthony sudah menyukai basket dan gemar menonton NBA sejak ia kecil. Ia terus mengikuti ketertarikannya yang disambut baik pula dengan para pelatih tim basket yang Anthony ikuti ketika masih anak-anak.

Saking sukanya dengan olahraga basket, bermain dengan timnya menjadi salah satu cara bagi Anthony untuk menjadi dirinya sendiri dan melepas penat sekolah dan bullying yang ia rasakan.

Selain itu, kedua orangtuanya mengusahakan agar Anthony mendapatkan program edukasi yang cocok untuk perkembangan dirinya melalui individual education planning (IEP) dengan bantuan guru dan pelatihnya.

3. Sempat menjadi atlet dan kini bekerja di Departemen Hak Sipil Michigan

Forbes.com

Berkat dukungan kedua orangtua, guru, dan pelatih, Anthony lulus dari Michigan State University dari jurusan sosiologi pada tahun 2012 dan sempat menjadi atlet basket dalam tim Michigan Spartan.

Namun, kini Anthony memutuskan untuk menjadi pelatih basket, motivator, serta salah satu pendorong gerakan anti-bullying.

Anthony juga pernah menjadi menjadi salah satu pemimpin komunitas Autism Council, sampai pada tahun 2015 Departemen Hak Sipil Michigan merekrut Anthony sebagai pembicara tentang kesadaran mengenai anak-anak autis dan anti-bullying.

Dengan berbagai pencapaiannya, Anthony terkenal sebagai salah satu orang autis yang memiliki prestasi gemilang.

Meski begitu, buku yang Anthony tulis berjudul “Centered” tidak hanya tentang pengalamannya sebagai orang autis, namun juga sebagai pembelajaran bagi para orangtua dan guru mengenai pembelajaran yang dapat mendukung anak seperti Anthony.

Itulah kisah Anthony Ianni. Meski sudah berhenti menjadi atlet basket, ia tetap dapat memiliki pekerjaan tetap seperti orang lain. Diagnosis dokter bukanlah akhir dari segalanya, Mama tetap perlu mendukung anak agar tetap berkembang dengan optimal sesuai potensinya.

Baca Juga:

The Latest