TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Cara Memberikan Edukasi Seksual Pada Anak

Edukasi seksual terhadap anak sebaiknya dimulai sejak dini, Ma

Freepik/karlyukav

Kebanyakan dari orangtua belum memberikan pendidikan seksual pada anak karena menganggap anak masih kecil. Padahal, mengenalkan pendidikan seksual kepada anak sejak dini merupakan hal yang penting.

Hal tersebut diperlukan agar anak mengetahui bagaimana perilaku seksual yang sehat dan mencegah terjadinya pelecehan seksual.

Memang, bicara tentang seksualitas membuat tidak nyaman pada awalnya. Namun, anak juga perlu tahu bahwa orangtua juga bisa menjadi teman diskusi yang baik untuk membahas seputar topik tersebut.

Edukasi seksual pada anak tidak hanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan organ seksual semata, tetapi juga berhubungan dengan kepemilikan dan kenyamanan tubuh.

“Edukasi seksual itu adalah diskusi yang harus terus-menerus dilakukan orangtua bersama anaknya. Sebenarnya, secara tidak sadar pun kita sudah melakukan hal itu,” ucap Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan UI, melalui podcast  AKSES episode 3 yang rilis pada 9 Juni 2023 lalu.

Lantas, bagaimana cara memberikan edukasi seksual pada anak agar pembicaraan terasa nyaman?

Berikut telah Popmama.com rangkum mengenai 5 cara memberikan edukasi seksual pada anak yang bisa Mama terapkan. Yuk, disimak!

1. Mengenal bagian tubuh dan fungsinya

parenting.firstcry.com

Mengenalkan pendidikan seksual bisa dari usia pra sekolah sekitar 2 hingga 6 tahun. Mama perlu memberitahu anak mengenai bagian tubuh dan fungsinya. Misalnya, payudara, vagina, penis, dan bagian tubuh lainnya beserta fungsinya. 

Hindari penyebutan alat kelamin dengan sebutan macam-macam. Sebab, hal tersebut dapat membuat anak bingung akibat banyak istilah-istilah yang berbeda. Khawatirnya, anak akan menjadi bertanya-tanya kenapa namanya harus dikamuflasekan padahal itu merupakan bagian anggota tubuhnya sendiri.

Perlu Mama ketahui, edukasi seks dapat membantu anak untuk lebih memahami tentang tubuhnya sendiri dan membantu mereka mencintai tubuhnya, lho.

2. Siapa saja yang boleh dan tidak boleh melihat atau menyentuh anggota tubuh pribadi

Freepik/user18526052

Selain mengenalkan anggota tubuh dan fungsinya, sampaikan juga pada anak bahwa ada anggota tubuh yang boleh dan tidak boleh dilihat atau disentuh tanpa izin, baik teman sebaya, orangtua sendiri, guru, atau orang dewasa lainnya.

Beritahu pula bahwa ada bagian-bagian tubuh tertentu yang sebaiknya tidak dilihat atau disentuh oleh siapapun. Anggota tubuh pribadi hanya boleh diperlihatkan saat di kamar mandi atau di kamar tidur, tidak boleh diumbar kepada orang lain.

Beri pemahaman bahwa tubuh anak hanya mereka sendiri yang boleh pegang. Terlebih bagian-bagian sensitif, seperti vagina atau penis dan payudara. Jika seseorang memegangnya, anak harus menolak atau mencari pertolongan.

3. Masa pubertas yang akan dialami

Freepik/Freepik

Memasuki usia 9 atau 10 tahun anak akan mengalami pubertas. Usahakan sebelum memasuki masa pubertas, Mama sudah memberikan edukasi seksual pada anak. Sebab, anak juga perlu tahu ketika masa pubertas dimulai akan ada perubahan pada tubuh.

Sampaikan pada anak, perempuan akan mengalami pertumbuhan payudara dan mendapatkan menstruasi pertamanya. Selain itu, pada beberapa bagian tubuh seperti ketiak dan area vagina akan mengalami pertumbuhan rambut.

Sementara pada anak laki-laki, selain pertumbuhan penis dan testis, suara mereka juga mengalami perubahan. Tidak sampai di situ, anak laki-laki akan mengalami mimpi basah dan pertumbuhan rambut di area wajah, ketiak, serta area penis.

Beri penjelasan pada anak bahwa semua perubahan adalah hal yang normal dan tidak perlu malu atau takut.

4. Mengajarkan tentang bersosialisasi dengan lawan jenis

Freepik/valuavitaly

Setiap manusia membutuhkan orang lain dan memerlukan kemampuan sosialisasi guna menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia lainnya. Karena itu, sudah sepatutnya bagi Mama untuk mengajarkan pada anak untuk bersosialisasi sejak dini, terlebih pada lawan jenis.

Namun demikian, Mama juga perlu menumbuhkan kesadaran anak agar mereka berhati-hati dalam bersosialisasi. Sebab, hal tersebut juga berhubungan dengan edukasi seksual.

Sampaikan pada anak dengan bahasa yang mudah dipahami bahwa ada batasan tertentu dalam bersosialisasi dengan lawan jenis. Misalnya, anak tidak boleh berpelukan dan berciuman karena hal tersebut sudah termasuk ke dalam aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa.

Aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan ketika sudah menikah. Anak seusianya tidak boleh meniru atau bahkan melakukan aktivitas seksual tersebut.

Selain itu, Mama juga bisa sampaikan aktivitas apa saja yang bisa dilakukan anak seusianya hingga risiko yang mungkin dialami jika melewati batasan atau melakukan aktivitas seksual orang dewasa.

Hal tersebut bertujuan agar anak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri saat tidak sedang dalam pengawasan orangtua.

5. Cara melindungi diri sendiri

Freepik

Setelah memberikan pemahaman mengenai gambaran aktivitas seksual, Mama bisa mengedukasi anak mengenai pelecehan seksual. Tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.

Jelaskan bahwa anak harus bisa melindungi diri sendiri. Sebab, di usianya yang masih belia sangat rentan terhadap pelecehan seksual, tidak terkecuali intimidasi penampilan atau bagian tubuh hingga mencoba menyentuh bagian tubuh tertentu.

Ajarkan anak untuk menyampaikan sesuatu dengan tegas atau berteriak ketika ada orang yang berniat jahat, menggodanya, atau bahkan mencoba menyentuh anggota tubuh.

“Anak harus bisa melindungi bagian tubuh pribadi, mulai dari mulut sampai lutut. Karena, usia pra sekolah rentan jadi korban kekerasan seksual, sehingga perlu diajarkan bagaimana untuk melindungi diri sendiri,” ungkap Vera.

Nah, itu dia cara memberikan edukasi seksual pada anak yang bisa Mama terapkan. Akan tetapi, pembahasan ini harus disesuaikan dengan kemampuan kognitif anak dan perlu disesuaikan tujuan dari pendidikan seksualnya ya, Ma. Semoga informasi ini bermanfaat!

Baca juga:

The Latest