TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Najelaa Shihab Ungkap Cara Jaga Kesehatan Mental bagi Anak & Orangtua

Agar orangtua dan anak tetap waras di rumah

Instagram.com/najelaashihab

Di masa pandemi saat ini, semua orang diminta untuk membatasi aktivitas di luar rumah.

Hal itu membuat seluruh anggota keluarga tetap bersama selama 24 jam dalam 3 bulan belakang ini.

Tentu hal ini membutuhkan adaptasi dalam menyesuaikan peran saat di rumah.

Yang mungkin biasanya memiliki peran sebagai Mama selama 12 jam di rumah, sebagian waktunya dihabiskan sebagai perempuan karir di kantor.

Tapi begitu di masa pandemi seperti sekarang membuat peran sebagai Mama dan istri di rumah menjadi full 24 jam.

Hal itu tentu terasa berat bagi sebagian Mama dan membutuhkan penyesuaian.

Jadwal dan kebiasaan yang berubah terkadang membuat stres sehingga emosi lebih cepat tersulut.

Pada hari Senin, 18 Mei 2020 kemarin pasangan Ankatama dan Esha Mahendra melakukan siaran live bersama Najelaa Shihab yang membahas tentang manajemen stres orangtua dan anak di saat pandemi ini.

Apa saja yang mereka bahas? Popmama.com telah merangkumkannya untuk Mama.

Cara Mengontrol Emosi saat Intensitas Bersama Keluarga Full 24 Jam

Freepik/drobotdean

Menurut Najelaa Shihab, saat sedang emosi, cobalah untuk menerima diri. Terima diri yang sedang emosi dan sadari bahwa itu bukan hal yang baik.

Sebab, emosi itu bisa menular dan berdampak pada emosional anak.

Apabila emosi Mama positif maka emosi anak juga akan ikut positif. Begitu juga sebaliknya.

Lalu, ketahui bahwa emosi itu muncul mungkin disebabkan oleh ekspektasi yang terlalu tinggi sehingga membuat stres.

Turunkan ekspektasi yang menginginkan segala sesuatunya serba sempurna.

Tidak masalah kalau ada kekurangan sedikit. Tidak masalah kalau rumah berantakan untuk semetara waktu. Tidak masalah untuk anak bermain kotor-kotoran.

Terima segala kekurangan dengan hati lapang agar pikiran menjadi lebih waras.

Bangun Komunikasi yang Baik antar Pasangan

lovebondings.com

Dalam keluarga Najelaa Shihab ada metode yang bernama I Message untuk menyatakan perasaan di dalam hati.

Metode ini adalah metode komunikasi yang lebih menggunakan ungkapan kebutuhan bukan keputusasaan.

Lebih memilih berkata, "Aku tuh butuh banget loh kamu bantu. Aku sedih kalau kamu gak mau bantu aku," daripada, "Kamu tuh ya gak pernah mau bantu aku. Kamu tuh gak mau mengerti aku."

Pilih cerita sudut pandang kita, bukan ungkapan yang malah menuduh.

Kunci komunikasi antar pasangan adalah saling percaya. Percaya bahwa pasangan kita memahami maksud kiya dan akan berubah.

Jika ada satu hal negatif yang mau disampaikan, harus siapkan minimal lima hal positif dari pasangan kita. Agar kita tidak banyak menuntut tanpa memberi apresiasi.

Hal ini akan membuat tingkat stres di rumah lebih bisa dikendalikan karena komunikasi antar pasangan yang baik.

Sehingga dampaknya adalah orangtua bisa lebih baik dalam pengasuhan anak.

Membangun Kebiasaan pada Anak di saat Masa Pandemi

theasianparent.com

Banyak orangtua yang cemas karena kebiasaan yang berubah saat masa pandemi.

Yang biasanya anak harus bangun pagi karena harus bersiap diri ke sekolah, tapi karena harus SFH anak jadi terbiasa bangun pagi.

Atau juga waktu jam belajar anak yang selama di sekolah bisa full sampai siang atau sore, sekarang hanya 2 atau 3 pelajaran saja sudah mulai bosan.

Menurut Najelaa Shihab, kondisi ini adalah hal yang wajar.

Ia mengatakan bahwa para orangtua dan pihak sekolah harus bisa memahami kondisi ini.

Tujuan dan pencapaian belajar anak memang penting, tapi juga harus ada pemakluman bahwa akan ada yang tidak bisa tercapai.

Menurutnya, hal terpenting saat ini adalah menumbuhkan minat belajar pada anak.

Jangan terlalu memaksa anak karena justru akan membuat anak merasa tertekan.

Karena kalau terlalu memaksakan, yang stres bukan hanya anak tapi juga orangtua.

Di masa pandemi ini, SFH bukan hanya memenuhi kebutuhan anak tapi juga psikologinya.

Jadikan kesempatan untuk anak bereksplorasi dengan hal baru.

Jika memang mereka sudah jenuh dengan pelajaran yang diberikan oleh guru, tanyakan kepada anak hal baru apa yang ingin dilakukan dan diketahui.

Tugas orangtua adalah melakukan pendampingan agar anak tetap mendapatkan pengetahuan baru.

Dengan demikian, anak akan tetap merasa butuh mendapatkan pengetahuan baru sehingga akan muncul keinginannya untuk terus belajar.

Biasakan juga anak menilai hasil kerjanya sendiri dengan bertanya, "Ini sudah hasil usaha terbaik kamukah?" Atau juga dengan, "Kamu sudah cek kembali belum hasil jawaban kamu?"

Yang harus para orangtua sadari adalah SFH bukan memindahkan sekolah ke rumah.

Durasi belajar menjadi lebih pendek itu wajar.

Yang penting adalah rutinitas belajar anak walau hanya 2 atau 3 jam per hari. Yang penting hal itu rutin dilakukan.

Baca juga:

The Latest