TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kontraksi Berlebihan saat Persalinan, Waspada Takisistol Uterus

Lima kontraksi dalam waktu 10 menit adalah intensitas yang harus diwaspadai

Freepik/Alexkoral

Jelang minggu-minggu akhir kehamilan, Mama tentu sudah tidak sabar menunggu momen untuk segera bertemu dengan si Kecil. Pada tahap akhir kehamilan ini Mama mungkin akan merasakan kekhawatiran terhadap kontraksi, sekaligus menunggunya dengan harapan persalinan segera dimulai. 

Tetapi perjalanan kontraksi sendiri tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada berbagai jenis kontraksi yang mungkin membuat Mama bertanya-tanya, "Apakah yang sedang terjadi?" Selain itu, jika Mama mengalami kontraksi yang intens, muncul rasa ingin tahu apakah itu normal atau tidak. 

Berikut ini Popmama.com merangkum informasi seputar kontraksi yang tidak normal atau berlebihan yang disebut dengan takisistol uterus, dilansir dari Firstcry:

Apakah Takisistol Uterus itu?

Freepik

Biasanya, kontraksi selama persalinan berlangsung selama 60-90 detik. Istilah 'takisistol' uterus diadopsi pada tahun 2013 untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang mengalami sekitar lima kontraksi dalam rentang waktu 10 menit saat melahirkan. Ini adalah kondisi di mana seorang perempuan dalam persalinan mengalami kontraksi yang sangat sering atau intens.

Kapankah Takisistol Uterus Bisa Terjadi?

Freepik

Takisistol uterus biasanya terjadi pada situasi di mana obat perangsang persalinan tertentu, seperti oksitosin, diberikan. Obat tersebut dapat memicu jumlah hormon oksitosin, yang merangsang kontraksi di rahim selama persalinan. Oksitosin sangat penting untuk persalinan dan dapat diberikan dalam bentuk sintetisnya. Namun, reaksi yang merugikan atau dosis yang salah dapat menyebabkan takisistol uterus.

Takisistol dapat menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan yang parah pada Mama, memiliki efek pada tali pusat, dan memengaruhi kesehatan Takisistol menyebabkan bayi tidak dapat menerima pasokan oksigen yang diperlukan dari plasenta sehingga mengganggu perkembangan bayi.

Penyebab Takisistol Uterus

Freepik/comzeal

Meskipun tidak ada penelitian yang meyakinkan untuk menentukan penyebab takisistol uterus, diyakini bahwa ada faktor-faktor tertentu yang meningkatkan kemungkinan kondisi tersebut. Kondisi tersebut adalah:

  • Penggunaan obat perangsang persalinan seperti misoprostol atau oksitosin. Penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan oksitosin meningkatkan kemungkinan mengalami takisistol uterus sebanyak dua kali lipat
  • Menggunakan epidural untuk mengatasi rasa sakit selama persalinan
  • Induksi persalinan melalui pengobatan menyebabkan takisistol karena stimulan persalinan cenderung membuat kontraksi lebih lama dan lebih sering. Pemberian obat induksi yang salah dapat menyebabkan takisistol
  • Hipertensi
  • Preeklampsia

Takisistol Berdampak terhadap Detak Jantung dan Pasokan Oksigen Bayi

Freepik

Laporan yang diterbitkan dalam Americal Journal of Obstetrics and Gynecology menyebutkan bahwa masalah detak jantung takisistol uterus pada janin sering terjadi, tetapi tidak selalu menunjukkan hasil yang merugikan bagi bayi. 

Tali pusat adalah sumber oksigen dan darah bayi, dan selama kontraksi, aliran ke tali pusat ini cenderung berkurang atau berhenti. Oleh karena itu, periode antara kontraksi penting untuk menjaga aliran tersebut tetap berjalan. 

Ketika kontraksi menjadi sangat sering dan intens, tidak ada cukup waktu bagi plasenta untuk rileks dan mengurangi pasokan oksigen ke janin untuk memperlambat detak jantungnya. Padahal pasokan oksigen sangat penting bagi kehidupan bayi. 

Takisistol dapat menyebabkan asfiksia yang menyebabkan cedera otak, ensefalopati hipoksia-iskemik, atau gangguan kejang. Bayi mungkin juga menderita asidosis janin, yang berarti kadar asam di otak meningkat, menyebabkan cedera otak seperti cerebral palsy.

Takisistol Berisiko Menyebabkan Ruptur Uterus

Freepik/Stokerphotos

Risiko lain dari takisistol yang membahayakan adalah terjadinya ruptur uterus. Ini berarti janin dikeluarkan dari rahim ke dalam perut ibu, menimbulkan risiko yang sangat besar bagi kehidupan bayi dan ibunya. 

Ruptur uterus dapat menyebabkan kehilangan darah yang fatal dan komplikasi terkait pada ibu. Dan bagi bayi, kondisi ini menghambat pasokan oksigen dan menyebabkan asfiksia, cerebral palsy, ensefalopati hipoksia-iskemik, asidosis janin, atau komplikasi sejenis lainnya.

Jika Mama mulai menunjukkan tanda-tanda takisistol, pemberian obat pemicu persalinan harus segera dihentikan. Praktisi medis tidak boleh menunggu sampai bayi juga mulai menunjukkan gejala. 

Takisistol uterus dapat membahayakan kesehatan ibu dan kehidupan bayi jika tidak ditangani dengan baik. Cepat dan tepatnya penanganan dapat berdampak besar pada janin dan dapat mengubah hidup.

Konsultasikan tentang risiko takisistol uterus ini dengan dokter kandungan mama. Semoga informasi ini bermanfaat. 

Baca juga:

Topic:

The Latest