Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Apakah Efek Vaksin Bisa Mengubah DNA Anak? Ini Kata Dokter

3 min read
Apakah Efek Vaksin Bisa Mengubah DNA Anak? Ini Kata Dokter
Pexels/Tima Miroshnichenko
  • Vaksin tidak mengubah DNA anak karena komponennya tidak berinteraksi atau memodifikasi materi genetik manusia.

  • Demam, nyeri di area suntikan, rewel, atau rasa tidak nyaman setelah imunisasi merupakan respons tubuh, bukan tanda perubahan DNA.

  • Vaksin mRNA bekerja di sitoplasma untuk memberi instruksi sementara dan membentuk respons serta memori sistem kekebalan tubuh.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masih ada kekhawatiran di kalangan orangtua bahwa vaksin dapat memengaruhi atau bahkan mengubah DNA anak. Kekhawatiran tersebut bisa muncul karena cara kerja beberapa jenis vaksin terdengar cukup kompleks, terutama setelah masyarakat semakin familier dengan istilah seperti mRNA.

Dokter Spesialis anak Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A turut membahas anggapan tersebut dalam bukunya Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja. Dalam buku tersebut, dr. Meta menjelaskan bahwa vaksin tidak bekerja dengan cara mengubah materi genetik manusia.

Lantas, apakah efek vaksin benar-benar bisa mengubah DNA anak? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya.

  1. 1. Dokter tegaskan vaksin tidak mengubah DNA anak

    Dokter tegaskan vaksin tidak mengubah DNA anak
    Pexels

    Dalam buku Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak, dan Remaja, Dr. dr. Meta Hanindita, Sp.A membahas pernyataan bahwa vaksin dapat mengubah DNA anak dan memasukkannya sebagai mitos.

    Ia menjelaskan bahwa penelitian yang tersedia tidak menunjukkan adanya perubahan genetik pada sel manusia setelah seseorang menerima vaksin.

    “Penelitian menunjukkan tidak ada perubahan genetik pada sel manusia setelah vaksinasi. Hal ini terjadi karena komponen vaksin tidak dapat berinteraksi atau memodifikasi materi genetik. Vaksin hanya berfungsi untuk melatih sistem kekebalan tubuh anak secara aman dan efektif, bukan untuk merekayasa genetik,” jelas dr. Meta di buku tersebut.

    Artinya, vaksin bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali ancaman tertentu agar tubuh lebih siap ketika nantinya berhadapan dengan penyebab penyakit tersebut.

    Proses tersebut berbeda dengan rekayasa genetik. Vaksin tidak ditujukan untuk mengganti, memodifikasi, ataupun memasukkan perubahan permanen ke dalam DNA anak.

  2. 2. Kemenkes juga menegaskan imunisasi tidak merusak sel dan DNA

    Kemenkes juga menegaskan imunisasi tidak merusak sel dan DNA
    Unsplash/spencerbdavis

    Penjelasan dr. Meta tersebut sejalan dengan informasi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dikutip dari website, Kemenkes pernah secara khusus membantah informasi mengenai imunisasi yang disebut dapat merusak sel dan DNA manusia. 

    Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, M.K.M., menegaskan bahwa narasi mengenai imunisasi yang dapat merusak sel dan DNA merupakan informasi yang keliru.

    Ketua Komnas Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (Komnas PP KIPI), Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), M.Trop.Paed., juga menjelaskan bahwa isu mengenai vaksin dan kerusakan DNA bukanlah isu baru.

    Namun, berdasarkan kajian ilmiah yang tersedia, tidak terdapat bukti bahwa imunisasi menyebabkan kerusakan DNA.

    Jadi, apabila anak mengalami demam, nyeri pada area suntikan, rewel, atau merasa tidak nyaman setelah imunisasi, kondisi tersebut tidak menunjukkan bahwa materi genetik anak berubah. Reaksi tersebut dapat muncul sebagai bagian dari respons tubuh setelah vaksinasi.

  3. 3. Vaksin melatih sistem imun, bukan masuk dan mengubah DNA

    Vaksin melatih sistem imun, bukan masuk dan mengubah DNA
    Magnific/freepik

    Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh setelah vaksin diberikan?

    Secara sederhana, vaksin memperkenalkan sistem imun pada antigen atau petunjuk tertentu yang berkaitan dengan penyebab penyakit. Dari proses tersebut, tubuh belajar mengenali ancaman dan membentuk respons kekebalan.

    Hal ini juga dapat dijelaskan melalui cara kerja vaksin mRNA, salah satu jenis vaksin yang sering dikaitkan dengan klaim perubahan DNA.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa mRNA dari vaksin bekerja di sitoplasma, yakni bagian sel yang berada di luar inti sel. Sementara itu, DNA manusia tersimpan di dalam inti sel atau nukleus.

    mRNA tersebut memberikan instruksi sementara kepada sel untuk menghasilkan protein tertentu yang kemudian dikenali sistem imun. Setelah tugasnya selesai, mRNA akan dipecah oleh tubuh.

    WHO juga menjelaskan bahwa vaksin mRNA tidak memengaruhi atau berinteraksi dengan DNA manusia. Materi dari vaksin tidak perlu masuk ke inti sel untuk menjalankan fungsinya. Karena itu, proses vaksinasi pada dasarnya bertujuan membentuk respons dan memori sistem kekebalan tubuh, bukan melakukan perubahan terhadap susunan genetik anak.

    Itulah tadi informasi mengenai apakah efek vaksin benar-benar bisa mengubah DNA anak dan faktanya. Semoga menjawab keresahan orangtua yang masih bingung.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More