- Demam dengan suhu badan biasanya >380C selama 3 hari atau lebih dan akan berakhir setelah 4-7 hari. Demam tinggi terjadi setelah 10-12 hari setelah tertular. Terdapat pula batuk, pilek, mata merah atau mata berair (3C: cough, coryza, conjunctivitis).
- Tanda khas (patognomonis) ditemukan Koplik's spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam.
- Gejala pada tubuh berbentuk ruam makulopapular. Ruam muncul pada muka dan leher, dimulai dari belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ruam bertahan selama 3 hari atau lebih pada kisaran hari ke-4 sampai ke-7 demam. Ruam muncul saat demam mencapai puncaknya. Ruam berakhir dalam 5 sampai 6 hari, dan menjadi berwarna seperti tembaga atau kehitaman.
Ini Penyebab Anak Sudah Vaksin tapi Tetap Kena Campak

- Kasus campak meningkat tajam di Indonesia sepanjang 2025 hingga awal 2026, dengan ribuan kasus suspek dan puluhan kematian tercatat oleh Kemenkes.
- Anak yang sudah divaksin tetap bisa tertular campak jika paparan virus tinggi, namun gejalanya biasanya lebih ringan dan risiko komplikasi lebih kecil.
- Penurunan cakupan imunisasi selama pandemi COVID-19 menciptakan celah kekebalan yang memicu penyebaran cepat virus campak di berbagai daerah.
Sepanjang tahun 2025 dan awal tahun 2026, terjadi peningkatan kasus serta Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak di berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia.
Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang tahun 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian, serta terjadi 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Mama mungkin mengalami hal ini: si Kecil sudah mendapatkan vaksin tapi masih tertular campak. Apakah ini artinya vaksin tidak ampuh atau tidak bekerja?
Bila ini terjadi pada si Kecil, simak rangkuman informasi Popmama.com berikut ini tentang penyebab anak sudah vaksin tapi tetap kena campak.
Penyebab Anak Sudah Vaksin tapi Tetap Kena Campak

Anak mendapatkan vaksin campak, tapi kok masih tertular campak juga? Pertanyaan ini makin sering muncul akhir-akhir ini.
Sebagian orangtua mungkin mengira jika si Kecil sudah mendapatkan vaksin campak, maka ia tidak akan tertular campak.
Dilansir dari unggahan dr. Merry, Sp. A di laman Instagram pribadinya @dr.merryforkids, kenyataannya tidak selalu begitu. Anak yang sudah mendapatkan vaksin campak belum tentu tidak akan terkena atau tertular campak lagi.
Vaksin campak memang sangat efektif. Dua dosis bisa memberi perlindungan hingga sekitar 97%. Namun, ketika banyak anak di lingkungan tidak mendapatkan vaksin, maka virus pun masih terus beredar, Ma. Paparan virus menjadi sangat tinggi. Jadi, dalam kondisi seperti itu anak yang sudah vaksin pun bisa tetap tertular. Tapi biasanya gejalanya lebih ringan dan risiko komplikasinya jauh lebih kecil.
Meski komplikasinya lebih kecil, dr. Merry juga menambahkan jika campak bukanlah sekadar ruam biasa saja. Pada sebagian anak, infeksi ini bisa menyebabkan pneumonia, radang otak (ensefalitis), bahkan kematian. Terutama pada bayi, balita, atau anak dengan daya tahan tubuh rendah.
Jadi, perlindungan terhadap campak sebenarnya tidak hanya datang dari vaksin anak kita sendiri. Tapi juga dari lingkungan yang memikiki cakupan imunisasi tinggi.
Saat semakin banyak anak terlindungi, virus tidak punya tempat untuk menyebar. Dan yang paling terlindungi justru adalah anak-anak yang paling kecil dan paling rentan.
Apa Itu Campak?

Campak merupakan penyakit infeksi virus akut serius yang sangat menular. Campak disebabkan oleh Paramyxovirus dan ditularkan terutama melalui udara (airborne).
Dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), attack rate penularan campak lebih dari 90% dari individu yang terinfeksi sejak 4 hari sebelum sampai 4 jam setelah munculnya ruam. Masa inkubasi penyakit ini terjadi pada 7-18 hari.
Gejala Campak pada Bayi dan Anak Kecil

Menurut IDAI, gejala campak ditandai dengan:
Kenapa Kasus Campak Mulai Terasa Muncul Lagi Sekarang?

Sepanjang tahun 2025 dan awal tahun 2026, terjadi peningkatan kasus serta Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak di berbagai provinsi dan kabupaten di Indonesia.
Berdasarkan data Kemenkes, sepanjang tahun 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-7, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian, serta terjadi 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Berdasarkan data WHO yang dirilis Centers for Disease Control and Prevention (CDC) per Februari 2026, secara global, Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.744 kasus, di bawah Yaman dan di atas India.
Kenapa kasus campak mulai terasa muncul lagi sekarang? Selama pandemi COVID-19, banyak layanan imunisasi terganggu. Sebagian orangtua juga menunda untuk datang ke fasilitas kesehatan karena takut tertular COVID-19. Hal ini menyebabkan cakupan imunisasi turun dan terbentuk immunity gap, Ma.
Karena itu, mulai muncul kelompok anak yang tidak terlindungi. Begitu virus campak masuk ke kelompok ini, penularannya pun menjadi sangat cepat.
Kasus campak ini menunjukkan bahwa herd immunity sangatlah penting. Tidak semua perlindungan berasal dari vaksin individu. Sebaliknya, sebagian perlindungan justru datang dari lingkungan yang kebal.
Ketika terjadi wabah, kadang muncul kasus pada anak yang sudah mendapatkan vaksin. Penyebabnya bukan karena vaksin tidak bekerja atau tidak ampun. Tapi karena paparan virus di lingkungan menjadi sangat tinggi, Ma.
Sekarang Mama sudah mengetahui penjelasan tentang kenapa anak yang sudah dapat vaksin tetap kena campak. Semoga informasi ini bisa membantu Mama dalam mengatasi atau mencegah penularan campak di lingkungan, ya.

















