6 Penyebab Kurap pada Bayi, Mengelus Hewan Salah Satunya

Kurap pada bayi disebabkan jamur tinea, bukan cacing, dan biasanya tampak sebagai bercak merah berbentuk cincin pada kulit.
Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, orang penderita, serta barang bersama atau permukaan yang terkontaminasi jamur.
Lingkungan hangat dan lembap meningkatkan pertumbuhan jamur; kebersihan kulit, pakaian, serta barang pribadi perlu dijaga untuk mengurangi risiko.
Jika si Kecil terkena kurap dan Mama melihat ada bercak merah berbentuk cincin di kulit si Kecil, Mama mungkin akan panik.
Padahal menurut Healthline, kurap sama sekali tidak berhubungan dengan cacing. Penyebabnya adalah jamur bernama tinea yang membentuk pola melingkar mirip cacing.
Nah, supaya Mama bisa lebih waspada, berikut Popmama.com mengulas 6 penyebab kurap pada bayi. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Mengelus hewan yang terkena kurap

Pexels/Helena Lopes Hewan peliharaan yang menggemaskan ternyata bisa menjadi pintu masuk jamur kurap. Menurut Medical News Today, salah satu cara bayi tertular adalah dengan mengelus anjing atau kucing yang terkena kurap.
Mengutip Healthline, penularan dari hewan ke manusia merupakan yang paling umum di seluruh dunia. Kadang keluarga membawa pulang hewan baru yang ternyata terinfeksi, lalu bayi menggosokkan wajahnya ke hewan tersebut.
Karena itu, Mama disarankan untuk memperhatikan bulu hewan peliharaan. Bulu yang tampak gatal, bersisik, atau memiliki area botak bisa menjadi tanda kurap, sehingga hewan perlu segera diobati.
2. Berbagi barang dengan penderita kurap

Pexels/Анастасия Триббиани Di rumah yang dihuni banyak orang, barang sering dipakai bergantian tanpa banyak dipikirkan. Menurut Medical News Today, bantal, handuk, atau seprai yang dipakai bersama penderita kurap bisa menjadi jalur penularan.
Melansir Children's Hospital of Orange County, jamur juga bisa berpindah lewat sisir, sikat rambut, topi, dan pakaian. Artinya, benda sehari-hari yang tampak bersih pun bisa membawa jamur kalau sebelumnya dipakai oleh penderita.
Karena itu, disarankan untuk menggunakan handuk bersih dan tidak berbagi pakaian, handuk, sisir, sikat rambut, maupun topi.
3. Berjalan tanpa alas kaki

Pexels/Md Mamun Miah Begitu bayi mulai belajar berjalan, kakinya sering dibiarkan telanjang agar lebih leluasa. Mengutip Medical News Today, berjalan tanpa alas kaki termasuk salah satu cara bayi tertular kurap.
Menurut Children's Hospital of Orange County, tempat lembap dan hangat seperti kamar mandi umum, ruang ganti, dan area kolam renang menjadi lokasi berkembangnya jamur kurap. Lantai-lantai itulah yang paling perlu Mama waspadai.
Orangtua disarankan agar tidak membiarkan bayi berjalan atau merangkak di permukaan berisiko, seperti kamar mandi dan ruang ganti pusat kebugaran. Bayi mama yang baru belajar berjalan juga sebaiknya dipakaikan kaus kaki atau sepatu.
4. Memeluk orang yang terkena kurap

Pexels/Rendi iD Pelukan adalah bahasa cinta paling ampuh untuk bayi, tetapi pelukan juga bisa menjadi jalur penularan. Mengutip Medical News Today, memeluk orang yang terkena kurap merupakan salah satu penyebab bayi tertular.
Mengutip Healthline, kurap sangat menular dan mudah berpindah. Mencegahnya memang tidak mudah karena bayi butuh kontak dekat saat menyusu, diganti popoknya, dan digendong.
Selain itu, bayi di tempat penitipan anak pun lebih rentan, sebab satu anak yang terkena bisa menularkannya ke anak lain.
5. Menyentuh benda yang pernah disentuh orang yang terkena kurap

Pexels/Agung Pandit Wiguna Jamur kurap tidak harus bertemu orangnya langsung untuk berpindah. Mengutip Medical News Today, jamur ini bisa hidup di kulit, pakaian, handuk, dan permukaan lain, sehingga menyentuh benda yang baru disentuh penderita pun bisa menularkannya.
Melansir News-Medical, pakaian, seprai, handuk, dan barang lain yang terkontaminasi dapat membantu proses penularan. Jadi, kebersihan benda di sekitar si Kecil patut dijaga.
Jika bayi mama sudah terinfeksi, barang pribadi, seperti sikat, pakaian, seprai, dan handuk, tidak boleh oleh dipakai orang lain. Barang-barang itu juga perlu dicuci dan didisinfeksi secara teratur selama masa pemulihan.
6. Lingkungan yang lembap dan hangat

Pexels/cami Mengutip Children's Hospital of Orange County, jamur dermatofita sebenarnya hidup normal di kulit, rambut, dan kuku. Namun, ketika lingkungannya menjadi hangat dan lembap, jamur ini tumbuh tak terkendali dan menimbulkan gejala.
Menurut Healthline, tinggal di daerah beriklim hangat termasuk faktor risiko, karena jamur tinea tumbuh subur di tempat hangat dan lembap. Untuk Mama yang tinggal di daerah tropis, hal ini patut diperhatikan.
Paparan panas dan kelembapan berlebih juga meningkatkan peluang terkena kurap. Disarankan juga agar kulit dijaga tetap bersih dan kering, menghindari pakaian ketat, serta mengganti pakaian setiap hari.
Nah, itulah pembahasan mengenai 6 penyebab kurap pada bayi yang harus Mama ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!





-4efd4c7a4a7968343930e3d36ffe775a.jpg)



















