Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

9 Penyebab Suara Bayi Serak tapi Tidak Batuk, Orangtua Wajib Tahu!

4 min read
9 Penyebab Suara Bayi Serak tapi Tidak Batuk, Orangtua Wajib Tahu!
Pexels.com/juliane Monari
  • Suara bayi serak tanpa batuk dapat dipicu tangisan berlebihan, infeksi seperti laringitis atau croup, hidung tersumbat, alergi, serta refluks asam lambung.

  • Penyebab lain mencakup nodul atau kista pita suara, RRP, tumor langka, cedera tenggorokan akibat zat berbahaya atau prosedur medis, dan kelainan bawaan laring.

  • Orangtua perlu berkonsultasi ke dokter bila suara serak menetap, tidak membaik beberapa hari, atau disertai kesulitan bernapas, menyusu, muntah, maupun berat badan sulit bertambah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendengar si Kecil mulai mengeluarkan suara tentu menjadi momen menyenangkan bagi orangtua. Namun, bagaimana jika suara yang biasanya terdengar lembut justru berubah menjadi serak?

Kondisi ini mungkin membuat Mama khawatir, terutama ketika suara serak muncul tanpa disertai batuk. Tak jarang, Mama pun bertanya-tanya apakah kondisi tersebut merupakan tanda adanya gangguan tertentu pada si Kecil.

Lantas, apa saja penyebabnya? Berikut rangkuman Popmama.com yang mengutip Healthline mengenai beberapa kondisi yang dapat menyebabkan suara si Kecil terdengar serak tapi tidak disertai batuk.

  1. 1. Terlalu sering menangis

    Terlalu sering menangis
    Pexels.com/Polina Smelova

    Bayi yang terlalu sering menangis dapat mengalami suara serak karena pita suaranya bekerja lebih keras. Kondisi ini mirip dengan suara orang dewasa yang menjadi serak setelah banyak berteriak atau bersorak.

    Tangisan berlebihan bisa terjadi karena berbagai hal, seperti merasa tidak nyaman saat bepergian dengan mobil, sedang menjalani sleep training, atau sekadar mengalami hari yang kurang baik sehingga sulit ditenangkan.

    Mama bisa mencoba menenangkan si Kecil, memberikan ASI atau empeng, serta memberinya waktu untuk beristirahat. Setelah tidak terlalu banyak menangis, suara serak biasanya dapat berangsur membaik.

  2. 2. Sedang sakit

    Sedang sakit
    Pexels.com/Polina Tankilevitch

    Beberapa penyakit seperti laringitis, croup, dan pilek dapat menyebabkan pita suara mengalami peradangan. Kondisi tersebut membuat udara yang melewati pita suara menghasilkan suara yang terdengar serak.

    Jika si Kecil sedang sakit, Mama dapat membantu meredakan gejalanya dengan membersihkan saluran hidung menggunakan larutan saline atau nasal aspirator. Penggunaan humidifier juga dapat membantu, terutama ketika bayi mengalami croup.

    Jika penyakit atau suara serak tidak kunjung membaik setelah beberapa hari, sebaiknya konsultasikan kondisi si Kecil kepada dokter.

  3. 3. Hidung tersumbat

    Hidung tersumbat
    Pexels.com/Rasmus Svinding

    Infeksi tertentu dapat menyebabkan produksi lendir berlebih yang membuat hidung bayi berair atau tersumbat. Lendir tersebut juga bisa mengalir ke tenggorokan dan memengaruhi pita suara sehingga suara si Kecil terdengar serak.

    Kondisi serupa juga dapat terjadi akibat alergi. Jika suara serak berkaitan dengan alergi, Mama mungkin perlu mengurangi paparan pemicu alergi di rumah, seperti debu dan bulu hewan.

  4. 4. Refluks

    Refluks
    Pexels.com/Daniel Reche

    Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika asam lambung naik hingga ke bagian belakang tenggorokan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan suara bayi terdengar serak.

    Meski begitu, suara serak saja biasanya bukan satu-satunya tanda GERD. Bayi dengan kondisi ini dapat menunjukkan gejala lain, seperti sulit menyusu, sering gumoh atau muntah, menangis saat menyusu, hingga berat badan yang sulit bertambah.

    Penanganannya dapat dilakukan dengan memberikan ASI atau susu dalam porsi lebih kecil tetapi lebih sering, serta menjaga posisi bayi tetap tegak setelah menyusu. Pada kondisi yang lebih serius, dokter mungkin memberikan pengobatan tertentu.

  5. 5. Nodul atau kista pada pita suara

    Nodul atau kista pada pita suara
    Pexels.com/ENIO ENGENHEIRO

    Suara serak yang berlangsung terus-menerus pada bayi juga bisa berkaitan dengan nodul atau kista pada pita suara, terutama jika kondisi tersebut sudah terlihat sejak lahir.

    Beberapa kondisi dapat bersifat bawaan, sementara lainnya berkembang seiring waktu. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang sesuai.

  6. 6. Recurrent respiratory papillomatosis (RRP)

    Recurrent respiratory papillomatosis (RRP)
    Pexels.com/Dobromir Dobrev

    Recurrent respiratory papillomatosis (RRP) merupakan kondisi langka yang menyebabkan munculnya pertumbuhan jaringan jinak menyerupai kutil pada atau di sekitar pita suara.

    Jika dokter mencurigai kondisi ini, si Kecil perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah diperlukan tindakan medis, termasuk operasi.

  7. 7. Tumor

    Tumor
    Pexels.com/RDNE Stock project

    Meskipun jarang terjadi, tumor juga dapat menjadi salah satu penyebab suara bayi serak. Kondisi ini perlu segera diperiksa, terutama jika suara serak berlangsung terus-menerus dan disertai kesulitan bernapas atau menyusu.

    Jika si Kecil menunjukkan gejala tersebut, jangan menunda untuk mendapatkan pertolongan medis.

  8. 8. Cedera

    Cedera
    Pexels.com/Peter Platou

    Cedera pada area tenggorokan juga dapat memengaruhi suara bayi. Misalnya, akibat tertelan zat kimia atau racun, pemasangan selang pernapasan atau selang makan, hingga trauma fisik seperti kecelakaan.

    Jika Mama mencurigai si Kecil menelan sesuatu yang seharusnya tidak dikonsumsi, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan darurat.

  9. 9. Kelainan bawaan

    Kelainan bawaan
    Pexels.com/Olya Afanasyeva

    Pada beberapa kasus, bayi dapat terlahir dengan kelainan pada laring atau kotak suara yang menjadi tempat pita suara. Gangguan juga dapat terjadi ketika saraf laring yang berfungsi menggerakkan pita suara mengalami kerusakan.

    Itu dia penyebab suara bayi serak tapi tidak batuk. Untuk mengetahui lebih lanjut, orangtua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More