5 Penyebab Bayi Mengalami Berat Badan Lahir Rendah

Karena BBLR bisa dicegah, Ma!

15 Maret 2019

5 Penyebab Bayi Mengalami Berat Badan Lahir Rendah
Freepik

Seperti yang Mama ketahui, berat badan lahir bayi turut menentukan kesehatannya. Berat badan lahir juga mencerminkan perkembangan si Kecil di dalam kandungan. Tak heran, berat badan lahir rendah menjadi hal yang sangat ditakuti para Mama.

Kapan sih bayi disebut BBLR atau memiliki berat badan lahir rendah? Umumnya, bayi lahir dengan berat badan sekitar 3,5 kilogram. Sedangkan berat badan ideal bayi baru lahir adalah 2,5-4,3 kilogram untuk bayi lelaki, dan 2,5-4,2 kilogram untuk bayi perempuan.

Nah, menurut Stanford Children’s Health, bayi bisa disebut memiliki berat badan lahir rendah jika beratnya kurang dari 2,500 gram (5 pon, 8 ons) atau 2,5 kilogram. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia 2014 dari Kementerian Kesehatan RI, BBLR tidak hanya dapat terjadi pada bayi prematur lho, Ma, tetapi juga pada bayi cukup bulan yang mengalami hambatan pertumbuhan selama kehamilan.

Mengutip Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), “Ketika lahir, berat badan bayi mengandung banyak cairan tubuh yang akan hilang dalam beberapa hari. Sebagian besar bayi kehilangan 1/10 dari berat badannya selama lima hari pertama dan berat badan akan naik kembali dalam lima hari berikutnya. Pada hari kesepuluh, berat badan biasanya akan kembali ke berat lahir.”

Walau IDAI menyebutkan berat badan bayi akan naik kembali dalam beberapa hari, namun tetap saja BBLR bukan hal yang bisa disepelekan ya, Ma. Untuk itu, Mama perlu mewaspadai hal-hal yang menyebabkan berat badan lahir rendah. Penasaran? Simak penjelasan di bawah ini, yuk!

1. Bayi lahir prematur

1. Bayi lahir prematur
Freepik

Menurut Stanford Children’s Health, penyebab utama bayi lahir dengan berat badan rendah adalah persalinan prematur, atau lahir di usia kandungan kurang dari 37 minggu.

Mengutip laman Stanford, “Lahir terlalu cepat membuat bayi memiliki lebih sedikit waktu untuk tumbuh di dalam perut ibu. Sedangkan kebanyakan janin tumbuh pesat justru di akhir kehamilan.”

2. Pertumbuhan janin tidak sempurna

2. Pertumbuhan janin tidak sempurna
pixabay/fancycrave1

Selain persalinan prematur, hal lainnya yang juga sering menyebabkan bayi BBLR adalah intrauterine growth restriction atau IUGR. Ini terjadi ketika janin tidak tumbuh dengan baik di dalam perut Mama, karena ada masalah dengan plasenta, kesehatan ibu, atau masalah lain pada janin.

Walau begitu, bayi yang mengalami IUGR bukan berarti tidak bisa lahir cukup bulan. Bayi IUGR juga bisa lahir cukup bulan, atau di usia kehamilan 37 sampai 41 minggu kok, Ma. Namun memang, bayi IUGR yang lahir cukup bulan biasanya hanya matang secara fisik saja, padahal sebenarnya kesehatannya lebih lemah dibanding bayi non-IUGR yang lahir cukup bulan.

Lalu bagaimana jika bayi IUGR lahir prematur? Menurut Stanford, biasanya tubuh mereka sangat kecil dan secara fisik tidak matang.

Editors' Picks

3. Kurang nutrisi dalam kandungan

3. Kurang nutrisi dalam kandungan
Freepik

“Saat hamil, ibu harus makan untuk berdua,” sepertinya memang perlu diterapkan untuk mencegah BBLR. Karena, pola makan Mama saat hamil sangat memengaruhi nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, lho. Bicara soal nutrisi saat hamil, itu artinya juga nutrisi untuk janin di dalam perut Anda.

Maka terapkanlah pola makan seimbang saat hamil, konsumsi segala jenis makanan kaya nutrisi yang aman, sehat, dan baik untuk mengoptimalkan pertumbuhan si Kecil di dalam perut.

4. Usia ibu terlalu muda

4. Usia ibu terlalu muda
Freepik/jcomp

Menurut Kementerian Kesehatan RI, persalinan pada ibu yang berusia di bawah 20 tahun memiliki banyak risiko, dan salah satunya adalah berat badan lahir rendah. Beberapa risiko lainnya adalah kelahiran prematur dan perdarahan persalinan yang bisa meningkatkan kematian ibu dan bayi.

Dalam laman Kemenkes RI dituliskan, “Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan bahwa angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada ibu usia 20-39 tahun.”

5. Kekurangan zat besi

5. Kekurangan zat besi
Pixabay/smpratt90

Mengutip Profil Kesehatan Dasar 2014 dari Kemenkes RI, “Kekurangan zat besi sejak sebelum kehamilan bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kematian pada saat melahirkan, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, janin dan ibu mudah terkena infeksi, keguguran, dan meningkatkan risiko bayi lahir prematur.”

Baca juga: 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!