5 Kebiasaan Buruk yang Menghambat Kemampuan Bicara Bayi

Dukung perkembangan bicara bayi dengan menghindari kebiasaan buruk ini ya, Ma

17 Juli 2021

5 Kebiasaan Buruk Menghambat Kemampuan Bicara Bayi
Freepik

Salah satu momen istimewa yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap orangtua adalah ketika si Kecil pertama kali berbicara dengan benar. Tahukah Mama? Sebelum bayi dapat melontarkan kata pertamanya dengan fasih, ia mengamati dan belajar meniru suara yang didengarnya.

Meski kemampuan komunikasi dan bahasa bayi berkembang secara bertahap mengikuti usia, Mama bisa membantunya dengan melakukan aktivitas seperti membacakan cerita, menyanyikan lagu untuknya, mengajaknya bicara, mengenalkan nama benda, dan lain sebagainya.

Namun, menghindari kebiasaan buruk yang dapat menghambat kemampuan bicara si Kecil juga sama pentingnya untuk dilakukan. Apa saja itu? Yuk cari tahu lima kebiasaan buruk yang menghambat kemampuan bicara bayi, dalam artikel Popmama.com berikut ini!

1. Periode mengisap empeng terlalu lama

1. Periode mengisap empeng terlalu lama
Pixabay/Stocksnap

Membiarkannya mengisap empeng terlalu lama dapat menghambatnya untuk berbicara. Bayi belajar dari meniru dan mempraktikan, jadi jika mulutnya sibuk mengisap empeng, semakin sedikit kesempatannya untuk praktik menirukan suara di sekitar.

Idealnya bayi harus sudah mulai berhenti menggunakan empeng pada rentang usia 4-12 bulan. Jika buah hati sangat sulit lepas dari empeng, Mama bisa berkonsultasi dan meminta bantuan dokter ahli untuk penanganan yang tepat.

Editors' Picks

2. Berbicara kebayi-bayian

2. Berbicara kebayi-bayian
Freepik

Dalam konteks membuat si Kecil memahami konteks ucapan mama pada usia 0-6 bulan, Mama bisa menggunakan kosa kata kebayi-bayian berulang seperti “bobo” sebagai pengganti kata “tidur” atau “mimi” sebagai pengganti kata “minum” dengan nada tinggi seolah menyanyi.

Namun untuk melatihnya berbicara pada usia 7-12 bulan, disarankan untuk berhenti bicara kebayi-bayian dan mulai berbicara dengan pengucapan yang benar untuk memudahkan bayi meniru kata. Mama juga bisa mengoreksi bayi ketika ia salah menyebut kata saat meminta sesuatu.

3. Terlalu sering hanya merespon gerak

3. Terlalu sering ha merespon gerak
Pexels/pixabay

Komunikasi non-verbal seperti menunjuk, menepuk, mengangguk atau menggelengkan kepala lebih mudah dilakukan oleh bayi daripada mengungkapkannya dalam kata-kata. Jika dibiarkan terlalu lama, bayi bisa merasa gestur saja sudah cukup untuk menyampaikan pesannya.

Hindari langsung merespon gesturnya ketika meminta sesuatu dan selalu pancing bayi untuk mengutarakan keinginannya dengan berbicara. Jika kesulitan, Mama bisa membantu dengan bertanya atau memintanya mengulang kata-kata mama.

4. Berbicara terlalu cepat

4. Berbicara terlalu cepat
Freepik

Hindari bicara terlalu cepat karena bayi yang masih belajar memahami dan meniru akan kebingungan bahkan menganggap berbicara adalah hal yang sangat sulit. Beri waktu dan jeda pada bayi untuk memahami setiap kata yang Mama ucapkan.

Mulai bicara perlahan dan tekankan kata-kata tertentu untuk membantu bayi menangkap cara pengucapan kata tersebut dengan benar.

5. Terlalu banyak paparan gadget

5. Terlalu banyak paparan gadget
Pexels/Andrea Piacquadio

Terkadang, memberikan si Kecil gadget adalah cara yang paling mudah untuk membuatnya tenang. Namun jika dilakukan terlalu sering dalam waktu lama, kebiasaan buruk ini dapat menghambat kemampuan bahasa dan komunikasi bayi.

Batasi waktu bayi menggunakan gadget maksimal hanya satu jam dalam sehari, itu pun dengan memberi tontonan konten berkualitas yang menunjang tumbuh kembangnya dan tetap dalam pengawasan Mama.

Itulah lima kebiasaan buruk yang menghambat kemampuan bicara bayi. Perlu diingat bahwa setiap anak berkembang dalam rentang kecepatan masing-masing. Jika Mama khawatir melihat kemampuan komunikasi dan bahasa bayi tidak kunjung berkembang, silakan berkonsultasi dengan dokter ahli untuk tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan si Kecil.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.