Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Alergi Susu Sapi pada Anak Bisa Seumur Hidup?
Magnific/Freepik
  • Alergi susu sapi pada anak umumnya tidak seumur hidup; sekitar 45–55% membaik pada tahun pertama, 60–75% tahun kedua, dan 80–90% tahun ketiga.

  • Gejala dapat melibatkan kulit, pencernaan, dan pernapasan, seperti biduran, muntah, diare, batuk, hingga sesak; reaksi berat berisiko menyebabkan anafilaksis.

  • Kembalinya konsumsi susu sapi harus berdasarkan evaluasi dokter, termasuk oral food challenge bila diperlukan; penggantian formula juga perlu disesuaikan kondisi anak, bukan dipilih sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Alergi susu sapi menjadi salah satu kondisi yang cukup sering membuat orangtua khawatir, terutama ketika si Kecil mengalami berbagai gejala setelah mengonsumsi susu atau produk yang mengandung protein susu sapi. Tak sedikit pula yang mengira bahwa alergi ini akan menetap hingga anak dewasa.

Lantas, benarkah alergi susu sapi pada anak bisa seumur hidup? Atau alergi susu sapi bisa membaik dengan sendirinya? Apa saja tanda yang perlu diperhatikan dan kapan anak dapat kembali mengonsumsi susu sapi? 

Berikut Popmama.com rangkum penjelasan selengkapnya.

1. Alergi susu sapi pada anak umumnya tidak bertahan seumur hidup

Magnific/azerbaijan_stockers

Mitos bahwa alergi susu sapi akan dialami anak seumur hidup ternyata tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar anak dengan alergi susu sapi dapat mengalami toleransi seiring bertambahnya usia.

Dalam buku Mommyclopedia: 600 Mitos & Fakta tentang Bayi, Anak dan Remaja, dr. Meta Hanindita, Sp.A.(K) menjelaskan mengenai hal ini.

“Alergi susu sapi pada anak umumnya akan membaik seiring berjalannya waktu. Sekitar 45–55% anak membaik pada tahun pertama, 60–75% pada tahun kedua, dan 80–90% pada tahun ketiga,” jelasnya di buku tersebut.

Jadi, anggapan bahwa alergi susu sapi pasti menetap hingga anak dewasa tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan penjelasan tersebut, persentase anak yang mengalami perbaikan bahkan meningkat seiring bertambahnya usia.

2. Tanda perut anak menoleransi susu sapi bisa berbeda-beda

Popmama.com/SysiliaTanhati/AI

Pedoman dari European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) menjelaskan bahwa sebagian besar anak dengan alergi susu sapi pada akhirnya mengembangkan toleransi terhadap protein susu sapi. 

Namun, waktu terbentuknya toleransi dapat berbeda pada setiap anak. Diagnosis dan evaluasi kondisi tetap perlu dilakukan oleh dokter agar orangtua dapat mengetahui kapan anak sudah dapat kembali mengonsumsi susu sapi dengan aman.

3. Ciri-ciri anak yang alergi susu sapi, bisa berbeda tiap orang

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Cow's milk allergy (CMA) atau alergi susu sapi dapat melibatkan beberapa sistem tubuh. Gejalanya antara lain dapat berupa:

  • Biduran atau urtikaria

  • Bengkak (angioedema)

  • Eksim/dermatitis atopik

  • Muntah

  • Sakit perut

  • Diare atau konstipasi

  • Batuk

  • Pilek

  • Sesak atau kesulitan bernapas

Pada reaksi berat, alergi susu sapi juga dapat menyebabkan reaksi sistemik hingga anafilaksis.

4. Toleransi bukan berarti orangtua boleh langsung memberikan susu sapi

Unsplash/Aleksey Melkomukov

Walaupun alergi susu sapi sering membaik dengan usia, waktu kapan anak sudah dapat mengonsumsi susu sapi kembali perlu ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing anak. 

Pada kasus tertentu, dokter dapat melakukan evaluasi ulang dan oral food challenge untuk melihat apakah anak sudah toleran. ESPGHAN menempatkan eliminasi diagnostik yang diikuti oral food challenge sebagai bagian penting dalam memastikan diagnosis dan perkembangan toleransi.

Untuk alergi yang diperantarai IgE, oral food challenge perlu dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan terlatih karena dapat memicu reaksi alergi.

5. Penanganan bukan sekadar mengganti susu sendiri

Wikipedia/Susu formula untuk bayi baru lahir

Jika alergi susu sapi sudah terdiagnosis, penanganannya memang melibatkan penghindaran protein susu sapi. Namun, jenis pengganti susu perlu disesuaikan dengan kondisi anak.

Untuk bayi yang mengonsumsi susu formula, ESPGHAN merekomendasikan formula berbasis protein susu sapi yang terhidrolisis secara ekstensif (extensively hydrolyzed formula/eHF) sebagai pilihan pertama dalam banyak kasus. Formula berbasis asam amino biasanya dipertimbangkan pada kasus yang berat atau ketika respons terhadap eHF tidak memadai.

Ini penting karena orangtua sebaiknya tidak asal mengganti susu dengan produk yang diberi label “hypoallergenic” tanpa konsultasi dengan dokter.

Itulah tadi informasi mengenai apakah alergi susu sapi pada anak akan bertahan seumur hidup dan faktanya. Semoga menjadi informasi untuk orangtua yang masih bingung ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article