7 Jenis Alergi yang Bisa Dialami oleh Bayi Dan Cara Mengatasinya

Kenali jenis-jenis alergi pada bayi agar dapat menangani dengan tepat

14 Oktober 2020

7 Jenis Alergi Bisa Dialami oleh Bayi Cara Mengatasinya
Unsplash/Omar Lopez

Alergi merupakan sebuah kondisi yang wajar dialami oleh bayi. Kondisi ini bisa jadi proses penyesuain bagi bayi untuk mengenal apa yang ia makan atau apa yang ada di sekeliling bayi.

Kulit yang masih sensitif dan sistem kekebalan tubuh yang masih lemah, membuat bayi rentan terkena alergi. Saat terjadi alergi, kulit lembut dan mulus bayi akan berubah menjadi ruam, kemerahan, gatal, melepuh, hingga mengelupas.

Bukan hanya itu, bayi juga menjadi lebih rewel dan sering menangis sehingga membuat orangtua merasa khawatir. Oleh sebab itu, kenali jenis-jenis alergi pada bayi agar Mama sebagai orangtua bisa mengambil langkah penanganan yang tepat.

Terdapat beberapa jenis alergi pada bayi yang umumnya terjadi, Popmama.com akan memberikan informasinya untuk Mama.

1. Alergi makanan

1. Alergi makanan
gojek.com

Alergi ini adalah jenis alergi yang paling umum ya, Ma. Bayi mungkin alergi terhadap makanan tertentu. Reaksi alergi bahkan bisa terjadi pada lebih dari satu makanan. ASI atau susu formula dapat menyebabkan alergi pada beberapa bayi.

Selain itu makanan seperti kacang-kacangan, telur, ikan, kerang, kedelai dan gandum juga dapat menyebabkan alergi lho, Ma.

Ada beragam reaksi gejala alergi, seperti batuk, sakit perut, diare, gatal-gatal, muntah, pilek, sesak napas, dan bibir atau lidah bengkak.

2. Alergi dalam ruangan

2. Alergi dalam ruangan
Unsplash/Paul Hanaoka

Mama mungkin merasa bahwa rumah mama adalah tempat yang steril, tetapi bayi juga dapat mengalami reaksi alergi di dalam kamar, lho. Bulu boneka, jamur, hewan kecil (tungau atau serangga), serta hewan kecil yang menempel di bantal, karpet, atau kasur di dalam kamar bisa menjadi sumber yang dapat menyebabkan bayi alergi.

Tak hanya itu, asap rokok dan parfum yang memenuhi ruangan juga dapat menyebabkan bayi alergi lho. Bayi mungkin mengalami gejala alergi seperti pilek, hidung tersumbat, bersin, ruam, dan gatal-gatal.

3. Alergi dingin

3. Alergi dingin
Unsplash/Michal Bar Haim

Salah satu gejala alergi seperti pilek pada bayi bisa disebabkan oleh udara dingin, air pancuran air dingin atau bahkan minum air dingin. Orangtua mungkin khawatir jika bayinya alergi, tetapi biasanya saat kulit menjadi panas, ruam alergi akan hilang dengan sendirinya.

Padahal, alergi bukanlah penyakit yang fatal, melainkan terjadi akibat reaksi abnormal sistem kekebalan tubuh. Pada alergi dingin, respon tubuh mirip dengan jenis reaksi alergi lainnya.

Namun, hal itu bukan disebabkan oleh paparan zat tertentu, melainkan oleh cuaca atau paparan dingin.

Editors' Picks

4. Alergi hewan peliharaan

4. Alergi hewan peliharaan
Pixabay/SarahRichterArt

Salah satu alergi yang dialami bayi bisa disebabkan oleh hewan peliharaannya. Bisa karena bulu, air liur atau air seni binatang. Bulu hewan peliharaan akan menempel di boks dan menyebabkan bayi alergi. Tidak hanya itu, air liur atau urine hewan yang kering juga akan menjadi partikel dan menyebar melalui udara.

Kucing dan anjing seringkali menjadi penyebab dari alergi hewan peliharaan pada bayi. Gejala alergi yang mungkin terjadi, yaitu bersin dan hidung berair.

5. Alergi obat-obatan

5. Alergi obat-obatan
Pharmacymagazine.co.uk

Saat bayi sakit, Mama biasanya memberinya antibiotik agar bisa pulih secepatnya. Namun, antibiotik adalah obat yang paling sering menyebabkan reaksi alergi lho, Ma.

Selain antibiotik, ada obat bebas lain yang juga dapat menyebabkan alergi. Jika bayi menunjukkan reaksi alergi seperti batuk, ruam, gatal-gatal atau bahkan bengkak setelah mengonsumsi obat tertentu, maka bayi berpotensi mengalami alergi obat. Pastikan Mama selalu berkonsultasi ke dokter bila ingin memberikan bayi obat apapun.

6. Alergi susu sapi

6. Alergi susu sapi
Freepik/rawpixel.com

Perlu diketahui bahwa susu formula yang berasal dari susu sapi tidak dapat diberikan kepada semua bayi. Jika bayi mama mengalami alergi susu sapi, reaksi dari yang ringan hingga parah dapat muncul selang beberapa menit atau jam setelah si Kecil mengonsumsi susu sapi atau produk olahan susu sapi.

Termasuk ASI dari ibu yang meminum susu sapi. Alergi susu sapi merupakan salah satu jenis alergi makanan yang paling banyak dialami oleh bayi. Alergi ini biasa disamakan dengan intoleransi laktosa, padahal keduanya merupakan kondisi yang sangat berbeda.

Alergi dapat terjadi ketika sistem imunitas bayi bereaksi terhadap protein yang terdapat dalam susu, sementara intoleransi laktosa terjadi ketika bayi sulit mencerna laktosa (gula alami pada susu).

7. Alergi bahan kimia

7. Alergi bahan kimia
Pixabay/ReadyElements

Popok, sabun, atau deterjen tertentu yang digunakan untuk keperluan bayi dapat membuat mereka mengalami reaksi alergi lho, Ma. Hal ini dapat disebabkan oleh bahan kimia yang terkandung dalam produk tersebut.

Oleh sebab itu, Mama sangat dianjurkan memilih produk yang aman untuk bayi karena kulit mereka yang masih sensitif.

Cara Mengatasi Alergi pada Bayi

Cara Mengatasi Alergi Bayi
Freepik/cookie_studio

Jika si Kecil mengalami alergi, sebaiknya konsultasikan pada dokter agar segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Mengatasi alergi pada bayi umumnya tergantung pada jenis alergi yang dialaminya. Beberapa perawatan yang dapat dilakukan, di antaranya:

  1. Menghilangkan paparan alergi. Mama perlu mengetahui hal yang menyebabkan bayi mengalami alergi. Jika sudah mengetahuinya, misalnya karena bulu kucing, maka Mama harus menjauhkan kucing dari bayi.
  2. Memberi obat antihistamin. Dokter mungkin akan meresepkan obat antihistamin untuk si Kecil agar alerginya segera sembuh. Antihistamin dapat membantu meringankan reaksi alergi. Namun, sebagian besar antihistamin tidak direkomendasikan untuk bayi berusia di bawah 2 tahun.
  3. Mengoleskan krim hidrokortison. Krim ini dapat membantu mengobati reaksi alergi pada kulit bayi. Namun, konsultasikan pada dokter dan selalu baca petunjuk kemasan sebelum penggunaan.
  4. Memberi inhaler. Dokter mungkin akan menyarankan Mama memberi inhaler pada bayi jika bayi mengalami kesulitan bernapas akibat alergi.
  5. Menyuntikkan hormon adrenalin. Ketika bayi mengalami reaksi alergi yang parah (anafilaksis), maka dokter akan meresepkan hormon adrenalin dalam bentuk suntikan yang mudah diberikan melalui kulit bayi. Obat ini dapat mengendalikan gejala anafilaksis.

Jika alergi pada bayi tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka risiko yang parah seperti masalah pernapasan atau terbentuknya jaringan parut di kulit bisa terjadi.

Oleh sebab itu, jika si Kecil mengalami salah satu dari tujuh jenis alergi pada bayi yang disebutkan di atas, Mama harus segera hubungi dokter dan selalu siap siaga dalam menjaga kesehatan bayi mama ya! 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.