Jangan Panik! Ini 4 Hal yang Harus Dilakukan jika Anak Alergi Makanan

Kalau Mama dan Papa alergi, mungkin sekali Si Kecil juga mengalaminya. Ini cara untuk mencegahnya!

28 November 2018

Jangan Panik Ini 4 Hal Harus Dilakukan jika Anak Alergi Makanan
Pixabay/Myriams Fotos

Jika bayi memiliki orangtua atau keluarga dengan riwayat alergi, tentu saja semakin besar kemungkinan ia ikut memiliki alergi pula.

Ya! Benar sekali! Alergi itu erat kaitannya dengan faktor genetik. 

Alergi terjadi pada bayi ketika sistem imunitasnya peka terhadap sesuatu. Kepekaan ini menghasilkan reaksi, dengan memproduksi antibodi. Kepekaan ini bisa timbul pertama kali bayi bertemu dengan sesuatu, atau bahkan setelah kesekian kali.

Reaksi yang ditimbulkan bisa dalam bentuk hidung dan mata berair, sakit kepala, gata-gatal, sesak napas, hingga diare. Bahkan, para peneliti menemukan bukti bahwa alergi juga dapat menyebabkan seseorang menjadi lekas marah karena ia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. 

Jangan Panik Ini 4 Hal Harus Dilakukan jika Anak Alergi Makanan
Pixabay/Annca

Selain alergi terhadap debu atau dingin, makanan yang paling umum memicu alegi adalah telur, susu sapi, kacang, ikan, dan gandum. Jumlah pemicu ini pun bervariasi. Bisa jadi ia sensitif terhadap jumlah yang sedikit, bisa jadi pula ia baru terkena dampak jika terpajan dalam jumlah yang banyak.

Bila bayi mama masih ASI, ia sangat mungkin mengalami alergi sebagai efek dari makanan yang Mama makan sehari-hari. Jika Mama makan makanan tertentu, zat makanan itu akan masuk ke ASI dan kemudian memicu alergi si Kecil. 

Dilansir dari Babycenter, ini saran para dokter bagi bayi yang memiliki sejarah alergi dalam keluarganya:

1. Berikan ASI

1. Berikan ASI
Pixabay/Seeseehundhund

Bayi yang meminum susu formula memiliki risiko lebih tinggi terhadap alergi, dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI. Hal ini bisa terjadi karena susu sapi adalah salah satu pemicu alergi pada bayi.

Tundalah pemberian susu sapi selama mungkin.

Namun, hati-hati, Ma, bisa jadi pula alergi dipicu oleh sesuatu yang dimakan oleh Mama dan diterima oleh bayi dalam ASI. 

2. Tunda makanan padat

2. Tunda makanan padat
Pixabay/Ajale

Kini para dokter berpendapat, semakin lama penundaan bayi untuk berhadapan dengan hal yang bisa menimbulkan alergi, semakin rendah pula kemungkinan reaksinya terhadap pemicu tersebut.

Jadi, mereka menyarankan agar jangan memberikan makanan padat lebih awal daripada  enam bulan. 

Editors' Picks

3. Perkenalkan makanan secara bertahap

3. Perkenalkan makanan secara bertahap
Pixabay/Yalehealth

Jika Mama dan Papa memiliki alergi terhadap makanan, maka beri makanan secara bertahap pada si Kecil. Artinya, Mama harus memberikan satu jenis makanan dalam satu hari penuh, misalnya.

Hal ini penting untuk dilakukan agar Mama tahu persis makanan apa yang membuatnya alergi, daripada bingung menentukan pemicu alergi akibat beragamnya makanan yang diberikan.

4. Berikan makanan dengan risiko pemicu terkecil

4. Berikan makanan risiko pemicu terkecil
Pixabay/Markusspiske

Bubur beras adalah makanan yang paling aman dan direkomendasikan sebagai makanan awal bagi bayi. 

Buah-buahan serta sayuran umumnya memiliki risiko alergi kecil, kecuali tomat.

Bahkan makanan seperti kacang dan cokelat direkomendasikan untuk diberikan pada anak saat usianya melewati tiga tahun.

Jangan Panik Ini 4 Hal Harus Dilakukan jika Anak Alergi Makanan
Pixabay/Meditations

Kabar gembiranya, sebagian besar alergi makanan yang dialami saat bayi, bisa jadi semakin menghilang saat seseorang semakin bertambah usianya.

Namun, alergi pada makanan tertentu seperti kacang dan hasil laut, bisa jadi dialami oleh orang seumur hidupnya.

Baca juga: Mama Perlu Tahu Cara Membedakan Alergi Susu dan Intoleransi Laktosa