4 Makanan Penyebab Alergi pada Bayi serta Gejalanya

Waspadai alergi makanan yang mungkin terjadi pada anak yuk, Ma

26 Juni 2020

4 Makanan Penyebab Alergi Bayi serta Gejalanya
Freepik

Ma, usia enam bulan menjadi waktu awal bagi bayi untuk mulai mengenal makanan selain ASI. Pada usia ini, orangtua sebaiknya mulai memperkenalkan berbagai jenis makanan dalam bentuk MPASI.

Perlu Mama perhatikan juga, tak hanya orang dewasa yang bisa terkena alergi tapi si Kecil pun bisa. Bayi dapat mengalami alergi terhadap makanan apapun. Reaksi alergi bahkan bisa muncul pada lebih dari satu jenis makanan. 

Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama juga akan membantu daya tahan tubuh si Kecil. ASI eksklusif telah terbukti mengurangi kecenderungan alergi pada anak. Mama juga bisa berikan makanan pada si Kecil dari berbagai jenis bahan secara bertahap tanpa pantangan untuk melatih toleransi si Kecil terhadap alergen tertentu.

Susu formula bisa menimbulkan alergi pada sebagian bayi. Selain itu, makanan seperti kacang-kacangan, telur, ikan, kerang, kedelai, dan gandum juga dapat memicu alergi. Meski demikian, Mama harus mengetahui tanda bayi alergi makanan. 

Berikut Popmama.com telah merangkum alergi makanan pada bayi beserta gejala yang akan ditimbulkannya:

1. Telur

1. Telur
Pexels/Pixabay

Meski tinggi akan kandungan protein, vitamin, dan mineral, protein dalam putih telur berpotensi menimbulkan alergi, Ma. Gejala alergi yang timbul akibat konsumsi telur antara lain muntah, diare, dan asma. Reaksi alergi terhadap telur juga bisa timbul pada kulit si Kecil berupa gatal-gatal, kulit memerah, atau bentol/bengkak. Mata berair dan bersin juga bisa jadi gejala alergi terhadap telur.

Apabila salah satu gejala muncul, sebaiknya Mama hentikan dulu penggunaan telur dalam bubur si Kecil.  Konsultasikan ke dokter anak dan cari tahu penyebab yang mungkin dapat memicu alergi makanan pada bayi. Apabila telur bukan penyebab gejala alergi, lanjutkan pemberian telur kepada si Kecil.

Editors' Picks

2. Ikan dan Makanan Laut

2. Ikan Makanan Laut
Pexels/Chait Goli

Ikan laut juga rentan menimbulkan alergi. Gejala paling umum terhadap alergi ikan laut adalah gatal-gatal pada kulit. Selain itu, gejala alergi ikan juga bisa berupa muntah atau diare. Jika si Kecil menunjukkan tanda-tanda alergi ikan laut, Mama bisa ganti protein harian dengan bahan lain. Setelah gejala mereda, Mama bisa memberikan ikan air tawar sebagai alternatif.

Di sisi lain, jika si Kecil alergi terhadap ikan laut tertentu, belum tentu ia juga alergi terhadap makanan laut lainnya, seperti udang. Karena itu, Mama harus teliti saat menyiapkan bahan makanan si Kecil untuk menganalisis apa penyebab alergi pada anak.

3. Kacang-Kacangan

3. Kacang-Kacangan
Pexels/Pixabay

Kacang-kacangan juga dapat menyebabkan alergi pada si Kecil. Gejala paling umum dari alergi kacang adalah rasa gatal di bagian dalam mulut dan kerongkongan. Jika alergi kacang cukup akut maka dapat menimbulkan reaksi cukup fatal, seperti kesulitan bernapas, kerongkongan bengkak, kulit memucat, dan bibir membiru (yang disebut reaksi anafilaksis). Gejala alergi kacang bisa berbeda pada setiap bayi. Karena itu, sebaiknya Mama waspada saat memperkenalkan kacang dalam makanan bayi.

4. Intoleransi Gluten

4. Intoleransi Gluten
Pexels/icon0.com

Gluten adalah protein yang terdapat dalam biji-bijan seperti beras dan gandum. Tapi Ma, intoleransi gluten bukanlah alergi, melainkan sensitif terhadap makanan yang mengandung gluten. Olahan yang mengandung gluten antara lain makanan berbahan tepung seperti mi, roti, dan kue.

Gejala intoleransi gluten pada si Kecil terkadang tidak terlihat langsung atau sangat ringan. Kadang gejalanya hanya ditunjukkan dari tidak bertambahnya berat badan si Kecil tanpa keluhan lainnya. Jika si Kecil mengalami intoleransi terhadap bahan ini, pencernaan bayi akan bereaksi dengan menunjukkan gejala seperti kembung, diare, dan sembelit.

Itulah empat makanan yang paling sering menyebabkan alergi pada si Kecil dan gejala yang ditimbulkannya.

Jika alergi makanan pada bayi tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka risiko yang parah seperti masalah pernapasan atau terbentuknya jaringan parut di kulit bisa terjadi. Oleh sebab itu, Mama harus selalu siap siaga dalam menjaga kesehatan dan pola makan si Kecil. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.