Dampak paling mengejutkan dari pelecehan masa kecil menurut ulasan mendalam dalam jurnal ilmiah Ibrahim dkk. adalah serangan pada level kromosom melalui pemendekan telomere.
Telomere adalah pelindung di ujung setiap untai DNA yang menentukan seberapa sering sel bisa membelah dan seberapa lama sel tersebut hidup sehat, singkatnya, ini adalah indikator usia biologis manusia.
Trauma yang dialami di usia dini secara harfiah "memakan" pelindung ini, membuat sel-sel tubuh penyintas trauma menua jauh lebih cepat dibandingkan usia kronologis aslinya.
"Children who were institutionalized for longer periods had shorter relative telomere length in middle childhood... supporting the hypothesis that CA can impact health outcomes through altering cellular aging (Drury et al., 2012)."
Ini membuktikan secara empiris bahwa dampak dari pelecehan fisik maupun emosional bukan sekadar ingatan buruk yang bisa dilupakan begitu saja, melainkan sebuah bentuk degradasi fisik yang nyata hingga ke tingkat seluler yang memengaruhi kesehatan jangka panjang.
Intinya, Ma, perjuangan Justin untuk menjaga kebugaran fisik dan mentalnya di tengah perubahan biologis permanen ini adalah sebuah prestasi yang sangat inspiratif.
Hal ini menegaskan bahwa menjadi korban bukan hanya soal "move on" secara mental, tapi soal merawat tubuh yang telah mengalami perubahan molekuler akibat sejarah trauma.
Kira-kira menurut Mama, tantangan apa yang paling berat dihadapi orangtua saat mencoba memulihkan kepercayaan diri anak yang pernah mengalami trauma emosional di lingkungan terdekatnya?