Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Perubahan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun, Mulai Masuki Masa Sekolah

7 Perubahan Emosi Anak Usia 6-9 Tahun, Mulai Masuki Masa Sekolah
Pexels/Thirdman
Intinya Sih
  • Anak usia 6–9 tahun mulai memperluas dunia sosialnya, belajar memahami penerimaan kelompok, serta mulai peka terhadap perasaan dan aturan sosial di lingkungan sekolah.

  • Pada fase ini, anak mencari validasi dari teman sebaya namun tetap membutuhkan rasa aman dan dukungan emosional dari orangtua meski terlihat mandiri.

  • Orangtua disarankan mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi dan menjadikan rumah sebagai ruang aman agar anak merasa dimengerti serta siap menghadapi tantangan sosial.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Anak-anak yang mulai memasuki usia sekolah sering kali memperlihatkan perubahan sikap yang cukup signifikan bagi orangtua di rumah. 

Pada fase perkembangan ini, fokus kehidupan sosial mereka mulai meluas keluar dari batas dinding kamar dan mulai bergeser ke area lingkungan sekolah serta interaksi bersama teman sebaya. 

Di balik kemandirian fisik yang mulai mereka tunjukkan sehari-hari, anak-anak sebenarnya sedang memasuki sebuah babak baru yang penuh dengan gejolak emosi dan pertanyaan besar tentang identitas diri mereka. 

Memahami perubahan anak namun mendalam ini menjadi kunci utama bagi orangtua untuk tetap bisa menjadi jangkar yang aman di tengah luasnya dunia luar yang sedang mereka jelajahi dengan penuh rasa ingin tahu.

Berikut Popmama.com rangkum 7 dinamika emosi anak usia sekolah yang mendalam beserta cara tepat untuk mendampinginya!

Table of Content

1. Pergeseran dunia anak dari sekadar bermain ke fase penerimaan

1. Pergeseran dunia anak dari sekadar bermain ke fase penerimaan

Dunia anak usia 6-9 tahun sudah bukan hanya bermain saja
Pexels/RDNE Stock Project

Memasuki fase usia sekolah, anak-anak mulai menyadari bahwa kehidupan luar rumah bukan lagi hanya seputar aktivitas bermain yang menyenangkan semata. 

Pada tahap perkembangan ini, mereka mulai memahami arti penting dari sebuah rasa diterima di dunia sosial, rasa disukai oleh kelompok, serta konsep keadilan di dalam lingkungan pergaulan mereka sehari-hari. 

Anak-anak mulai melihat dunia secara lebih luas dan kompleks, di mana mereka dituntut untuk tidak hanya memikirkan keinginan diri sendiri melainkan juga harus mulai memahami perasaan dan sudut pandang orang lain. 

Kesadaran baru inilah yang membuat mereka menjadi jauh lebih peka terhadap dinamika hubungan sosial serta aturan tidak tertulis yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

2. Muncul pertanyaan kecil mengenai validasi diri

Anak yang beranjak dewasa mulai memperhatikan validasi dari luar
Pexels/Gustavo Fring

Seiring dengan meningkatnya kepedulian terhadap hubungan pertemanan, anak-anak pada usia ini mulai sering memendam pertanyaan-pertanyaan kecil namun mendalam di dalam hati mereka sendiri. 

Pertanyaan seperti apakah dirinya sudah cukup baik di mata orang lain, apakah kehadirannya diterima oleh kelompoknya, serta apakah teman-teman di sekitarnya benar-benar menyukai dirinya sering kali menjadi beban pikiran yang tak terucapkan. 

Perlahan tapi pasti, sumber pembentukan rasa percaya diri anak tidak lagi hanya didominasi oleh pujian atau pelukan hangat yang mereka dapatkan dari keluarga di dalam rumah, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara dunia luar merespons, menerima, dan memperlakukan mereka.

3. Kebutuhan rasa aman dari orangtua di balik sikap mandiri

Anak memerlukan orangtua walau sudah mandiri
Pexels/Anastasia Shuraeva

Meskipun anak-anak pada fase ini sering kali terlihat sudah sangat mandiri dalam beraktivitas, seperti bisa menyiapkan keperluan sekolah sendiri atau asyik dengan dunianya, mereka sebenarnya tetap membutuhkan rasa aman yang besar dari orangtua. 

Mereka mungkin tidak akan selalu datang menghampiri untuk meminta pelukan hangat atau perhatian secara terang-terangan seperti saat mereka masih balita dahulu. 

Namun, anak-anak memiliki kepekaan batin yang sangat tajam dan bisa merasakan dengan jelas saat kehangatan, perhatian, atau kehadiran emosional dari orangtua mereka di rumah mulai terasa berkurang akibat kesibukan urusan pekerjaan sehari-hari.

4. Dampak konflik pertemanan yang bisa terasa sangat membekas

Dampak bertengkar dengan teman pada anak
Pexels/RDNE Stock Project

Pada tahap perkembangan emosi yang masih sangat baru ini, hal-hal kecil yang terjadi di dalam lingkup pertemanan sekolah akan mulai terasa sangat besar bagi dunia anak. 

Momen-momen tidak menyenangkan seperti bertengkar memperebutkan mainan, dijauhi oleh teman sebangku, atau perasaan tidak diajak bermain bersama saat jam istirahat bisa menjadi hal yang sangat membekas di dalam hati mereka. 

Walaupun saat pulang ke rumah mereka terlihat biasa saja atau bersikap ceria seperti tidak terjadi apa-apa, rasa sedih, kecewa, dan terluka itu sering kali mereka simpan dan tanggung sendiri di dalam ruang batinnya karena belum tahu cara mengungkapkannya.

5. Keinginan untuk selalu dimengerti oleh orangtua

Keinginan anak untuk dimengerti orangtua
Pexels/Nicola Barts

Di balik semua luapan emosi yang terkadang naik turun, sikap murung yang tiba-tiba, atau bahkan perilaku menantang yang ditunjukkan, anak-anak sebenarnya hanya ingin merasa dimengerti oleh orangtuanya. 

Mereka membutuhkan keyakinan yang kuat di dalam hatinya bahwa mereka akan tetap dicintai, dihargai, dan disayangi secara utuh, bahkan di saat-saat tersulit ketika mereka sedang merasa gagal atau ditolak di dunia luar. 

Cinta tanpa syarat dari orangtua menjadi bahan bakar utama yang menjaga kesehatan mental anak tetap stabil, sehingga mereka tidak perlu mencari validasi yang keliru di luar rumah secara berlebihan demi mendapatkan pengakuan.

6. Pentingnya mendengarkan cerita dan memvalidasi perasaan anak

Mendengarkan cerita anak dan memvalidasi perasaan anak
Pexels/PNW Production

Langkah paling bijak yang bisa Mama lakukan di rumah adalah dengan selalu meluangkan waktu khusus untuk mendengarkan setiap keluh kesah dan cerita harian anak dengan penuh perhatian. 

Hindari kebiasaan menyepelekan atau menganggap remeh perasaan sedih anak, seperti mengeluarkan kalimat yang membanding-bandingkan atau menganggap konflik pertemanan mereka sebagai urusan sepele yang akan hilang sendiri seiring berjalannya waktu. 

Validasilah setiap emosi yang mereka rasakan dengan cara mendengarkan tanpa menghakimi terlebih dahulu, agar anak merasa bahwa emosi yang sedang berkecamuk di dalam dadanya adalah hal yang nyata dan berharga untuk didengarkan.

7. Menjadikan rumah sebagai safe space anak

Menciptakan safe space untuk anak di rumah
Pexels/Anna Shvets

Tantangan di luar rumah bisa terasa sangat melelahkan bagi anak yang baru belajar beradaptasi, sehingga peran rumah sebagai tempat berlindung menjadi sangat krusial. 

Orangtua harus memastikan bahwa lingkungan rumah selalu menjadi zona nyaman yang bebas dari tekanan, di mana anak tahu mereka bisa melepaskan seluruh topeng kemandirian mereka dan menjadi diri sendiri. 

Ketika anak merasa aman berada di dekat orangtuanya, mereka tidak akan ragu untuk berbagi rahasia, menceritakan kegagalan, atau menangis saat terluka. 

Rasa aman di dalam rumah inilah yang nantinya akan membekali anak dengan ketangguhan mental untuk kembali menghadapi dunia luar esok hari.

Mendampingi anak yang sedang mulai tumbuh besar dan melebarkan sayapnya di dunia pertemanan memang membutuhkan tingkat kesabaran dan kepekaan yang ekstra. 

Apakah Mama belakangan ini sering memperhatikan perubahan sikap anak saat menceritakan kisah hubungan pertemanan dengan teman-teman di sekolahnya?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More