Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

5 Cara Edukasi Seks untuk Anak di Bawah Usia 10 Tahun

5 min read
5 Cara Edukasi Seks untuk Anak di Bawah Usia 10 Tahun
Pexels/cottonbro studio
  • Edukasi seks untuk anak di bawah 10 tahun dimulai dari pengenalan tubuh dan keamanan diri, bukan pembahasan hubungan seksual, dengan bahasa sederhana serta bertahap.

  • Orangtua disarankan menyebut nama anatomi yang benar, mengenalkan area privat, dan mengajarkan batasan sentuhan agar anak berani berkata tidak saat merasa tidak nyaman.

  • Anak perlu diyakinkan untuk menceritakan pengalaman yang membuat takut atau bingung kepada orang dewasa tepercaya; komunikasi terbuka harus dijaga tanpa menyalahkan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Membicarakan edukasi seks dengan anak mungkin masih terasa canggung bagi sebagian orangtua. Padahal, edukasi seks tidak selalu berarti membahas hubungan seksual dengan anak.

Bagi anak di bawah 10 tahun, edukasi seks dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang berkaitan dengan tubuh dan keamanan diri.

Anak bisa diajarkan untuk mengenali anggota tubuhnya, memahami bagian tubuh yang bersifat privat, mengetahui batasan sentuhan, hingga berani bercerita ketika mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Pembelajaran tersebut juga tidak harus dilakukan dalam satu percakapan panjang. Mama dan Papa bisa mengenalkannya secara bertahap melalui obrolan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami anak.

Lantas, bagaimana cara memberikan edukasi seks kepada anak di bawah 10 tahun? Berikut Popmama.com telah merangkum 5 cara edukasi seks untuk anak di bawah 10 tahun. Yuk, simak caranya!

  1. 1. Mulai dengan menyebut nama anggota tubuh yang sebenarnya

    Ajarkan dengan anak nama bagian tubuh dengan kata sebenarnya
    Pexels/cottonbro studio

    Edukasi seks dapat dimulai dengan mengajarkan anak nama yang benar dari seluruh anggota tubuhnya, termasuk bagian tubuh yang bersifat privat.

    Gunakan istilah yang jelas dan faktual, seperti:

    • penis,
    • vulva,
    • payudara,
    • anus,
    • vagina.

    Mama tidak perlu merasa malu atau mengganti nama bagian tubuh tersebut dengan istilah lucu atau samaran.

    Jelaskan kepada anak bahwa bagian-bagian tersebut merupakan anggota tubuh yang normal dan setiap orang memilikinya. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa tidak ada yang perlu dirasa memalukan ketika membicarakan tubuhnya.

    Mengetahui nama anggota tubuh yang tepat juga dapat membantu anak berkomunikasi dengan lebih jelas. Jika suatu saat mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, anak dapat menyebutkan bagian tubuh yang dimaksud ketika meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.

  2. 2. Ajarkan anak tentang area privasi dan batasan dalam pergaulan

    Kenalkan apa saja area privasi tubuh dan batas sentuhan dalam pergaulan
    Pexels/Markus Spiske

    Selanjutnya, Mama dapat mengenalkan konsep area privasi kepada anak dengan bahasa yang sederhana.

    Jelaskan bahwa bagian tubuh yang biasanya tertutup pakaian dalam merupakan area pribadi yang perlu dihormati. Namun, penting untuk menekankan bahwa privasi bukan berarti bagian tubuh tersebut kotor atau memalukan.

    Privasi berarti tubuh merupakan milik masing-masing orang sehingga ada batasan yang perlu dihormati. Anak juga perlu memahami bahwa batasan tersebut berlaku dalam pergaulan sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi dengan teman lawan jenis.

    Mama dapat mengajarkan anak untuk menjaga batasan dalam bermain, seperti tidak menyentuh bagian tubuh pribadi teman, tidak meminta teman menunjukkan area privat, serta menghargai ketika teman mengatakan tidak atau ingin menjaga jarak.

    Anak juga perlu tahu bahwa ia berhak mengatakan

    “stop”,

    “aku nggak suka begitu”,

    “jangan sentuh”, atau

    “tolong” ketika merasa tidak nyaman.

    Ajarkan bahwa mereka boleh bersikap tegas kepada siapa saja, termasuk teman sebaya maupun orang dewasa.

  3. 3. Bantu anak mengenali perasaannya saat disentuh

    Ajarkan anak untuk merespons jika tubuhnya mendapatkan sentuhan
    Pexels/Ketut Subiyanto

    Anak juga perlu belajar mengenali perasaan dan respons tubuhnya ketika mendapatkan sentuhan dari orang lain.

    Mama dapat mengajak anak membedakan apakah sebuah sentuhan membuatnya merasa nyaman, aman, tidak nyaman, takut, bingung, atau ingin menjauh. Tidak perlu membuat pembahasannya rumit, cukup gunakan pertanyaan sederhana seperti:

    “Kamu nyaman nggak kalau disentuh seperti itu?”

    Ajarkan bahwa anak tidak perlu mengabaikan perasaannya ketika sebuah sentuhan membuatnya tidak nyaman. Mereka boleh menjauh, mengatakan tidak, dan mencari bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya.

    Mama juga perlu mengingatkan anak untuk waspada jika ada seseorang yang meminta mereka merahasiakan sebuah sentuhan. Anak tetap boleh menceritakannya kepada Mama atau Papa, meskipun sebelumnya diminta untuk merahasiakannya.

  4. 4. Yakinkan anak bahwa tidak apa-apa untuk bercerita

    Ajak anak untuk bercerita kepada orangtua
    Pexels/Ketut Subiyanto

    Edukasi seks juga perlu disertai dengan keyakinan bahwa anak selalu boleh bercerita kepada orangtuanya.

    Beritahu si Kecil bahwa mereka dapat menceritakan pengalaman apa pun yang membuatnya bingung, tidak nyaman, takut, atau khawatir. Termasuk ketika ada seseorang yang mengatakan agar hal tersebut dirahasiakan.

    Mama dapat berulang kali mengingatkan bahwa tidak ada yang salah dengan meminta bantuan. Anak juga perlu mengetahui siapa saja orang dewasa yang dapat dipercaya dan dihubungi ketika membutuhkan pertolongan.

    Kalimat sederhana seperti:

    “Kalau ada sesuatu yang bikin kamu takut atau nggak nyaman, kamu boleh cerita ke Mama,” dapat membantu membangun rasa aman bagi anak.

    Dengan komunikasi seperti ini, anak diharapkan tidak merasa harus menyimpan sendiri pengalaman yang membuatnya tidak nyaman.

  5. 5. Jaga komunikasi tetap terbuka dengan anak

    Jaga komunikasi dengan anak agar ia terbuka untuk bercerita
    Pexels/Gustavo Fring

    Edukasi seks bukanlah percakapan yang harus selesai dalam satu kali pembahasan. Seiring bertambahnya usia, anak akan memiliki pertanyaan dan pengalaman baru yang bisa menjadi kesempatan untuk melanjutkan edukasi tersebut.

    Mama dapat membangun kebiasaan mengobrol santai dengan si Kecil agar ia terbiasa membicarakan berbagai hal dengan orangtuanya. Ketika anak mulai bercerita, usahakan untuk tetap tenang dan dengarkan sampai selesai.

    Hindari langsung memarahi atau menyalahkan anak ketika ia menceritakan sesuatu yang membuat Mama khawatir. Sebaliknya, ucapkan terima kasih karena anak sudah mau jujur dan berani bercerita.

    Yakinkan juga bahwa apa pun yang terjadi, kejadian tersebut bukan salah mereka. Dengan komunikasi yang terbuka dan penuh rasa aman, anak dapat mengetahui bahwa Mama dan Papa merupakan tempat yang bisa mereka datangi ketika membutuhkan bantuan.

    Itulah 5 cara edukasi seks untuk anak di bawah 10 tahun. Edukasi seks sejak dini bukan berarti mengajarkan hal-hal yang belum sesuai dengan usia anak.

    Melainkan membantu anak mengenal tubuh, memahami batasan, serta mengetahui cara mencari pertolongan ketika merasa tidak aman.

    Semoga Mama dan Papa bisa menjadikan pembicaraan tentang tubuh dan keamanan diri sebagai obrolan yang nyaman bersama anak, ya Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More