Yuk Kunjungi! 6 Daftar Tempat Wisata Bersejarah di Jakarta

Mengisi waktu luang bersama anak sekaligus mengedukasi

9 Agustus 2020

Yuk Kunjungi 6 Daftar Tempat Wisata Bersejarah Jakarta
Freepik/bearfotos

Mengisi waktu luang bersama anak dengan wisata sejarah, juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk berlibur yang mengedukasi. Apalagi jika edukasi yang membawa anak makin mengetahui bagaimana sejarah perjuangan bangsa Indonesia di masa lampau.

Sebagai ibu kota Indonesia, Jakarta memiliki sangat banyak tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan. 

Sejumlaht tempat wisatanya bahkan juga menjadi saksi sejarah pahlawan Indonesia.

Penasaran ada tempat wisata apa saja?

Nah kali ini Popmama.com akan membahas 6  daftar tempat wisata bersejarah di Jakarta yang wajib anak kunjungi. Yuk, simak di bawah ini!

1. Monas (Monumen Nasional)

1. Monas (Monumen Nasional)
Kbr.id

Monumen Nasional (Monas) terletak di Jakarta Pusat, merupakan sebuah tugu yang dibangun pada 17 Agustus 1961 hingga 12 Juli 1975. Presiden pertama Indonesia, Soekarno selaku ketua juri sayembara desain Monas, menunjuk arsitek Soedarsono dan F. Silaban untuk membuat rencana gagasan Tugu Monas.

Pembangunan Monas terletak di tengah lapangan Merdeka, yang di salah satu tempatnya terdapat lapangan Ikada. Lapangan Ikada pernah dipakai oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai tempat rapat raksasa untuk menghimpun kekuatan rakyat mengusir penjajah.

Di kawasan Monas, terdapat berbagai tempat yang dapat anak kunjungi. Untuk masuk ke pelataran puncak, ruang museum, dan ruang kemerdekaan, perlu membayar Rp 5.000 untuk orang dewasa, Rp 3.000 untuk mahasiswa, dan Rp 2.000 untuk anak dan pelajar.

Sedangkan untuk ke puncak Monas, harganya Rp 15.000 untuk dewasa, Rp 8.000 untuk mahasiswa, dan Rp 4.000 untuk anak atau pelajar. Monas buka setiap hari Selasa-Minggu. Pada hari Senin ditutup untuk dilakukan pemeliharaan.

2. Monumen Pembebasan Irian Jaya

2. Monumen Pembebasan Irian Jaya
Id.wikipedia.org

Selain Monas, Soekarno juga mencetuskan pembangunan Monumen Pembebasan Irian Jaya di Jakarta Pusat. Monumen ini dibangun untuk mengenang para pejuang Trikora dan masyarakat Irian barat yang memilih menjadi bagian dari NKRI.

Setelah lepas dari pertahanan Belanda sejak Konferensi Meja Bundar, Belanda mengulur waktu sampai Soekarno membentuk Komando Trikora.

Kata Irian sendiri merupakan singkatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland. Patung tersebut secara resmi diperingati pada tanggal 17 Agustus 1963, pada hari kemerdekaan ke-18 negara dan setahun setelah mulai dibangun.

Revitalisasi monumen ini terakhir dilakukan pada masa kepempimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, dengan menambah kolam air mancur, jalur pejalan kaki, dan jalur jogging yang diarsiteki oleh Yopi Anwar, yang kemudian pada 2018 diresmikan oleh Gubernur Anies Baswedan.

Editors' Picks

3. Tugu Proklamasi

3. Tugu Proklamasi
Id.wikipedia.org

Tugu Proklamasi terletak di kompleks Taman Proklamasi yang terletak di tanah bekas kediaman Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur no.56 yang kini telah berubah nama menjadi Jl. Proklamasi 56.

Tugu ini, dibangun atas dasar keinginan Kaum Wanita Republiken (PPI) dan Wanita Indonesia (WANI). Kedua kelompok tersebut ingin mendirikan sebuah monumen peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun 1960, tugu tersebut sempat dibongkar dan dibangun lagi oleh Gubernur Ali Sadikin pada 17 Juli 1972.

4, Monumen Pancasila Sakti

4, Monumen Pancasila Sakti
Sejarahlengkap.com

Monumen Pancasila Sakti yang terletak di Jakarta Timur, merupakan tempat yang dibangun untuk mengenang peristiwa Gerakan 30 September.

Pada peristiwa 30 September, terdapat tujuh pahlawan revolusi yang gugur setelah diculik dan dibunuh, yaitu, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal S. Parman, Jenderal Supraptro, Jenderan Sutoyo, Jenderal MT Haryono, Jenderal Panjaitan, dan Kapten P. Tendean.

Sosok mereka pun juga diabadikan dalam bentuk patung yang terletak di Monumen Pancasila Sakti. Di dalamnya, juga terdapat sejumlah diorama peristiwa terkait gerakan 30 September. Selain itu, juga terdapat pula museum yang berisi barang-barang peninggalan para pahlawan revolusi.

Untuk masuk perlu membayar tiket sebesar Rp 4.000 untuk orang dewasa, dan Rp 2.500 untuk anak-anak dan mahasiswa. Perlu diingat kalau monumen ini tutup tiap hari Senin ya!

5. Museum Fatahillah

5. Museum Fatahillah
Id.wikipedia.org

Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta adalah bangunan yang dibangun pada 1626. Museum seluas 1.300 meter persegi ini, memiliki sejumlah objek perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan Pajajaran, hingga keramik dan batu prasasti.

Pada era kepempimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoom (JP) Coen, bangunan ini difungsikan sebagai Balai Kota Jakarta. Kemudian, pada 1925-1942 gedung sempat dimanfaatkan sebagai kantor pemerintahan provinsi Jawa Barat.

Setelah itu pada 1942-1945 dipakai untuk pengumpulan logistik Dai Nipon. Hingga pada akhirnya tanggal 30 Maret 1974, diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta setelah diserahkan pada Pemda DKI Jakarta.

Pada kawasan ini, juga terdapat penyewaan sepeda ontel, penjualan aneka makanan khas Jakarta, dan tempat-tempat foto karena bangunannya yang masih klasik.

6. Galangan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC)

6. Galangan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC)
Id.wikipedia.org

Pusat Kebudayaan Tionghoa Galangan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) di Jakarta Utara, adalah salah satu tempat yang mengingatkan sejarah tragedi Mei 1998.

Bangunan ini didirikan pada 1628 sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan Hindia Belanda, VOC. Tempat ini juga dulunya dijadikan sebagai ‘bengkel’ untuk merawat kapal-kapal besar.

Kini di tempat tersebut juga terdapat restoran yang bernama Galangan VOC Resto & Café yang menyajikan makanan khas Indonesia dan Tionghoa.

Nah diatas merupakan 6 rekomendasi tempat wisata bersejarah di Jakarta, mana tempat wisata yang ingin Mama dan anak kunjungi?

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.